Efesus 4: 17-32
Kita sering berkata saya
mengenal Tuhan, dan Tuhan sangat mengasihi saya. Pertanyaannya apakah Tuhan
juga mengenal kita..? apakah Tuhan benar-benar mengenal saudara dan saya..?
jangan-jangan Tuhan tidak mengenal kita. Kita bisa berkata saya mengenal Tuhan tapi
apakah Tuan mengenal kita. Matius 7 : 21-22, “Tuhan, Tuhan bukankah kami
bernubuat demi nama-Mu dan mengusir setan demi nama-Mu dan mengadakan banyak
mujizat demi nama-Mu”, perhatikan saudara ini adalah orang-orang yang sudah melayani.
Tetapi apa jawab Tuhan “Aku tidak mengenal kamu, enyahlah dari pada-Ku , kamu
sekalian pembuat kejahatan. Inilah pentingnya memiliki karakter yag berubah
supaya jangan Tuhan sendiri yang pada akhirnya menolak kita.
Tema utama surat Paulus kepada jemaat di Efesus ini
adalah Kristus dengan Gereja .
Ayat 17
Disini
Paulus menasihatkan Jemaat di Efesus supaya mereka tidak lagi hidup seperti
orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia. Paulus
berkata “sebab itu kukatakan dan kutegaskan”, kata “kukatakan dan kutegaskan”
yang diucapkan oleh Paulus ini mengandung tiga
unsur, yaitu : Paulus memprotes, menasihati,
sekaligus menghimbau jemaat di Efesus supaya mereka jangan hidup seperti
orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia. Nah,
bagaimana hidup jemaat di Efesus pada saat itu, sehingga Paulus berkata jangan
hidup seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah? Kalau kita perhatikan di ayat
31 “segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian, dan fitnah hendaklah
dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan”. Ternyata segala hal
inilah yang dilakukan jemaat di Efesus pada waktu itu, mereka hidup dalam
kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian (perpecahan), fitnah dan masih
banyak lagi dosa yang mereka lakukan, karena itu Paulus dengan tegas mengatakan
“jangan hidup lagi sama seperti orang orang yang tidak mengenal Allah dengan
pikiran yang sia-sia”.
Kata “sia-sia” menggunakan kata evn mataio,thti (en mataioteti) kata en adalah kata depan artinya
“dalam, di dalam”. Sedangkan mataio,thti (mataioteti)
kata
benda dative feminim tunggal dari kata mataio,thj (mataiotes) artinya ”kekosongan, kehampaan”. Maka
kata evn mataio,thti
(en mataioteti) artinya “dalam
kekosongan”, selain itu terdapat sebuah kata sebelum kata evn mataio,thti (en mataioteti) yaitu kata peripatei/ (peripatei) merupakan kata kerja indicative (penunjuk) present aktif
orang ketiga tunggal dari akar kata peripate,w (peripateo) artinya “jalan”. Tetapi karena kata peripatei/ (peripatei) adalah kata kerja present aktif orang ketiga tunggal (dia) maka artinya adalah “dia terus berjalan”.
Maka peripatei/ evn mataio,thti (peripatei en mataioteti) memiliki arti “dia terus berjalan dalam kekosongan”.
Jadi orang yang hidupnya sia-sia yakni
orang-orang yang tidak mengenal Allah adalah orang-orang yang terus berjalan di
dalam pikiran-pikirannya yang kosong yakni dalam pikirannya selalu memikirkan
dosa . Disini Paulus memprotes cara hidup jemaat di Efesus, yang hidup dalam
dosa.
Bagaimana
dengan kita yang hidup sekarang apa masih ada dari kita yang hidup seperti
orang-orang yang tidak mengenal Allah, apakah kita masih hidup dengan menyimpan
kemarahan, kebencian, bahkan bertengkar dengan sesama anggota tubuh Kristus,
maka kita adalah orang-orang yang masih hidup sama seperti orang-orang yang
tidak mengenal Allah. Kalau kita masih hidup dengan cara hidup orang-orang yang
tidak mengenal Allah yakni dalam kebencian diantara kita, maka kita hidup
dengan pikiran yang sia-sia dan akan melakukan hal-hal yang sia-sia yang tidak
memiliki manfaatnya sedikitpun bagi diri kita sendiri apa lagi bagi orang lain.
Pada akhirnya apapun yang kita lakukan untuk pekerjaan Tuhan akan sia-sia
karena hidup kita yang tidak mencerminkan Kristus yang ada di dalam kita.
Ayat 18
Di ayat ke 18 di katakan ”dan
pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah”. Berarti
orang-orang yang terus berjalan dalam pikiran yang kosong adalah orang-orang
yang tidak memiliki pengertian, yaitu pengertian tentang Allah (II Kor
4:4)orang-orang yang tidak berpengertian adalah orang-orang yang tidak percaya,
yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini. Apa itu ilah zaman? ilah
zaman adalah apapun dari dunia yang kita pentingkan lebih dari pada Tuhan, yang
membuat kita jauh dari hidup persekutuan dengan Allah.
Kata
“persekutuan” di dalam teks aslinya memakai kata zwh/j (zoes) kata benda genitive feminine tunggal dari kata zwh, (zoe) artinya ”hidup”. Kata zwh/j (zoes) memiliki arti “hidup”
dimana hidup yang dimaksud oleh Paulus adalah “hidup baru”, “hidup baru” bukan
hanya berbicara ketika seseorang menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan
Juruselamatnya, tetapi juga mengandung arti bahwa ia tidak lagi hidup menurut
cara hidupnya yang lama tetapi hidup sebagai manusia yang baru.
Jadi, yang menyebabkan mereka yaitu jemaat di Efesus ini
hidup seperti orang yang tidak mengenal Allah yang pertama karena mereka tidak hidup dalam persekutuan dengan Allah
yaitu hidup sebagai manusia yang baru”. Ini berarti persekutuan dengan Allah
itu harus menjadi gaya
hidup bagi orang percaya inilah yang disebut dengan hidup sebagai manusia baru.
Kenapa mereka tidak hidup sebagai
manusia yang baru? Alkitab dengan jelas menegaskan bahwa karena kebodohan dan
kedegilan hati merekalah yang menjadikan mereka hidup seperti orang-orang yang
tidak mengenal Allah.
Saudara sudahkah kita
menjadikan persekutuan pribadi kita dengan Allah sebagai gaya hidup kita. Jangan-jangan selama ini
kita melakukan pelayanan ke banyak tempat tetapi persekutuan pribadi kita
dengan Tuhan itu tidak ada, kalau dengan demikian apa bedanya kita dengan orang-orang
yang tidak mengenal Allah. Mereka juga
memberitakan apa yang mereka percayai. Atau jangan-jangan selama ini
kita sibuk dengan banyaknya keinginan-keinginan yang ingin kita capai dalam
dunia, kita sibuk dengan hal-hal yang ditawarkan dunia, atau mungkin kita sibuk
dengan sakit hati kita dengan sesama, kita sibuk dengan perasaan kita sendiri,
sehingga kita tidak lagi memiliki persekutuan dengan Allah. Saudara memiliki persekutuan
pribadi dengan Allah ini sangat penting itulah sebabnya persekutuan dengan
Allah itu harus menjadi gaya
hidup orang yang percaya. Jangan karena kebodohan dan kedegilan hati kita kita
memilih hidup seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah. Hidup sebagai
orang-orang yang mengenal Allah atau hidup sebagai orang-orang yang tidak
mengenal Allah adalah sebuah pilihan. Jadi kitalah memilih mengikut Tuhan atau
mengikuti dunia. Jika kita memilih untuk tetap mengikuti dunia dengan cara
hidupnya, maka kita adalah orang-orang yang degil yang walaupun telah ditegur
oleh firman Tuhan berulangkali tetap tidak mau mendengarkan.
Karena itu diayat
selanjutnya dikatakan
Ayat 19 “perasaan mereka telah tumpul”
Kata ”tumpul” dalam teks aslinya memakai kata avphlghko,tej (apelgekotes) merupakan kata kerja particip perfek aktif nominatif
maskulin jamak dari kata avpalge,w (apalgeo) artinya ”perasaan mati”,
karena kata avphlghko,tej (apelgekotes) adalah perfek (telah) aktif maskulin jamak maka
artinya ”perasaan-perasaan telah mati”
Jadi oleh karena kebodohan dan kedegilan hati merekalah perasaan-perasaan
mereka mati sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu. Kata
”menyerahkan” disini mengandung arti adanya unsur kesengajaan oleh jemaat di
Efesus ini untuk menceburkan diri kedalam dosa, jadi walaupun mereka sudah
mengetahui kebenaran dan bahwa segala dosa apapun itu tidak dapat dibenarkan,
tetapi mereka dengan sengaja melakukan dosa, ”dan mengerjakan dengan serakah
segala macam kecemaran”, jadi mereka bukan hanya dengan sengaja menceburkan
diri dalam dosa tetapi mereka bahkan mengerjakan dengan serakah, ini berarti
bahwa mereka menikmati setiap kali mereka melakukan dosa.
Jadi saudara jangan kita
menjadi orang yang degil yang tidak mau mendengar teguran dan yang oleh karena kebodohan
kita sendiri pada akhirnya perasaan-perasaan kita manjadi mati. Apa yang
dimaksud dengan ”perasaan-perasaan yang mati” yaitu ketika kita melakukan dosa,
ketika kita pertama kali melakukan dosa kita akan akan merasa tidak tenang atau
gelisah tetapi ketika kita semakin sering melakukan dosa tersebut perasaan
gelisah itu akan semakin berkurang bahkan bisa jadi kita akan menganggap biasa
untuk melakukan dosa, karena kita sudah biasa melakukannya. Itulah yang
dimaksudkan Paulus dengan perasaan-perasaan yang telah mati yaitu karena kita
sudah biasa melakukan dosa sehingga sewaktu di tegur kita akan merasa
biasa-biasa saja, kita akan merasa tidak ada yang salah, karena kita sudah
hidup di dalam dosa . Jadi karena sudah biasa melakukan dosa pada akhirnya
secara sadar atau tidak sadar kita akan menyerahkan diri untuk selalu melakukan
dosa. Dan walaupun kita mengetahui kebenaran tetapi karena kita sudah biasa
melakukan dosa maka kebenaran itu tidak akan dipedulikan lagi. Kita sering berkata tidak apa-apa kita
melakukan dosa, nanti baru minta pengampunan, bukankah Allah itu maha pengasih,
maha penyayang, yang mengampuni orang yang bersalah, Galatia 6:7 ”jangan sesat
Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan, apa yang ditabur orang itu juga
yang dituainya”. Jadi kalau kita menabur dosa maka kita akan menuai maut sebab
upah dosa ialah maut.
Ayat 20-22.
Tetapi di ayat 20-21 Paulus kembali menasihatkan jemaat di Efesus bahwa
mereka telah belajar mengenal Kristus, mendengar tentang Dia dan menerima
pengajaran didalam Dia, Paulus ingin menekankan bahwa mereka yang telah belajar
mengenal Kristus seharusnya sudah tertanam di dalam pengajaran akan Yesus
Kristus yaitu bahwa mereka harus meninggalkan hidup mereka yang lama, yang
penuh dengan hawa nafsu yang menyesatkan.
Kata ”nafsu” memakai
kata evpiqumi,aj (epithumias) kata benda akusatif (objek) feminim jamak dari akar kata evpiqumi,av (epithumia) artinya ”hasrat atau
keinginan”. Tetapi karena kata evpiqumi,aj
(epithumias)
adalah
kata benda jamak maka artinya adalah ”keinginan-keinginan”.
Ini berarti bahwa mereka hidup sama seperti orang yang tidak mengenal Allah
adalah keinginan atau pilihan dari jemaat di Efesus, mereka memilih untuk hidup
sama dengan orang-orang yang tidak mengenal Tuhan yaitu didalam dosa, mereka
memiliki hasrat untuk melakukan dosa. karena itu Paulus dalam ayat-ayat sebelumnya
menasihatkan jemaat ini agar mereka tidak hidup sama seperti dengan orang-orang
yang tidak mengenal Allah, yaitu hidup di dalam dosa dengan mengucapkan
kata-kata kotor seperti yang dikatakan dalam ayat 29 atau hidup dalam kepahitan,
kegeraman, kemarahan seperti yang kita baca dalam ayat 31.
Demikian juga dengan kita
yang sudah belajar mengenal Kristus dan menerima pengajaran tentang Dia,
pertanyaannya sudahkah kita tertanam dalam pengajaran tentang Kristus? Sudahkah
kita meninggalkan cara hidup kita yang lama yang penuh dengan
keinginan-keinginan untuk melakukan dosa atau kita malah memilih untuk
melakukan dosa dan hidup seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah.
Saudara, banyak dari kita yang sebenarnya sampai sekarang memilih untuk hidup
didalam dosa. Kita memilih untuk tetap mengeluarkan kata-kata kotor, kita
memilih untuk tetap hidup dalam kepahitan, bahkan kita memilih untuk tidak
menanggalkan manusia lama kita. Karena itu sebagai orang-orang yang sudah
tertanam dalam pengajaran tentang Kristus marilah kita meninggalkan kehidupan
lama kita dan mengenakan manusia baru.
Ayat 23-25.
Dalam ayat ini Paulus dengan tegas menyatakan alasannya mengapa ia menasihati
jemaat di Efesus ini adalah ”supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu”.
Kata ”dibaharui” menggunakan
kata avnaneou/sqai (ananeousthai) kata kerja
infinitive present pasif dari akar kata avnaneo,omai
(ananeoomai) artinya ”memperbaharui”,
tetapi karena kata avnaneou/sqai (ananeousthai) adalah
kata kerja present pasif maka artinya ”terus-menerus diperbaharui”.
”di dalam roh” menggunakan
kata pneu,mati (pneumati) kata benda dative neuter tunggal yang memiliki arti
”jiwa”. Jadi jiwa harus diperbaharui terus-menerus.
Inilah penyebab yang kedua
Mengapa jemaat di Efesus ini tidak hidup seperti orang-orang yang tidak
mengenal Allah yaitu bahwa jiwa mereka tidak diperbaharui, jadi agar jemaat di
Efesus ini tidak lagi hidup sama seperti dengan orang-orang yang tidak mengenal
Allah maka Paulus dengan tegas mengatakan jiwa mereka yakni pikiran mereka
harus terus-menerus diperbaharui, ini berarti bahwa jemaat di efesus ini selalu
memikirkan tentang dosa dan mengerjakannya. Karena itu jiwa mereka harus
diperbaharui. yaitu supaya mereka mengenakan manusia baru, berbicara mengenai
manusia baru berarti berbicara mengenai karakter, tindakan, dan pikiran Kristus.
Jadi manusia yang baru yaitu manusia yang hidupnya mencerminkan bahwa ia
mengenal Allah berarti manusia yang memiliki karakter Kristus, tindakan
Kristus, dan pikiran Kristus. Karena itu Paulus berkata ”buanglah dusta dan
berkatalah benar seorang kepada yang lain” karena didalam Kristus tidak ada
dusta. Iblislah yang menjadi bapa segala pendusta.
Nasihat Paulus ini juga
berlaku bagi kita semua orang-orang percaya pada zaman ini. Agar jiwa kita
senantiasa diperbaharui kita hurus hidup dalam persekutuan dengan Allah. Tanpa
persekutuan dengan Allah jiwa kita tidak akan pernah diperbaharui, yang terutama
yaitu pikiran kita, karena dalam tempat pertama yang diserang iblis adalah
pikiran kita, ia meneror kita dengan berbagai-bagai hala yang ditawarkan oleh
dunia, ia meneror kita dengan sakit hati, kebencian, jika sudah demikian maka
kita pasti akan mengeluarkan kata-kata kotor, karena itulah jiwa kita harus
senantiasa diperbaharui, supaya karakter, tindakan, dan pikiran Kristus yaitu
manusia baru.
Ayat 26-28.
”Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa”, jadi bukan
berarti tidak boleh marah, tetapi jangan sampai kita marah dan berbuat dosa. Selanjutnya
dikatakan ”jangan matahari terbenam sebelum padam amarahmu” kenapa Paulus
berkata demikian? Inilah yang menjadi akar permasalahan dari jemaat di Efesus,
kenapa mereka tidak hidup seperti orang-orang yang mengenal Allah yaitu ketika
mereka atau salah seorang dari mereka marah, maka kemarahannya itu akan
berlarut-larut, ia akan terus menyimpan kemarahannya itu, sehingga lambat laun dalam
kemarahannya ia menjadi geram, ketika ia marah sampai geram, maka akan
timbullah kepahitan, ketika kepahitan itu
ada maka pastilah akan terjadi pertikaian bahkan akan ada fitnah. Seperti yang
dijelaskan dalam ayat 31. karena itulah Paulus menasihatkan jemaat di Efesus
ini agar mereka jangan marah sampai matahari terbenam. Karena yang dengan
demikian akan memberi kesempatan pada iblis, untuk membawa mereka kembali
kepada kehidupan yang lama seperti yang dikatakan dalam ayat 28 ”orang yang
mencuri janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan
melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri” disini Paulus memberikan
suatu peringatan bagi jemaat di Efesus agar mereka tidak lagi kembali pada
kehidupannya yang lama, tetapi melakukan segala pekerjaan baik dengan tangannya
sendiri supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang lain. Jadi penyebab ketiga mengapa jemaat di Efesus ini
hidup sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah yaitu bahwa mereka
memberikan kesempatan kepada iblis untuk kembali membawa mereka kepada hidup
yang lama.
Jadi saudara bukan berarti
kita tidak boleh marah, Tuhan Yesus sendiri sewaktu masuk Yerusalem dan melihat
banyak orang yang berjualan di halaman bait Allah. Tetapi janganlah kita marah
sampai pada akhirnya kita melakukan dosa yaitu dengan menyimpan kemarahan kita
sampai berlarut-larut yang lama kelamaan akan berubah menjadi kebencian,
sehingga kita bertengkar antara satu dengan yang lain, bahkan akan saling
memfitnah antara sesama tubuh Kristus. Jadi ada tiga hal yang
membuat seseorang hidup sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah. Ketiga
hal ini yakni yang pertama tidak hidup dalam persekutuan dengan Allah. Yang kedua yaitu bahwa jiwa mereka tidak
diperbaharui, dan yang ketiga yaitu
bahwa mereka memberikan kesempatan kepada iblis untuk kembali membawa mereka
kepada hidup yang lama. Ketiga hal inilah yang menyebabkan jemaat di Efesus ini
hidup sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah
Ayat 29
”jangan ada perkataan kotor keluar dari mulutmu”, ternyata jemaat di Efesus
ini yang diliputi oleh kemarahan, kegeraman, kepahitan, dan pertikaian mereka
ternyata saling mengata-ngatai satu dengan yang lainnya dengan perkataan-perkataan yang kotor, tetapi
disini Paulus menasihatkan mereka yakni jemaat di Efesus supaya mereka memakai
perkataan yang baik untuk saling membangun. Supaya orang yang mendengarkannya
beroleh kasih karunia
demikian pula halnya
dengan kita jangan lagi kita hidup sama seperti orang-orang yang tidak mengenal
Allah, yang mengeluarkan kata-kata kotor, tetapi marilah kita belajar untuk mengendalikan
diri kita terutama lidah, karena lidah walaupun hanya suatu anggota yang kecil
namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar, lidah itu sendiri juga
seperti api yang dapat membakar hutan yang besar, jadi merilah kita menjaga dan
belajar mengendalikan lidah kita agar kita dapat memakai kata-kata yang baik
untuk saling membangun, dan supaya tidak menjadi batu sandungan bagi orang
lain, tetapi orang lain boleh di berkati oleh perkataan-perkataan kita.
Ayat 30
Pada ayat 30 ini Paulus mengemukakan alasannya yang kedua kenapa ia
menasihati jemaat di Efesus supaya mereka tidak hidup seperti orang-orang yang
tidak mengenal Allah yaitu supaya mereka tidak mendukakan Roh Kudus
Kata ”mendukakan” memakai
kata lupei/te (lupeite) kata kerja imperatif (bentuk perintah) present aktif
orang kedua jamak dari kata lupe,w (lupeo) artinya ”berdukacita”. Tetapi
karena kata lupei/te (lupeite) adalah kata kerja present aktif (sesuatu yang dilakukan
berulang-ulang) orang kedua jamak (kamu sekalian), maka artinya adalah “kamu
sekalian terus- menerus mendukakan”.
Dengan kata lain Paulus ingin mengatakan segala dosa yang
telah mereka lakukan itu yakni kemarahan, kegeraman, kepahitan, pertikaian, fitnah
kata-kata kotor bahkan segala dosa mereka yang lain sangat mendukakan Roh Kudus
yang telah memetraikan mereka, kenapa Roh Kudus berduka? Karena mereka yakni jemaat
di Efesus ini yang saling menyerang, mereka saling membenci, saling memfitnah,
bahkan bertikai, pada hal mereka adalah satu tubuh Kristus, itulah kenapa Paulus
menasihatkan mereka, agar tidak mendukakan Roh Kudus yang telah memetraikan
mereka. Ini membuktikan bahwa Roh Kudus adalah oknum yang dapat mengalami duka
atau kesedihan yang mendalam.
Kata “memetraikan” memakai
kata evsfragi,sqhte (esphragisthete) kata kerja indicative (waktu sekarang) perfek aorist
(waktu lampau yang tetap masih berlaku) pasif orang kedua jamak dari kata sfragi,zw (sphragiso) artinya “segel”. Tetapi
karena kata evsfragi,sqhte (esphragisthete) adalah kata kerja perfek (telah) pasif orang kedua
jamak (kamu sekalian), maka artinya adalah “kamu sekalian telah disegel”
Yang dimaksudkan “kamu sekalian telah disegel” disini
adalah ketika mereka jemaat ini menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat
pribadi, mereka telah disegel oleh Roh kudus menjelang hari penyelamatan, jadi
aorits yang dimaksudkan disini bukan ketika Paulus menulis surat kepada jemaat
di Efesus tetapi ketika mereka yakni jemaat di Efesus menerima Yesus Sebagai
Tuhan dan Juruslamatlah mereka dimetraikan atau disegel untuk diselamatkan,
karena itu mereka harus membuang segala kejahatan seperti yang tertulis dalam
ayat 31.
Karena itu saudara marilah
kita berhenti hidup seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah, yaitu kita
berhenti untuk saling membenci, berhenti saling memfitnah, berhenti untuk
saling bertikai, dan berhenti untuk saling mengeluarkan kata-kata kotor karena
kita adalah satu anggota tubuh Kristus yang
karenanya jika kita saling membenci satu dengan yang lainnya, mak itu
akan mendukakan Roh Kudus yang telah memetraikan kita menjelang hari
penyelamatan yakni pada kedatangan Tuhan Yesus untuk kedua kalinya.
Ayat 32
Dalam ayat 32 ini Paulus memberikan solusi atau jalan keluar
bagi permasalahan yang dihadapi oleh jemaat di Efesus yaitu mereka harus membuang segala dosa yang
mereka lakukan, membuang dalam arti kata mereka harus meninggalkan
perbuatan-perbuatan seperti itu dan berpaling kepada Allah, mereka harus ramah
seorang kepada yang yang lain, penuh kasih mesra, saling mengampuni,
sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni mereka. Demikianlah Paulus
menasihatkan mereka untuk saling mengampuni sebagaimana Allah telah lebih
dahulu mengampuni mereka oleh pengorbanan Yesus, supaya mereka hidup ramah
seorang kepada yang lain dengan penuh kaish.
Disini
Paulus memberikan solusi bukan saja kepada jemaat di Efesus pada waktu itu
tetapi juga kepada kita semua, bagaimana supaya kita tidak lagi saling membenci
dan mengeluarkan kata-kata kotor yaitu supaya kita saling mengampuni, ramah
satu dengan yang lain, dan hidup dalam kasih kepada Allah dan sesama.
Penutup
Jadi ada tiga langkah agar kita tidak hidup seperti
orang-orang yang tidak mengenal Allah atau memiliki karakter yang berubah yaitu
pertama kita harus hidup dalam
persekutuan dengan Allah. Yang kedua
yaitu bahwa jiwa kita harus diperbaharui, dan yang ketiga yaitu bahwa jangan kesempatan kepada iblis untuk kembali
membawa kita kembali kepada hidup yang lama. Supaya kita tertanam di dalam
pengajaran akan Yesus Kristus, dan tidak mendukakan Roh Kudus yang telah memetraikan
kita. Dan yang keempat supaya kita
saling mengampuni.
Demikianlah Firman Tuhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar