Selasa, 02 Februari 2016

MAsuk dan Berkembangnya Islam di Papua

            Seringkali dianggap bahwa agama yang pertama masuk ke Papua adalah agama Kristen tetapi agama Islam-lah yang lebih dahulu masuk di tanah Papua. Berikut catatan Ali Atwa, wartawan Majalah Suara Hidayatullah dan juga penulis buku “Islam Atau Kristen Agama Orang Irian (Papua)” tentang Islam di Bumi Cenderawasih bagian pertama:  Islam masuk lebih awal sebelum agama lainnya di Papua. Namun, banyak upaya pengaburan, seolah-olah, Papua adalah daerah Kristen. Upaya-upaya pengkaburan dan penghapusan sejarah dakwah Islam berlangsung dengan cara sistematis di seantero negeri ini. Setelah Sumatera Utara, Kalimantan Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara dan Maluku diklaim sebagai kawasan Kristen, dengan berbagai potensi menariknya, Papua merupakan jualan terlaris saat ini. Papua diklaim milik Kristen. Ironis, karena hal itu mengaburkan fakta dan data sebenarnya di mana Islam telah hadir berperan nyata jauh sebelum kedatangan mereka (Missionaris). Menurut HJ. de Graaf, seorang ahli sejarah asal Belanda, Islam hadir di Asia Tenggara melalui tiga cara: pertama, melalui dakwah oleh para pedagang Muslim dalam alur perdagangan yang damai; kedua, melalui dakwah para dai dan orang-orang suci yang datang dari India atau Arab yang sengaja ingin mengislamkan orang-orang kafir; dan ketiga, melalui kekuasan atau peperangan dengan negara-negara penyembah berhala. 
Dari catatan-catatan yang ada menunjukkan bahwa kedatangan Islam di tanah Papua, sesungguhnya sudah sangat lama. Islam datang ke sana melalui jalur-jalur perdagangan sebagaimana di kawasan lain di nusantara. Sayangnya hingga saat ini belum ditentukan secara persis kapan hal itu terjadi. Sejumlah seminar yang pernah digelar seperti di Aceh pada tahun 1994, termasuk yang dilangsungkan di ibukota Provinsi Kabupaten Fakfak dan di Jayapura pada tahun 1997, belum menemukan kesepakatan itu. Namun yang pasti, jauh sebelum para misionaris menginjakkan kakinya di kawasan ini, berdasarkan data otentik yang temukan saat ini menunjukkan bahwa muballigh-muballigh Islam telah lebih dahulu berada di sana.
Aktivitas dakwah Islam di Papua merupakan bagian dari rangkaian panjang syiar Islam di Nusantara.











Kedatangan Orang Islam Pertama

            Masuknya Islam ke Papua, tidak bisa dilepaskan dengan jalur dan hubungan daerah ini dengan daerah lain di Indonesia. Selain faktor pengaruh kekuasaan Kerajaan Majapahit, masuknya Islam ke kawasan ini adalah lewat Maluku, di mana pada masa itu terdapat kerajaan Islam berpengaruh di kawasan Indonesia Timur, yakni kerajaan Bacan. Bahkan keberadaan Islam Bacan di Maluku sejak tahun 1520 M dan telah menguasai beberapa daerah di Papua pada abad XVI telah tercatat dalam sejarah. Sejumlah daerah seperti Waigeo, Misool, Waigama dan Salawati pada abad XVI telah mendapat pengaruh dari ajaran Islam. Melalui pengaruh Sultan Bacan inilah maka sejumlah pemuka masyarakat di pulau-pulau tadi memeluk agama Islam, khususnya yang di wilayah pesisir. Sementara yang dipedalaman masih tetap menganut faham animisme. [1]
Dalam berbagai laporan para ahli, menunjukkan bahwa sebelum agama-agama besar lain datang di antar masuk ke Papua, Islam lebih dulu ada dan dianut oleh penduduk pribumi Papua selain para pedagang Melayu. Van der Leeder  (1980, 22), menulis bahwa, agama Islam masuk di kepulauan Raja Ampat dengan pengaruh dari kesultanan Tidore tidak lama sesudah agama tersebut masuk di Maluku pada abad ke 13 silam.  Dr. J. R. Mansoben (1997), ‘Agama besar pertama yang masuk ke Irian Jaya (Papua) adalah Islam. Agama Islam masuk di Irian Jaya pertama didaerah Kepulauan Raja Ampat dan Fak-Fak berasal dari Kepulauan Maluku dan disebarkan melalui hubungan perdagangan yang terjadi diantara kedua daerah tersebut’.[2]
            Dr. Benny Giay, mengatakan “pengaruh Islam secara  luas diseluruh pelosok daerah Propinsi Irian Jaya dan dengan semua kelompok suku di daerah ini dalam hidup sehari-hari dalam semua bidang kehidupan, baru mulai dirasakan setelah Irian Jaya berintegrasi menjadi bagian dari Republik Indonesia awal tahun 1960-an”.[3]
            Thomas Arnold yang seorang orientalis berkebangsaan Inggris memberi catatan kaki dalam kaitannya dengan wilayah Islam tersebut: “…beberapa suku Papua di pulau Gebi seperti Waigyu telah diislamkan oleh kaum pendatang dari Maluku” Tentang masuk dan berkembangnya syi’ar Islam di daerah Papua, lebih lanjut Arnold menjelaskan: “Di Irian sendiri, hanya sedikit penduduk yang memeluk Islam. Agama ini pertama kali dibawa masuk ke pesisir barat semenanjung Onin oleh para pedagang Muslim yang berusaha sambil berdakwah di kalangan penduduk, dan itu terjadi sejak tahun 1606. Tetapi nampaknya kemajuannya berjalan sangat lambat selama berabad-abad kemudian…”
            Bila ditinjau dari laporan Arnold tersebut, maka berarti masuknya Islam ke daerah Papua terjadi pada awal abad ke XVII, atau dua abad lebih awal dari masuknya agama Kristen Protestan yang masuk pertama kali di daerah Manokwari pada tahun 1855, yaitu ketika dua orang missionaris Jerman bernama C.W. Ottow dan G.J. Geissler mendarat dan kemudian menjadi pelopor kegiatan missionaris di sana.
            Dalam buku “Nieuw Guinea” W.C. Klein menceritakan sebagai berikut : “de Heer Pieterz maakte on 1664 eenwreks naar Onin. Indie raiswaren ook een aantal mensen uitSoematera, Waarin de Heer Abdul Ghafur betrokken is” (Tuan Pieterz pada tahun 1664 melakukan perjalanan ke Onin di mana ikut serta beberapa orang dari Sumatera, termasuk Abdul Ghafur). Bahkan bila ditelusuri dari catatan pewaris kesultanan Islam di kawasan ini, dapat diketahui bahwa kedatangan Agama Islam sebenarnya lebih tua lagi.

Islam Papua pada Zaman Kerajaan Majapahit[4]
            Seorang Guru Besar Bidang Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang, Dr. Moehammad Habib Mustofo, yang sekaligus Ketua Asosiasi Ahli Epigrafi Indonesia (AAEI) Jawa Timur menjelaskan bahwa dakwah Islam sudah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit. Apalagi dengan diketemukanya data artefak yang waktunya terentang antara 1368-1611M yang membuktikan adanya komunitas Muslim di sekitar Pusat Keraton Majapahit, di Troloyo, yakni sebuah daerah bagian selatan Pusat Keraton Majapahit yang waktu itu terdapat di Trowulan.
            Kajian leh L.C. Damais dan de Casparis dari sudut paleografi membuktikan telah terjadi saling pengaruh antara dua kebudayaan yang berbeda (yakni antara Hindu-Budha-Islam) pada awal perkembangan Islam di Jawa Timur. Data-data tersebut menjelaskan bahwa sesungguhnya dakwah Islam sudah terjadi terjadi jauh sebelum keruntuhan total kerajaan Majapahit yakni tahun 1527M. Dengan kata lain, ketika kerajaan Majapahit berada di puncak kejayaannya, syiar Islam juga terus menggeliat melalui jalur-jalur perdagangan di daerah-daerah yang menjadi kekuasaan Majapahit di delapan mandala (meliputi seluruh nusantara) hingga Malaysia, Brunei Darussalam, dan di seluruh kepulauan Papua. Masa antara abad XIV-XV memiliki arti penting dalam sejarah kebudayaan Nusantara. Pada saat itu ditandai hegemoni Majapahit sebagai Kerajaan Hindu-Budha mulai pudar.
            Sezaman dengan itu, muncul jaman baru yang ditandai penyebaran Islam melalui jalan perdagangan Nusantara. Melalui jalur damai perdagangan itulah, Islam kemudian semakin dikenal di tengah masyarakat Papua. Kala itu penyebaran Islam masih relatif terbatas di kota-kota pelabuhan. Para pedagang dan ulama menjadi guru-guru yang sangat besar pengaruhnya
di tempat-tempat baru. Sebagai kerajaan tangguh masa itu, kekuasaan Kerajaan Majapahit meliputi seluruh wilayah Nusantara, termasuk Papua. Beberapa daerah di kawasan tersebut bahkan disebut-sebut dalam kitab Negarakertagama, sebagai wilayah yurisdiksinya.
            Keterangan mengenai hal itu antara disebutkan sebagai berikut: “Muwah tang i Gurun sanusanusa mangaram ri Lombok Mirah lawan tikang i Saksakadi nikalun kahaiyan kabeh nuwati tanah i bantayan pramuka Bantayan len luwuk tekenUdamakatrayadhi nikang sanusapupul”. “Ikang sakasanusasanusa Makasar Butun Banggawai Kuni Ggaliyao mwang i [ng] Salaya Sumba Solot Muar muwah tigang i Wandan Ambwan Athawa maloko Ewanin ri Sran ini Timur ning angeka nusatutur”. Dari keterangan yang diperoleh dalam kitab klasik itu, menurut sejumlah ahli bahasa yang dimaksud “Ewanin” adalah nama lain untuk daerah ” Onin” dan “Sran” adalah nama lain untuk “Kowiai”. Semua tempat itu berada di Kaimana, Fak-Fak. Dari data tersebut menjelaskan bahwa pada zaman Kerajaan Majapahit sejumlah daerah di Papua sudah termasuk wilayah kekuasaan Majapahit.
            Menurut Thomas W. Arnold : “The Preaching of Islam”, setelah kerajaan Majapahit runtuh, dikalahkan oleh kerajaan Islam Demak, pemegang kekuasan berikutnya adalah Demak Islam. Dapat dikatakan sejak zaman baru itu, pengaruh kerajaan Islam Demak juga menyebar ke Papua, baik langsung maupun tidak. Dari sumber-sumber Barat diperoleh catatan bahwa pada abad ke XVI sejumlah daerah di Papua bagian barat, yakni wilayah-wilayah Waigeo, Missool, Waigama, dan Salawati, tunduk kepada kekuasaan Sultan Bacan di Maluku. Catatan serupa tertuang dalam sebuah buku yang dikeluarkan oleh Periplus Edition, di buku “Irian Jaya”, hal 20 sebuah wadah sosial milik misionaris menyebutkan tentang daerah yang terpengaruh Islam. Dalam kitab Negarakertagama, di abad ke 14 di sana ditulis tentang kekuasaan kerajaan Majapahit di Jawa Timur, di mana di sana disebutkan dua wilayah di Irian yakni Onin dan Seran. Bahkan lebih lanjut dijelaskan: Namun demikian armada-armada perdagangan yang berdatangan dari Maluku dan barangkali dari pulau Jawa di sebelah barat kawasan ini, telah memiliki pengaruh jauh sebelumnya.
Pengaruh ras austronesia dapat dilihat dari kepemimpinan raja di antara keempat suku, yang boleh jadi diadaptasi dari Kesultanan Ternate, Tidore dan Jailolo. Dengan politik kontrol yang ketat di bidang perdagangan pengaruh kekuasaan Kesultanan Ternate di temukan di raja Ampat, di Sorong dan di seputar Fakfak dan diwilayah Kaimana. Sumber cerita rakyat mengisahkan bahwa daerah Biak Numfor telah menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Sultan Tidore sejak abad ke-XV. Sejumlah tokoh lokal, bahkan diangkat oleh Sultan Tidore menjadi pemimpin-pemimpin di Biak. Mereka diberi berbagai macam gelar, yang merupakan jabatan suatu daerah. Sejumlah nama jabatan itu sekarang ini dapat ditemui dalam bentuk marga atau fam penduduk Biak Numfor.

Islam Papua pada Masa Kini[5]
1.      Muslim Wamena 
Dari sejak tahun 1960-an akhir sampai tahun 1970-an awal, di kota Wamena Kabupaten Jayawijaya banyak datang penduduk pindahan dari Jawa (transmigrasi), dan para perantau asal Indonesia Timur, terutama orang Madura, Bugis, Buton dan Makasar. Pengenalan Agama Islam lebih intensif dengan Suku Dani di Wamena Kabupaten Jayawijaya melalui interaksi dalam masa ini, terutama perdagangan system barter antara para muhajirin pendatang dan penduduk lokal yang berbusana koteka. 
Proses percepatan da'wah di Jayawijaya juga sangat di dukung oleh kehadiran militer yang beragama Islam yang bertugas dalam tahun 1960-an akhir di Kota Wamena. Penduduk yang lebih awal masuk Islam menuturkan bahwa Islamisasi sepenuhnya didukung secara individu dari Muslim yang kebetulan anggota Militert yang bertugas di Sinata (kini Megapura, 4 km selatan dari Kota Wamena). Organisasi da'wah baru didirikan guna lebih menunjang psoses da'wah, seperti Islamic center, YAPIS, Panti Asuhan Muhammadiyah dan akhir-akhir ini juga Hidayatullah dan NU di Wamena giat  melakukan da'wah dikalangan pribumi Muslim Suku Dani di Wamena. 
2.      Muallaf di Walesi  
            Di kota Wamena arah selatan 6 km kini terdapat penduduk pribumi yang penduduknya beragama Islam sejak lama. Walesi adalah pusat Islam (Islamic Centre), bagi pengembangan Islam dari kalangan penduduk asli. Guru-guru (ustadz), sejak awal didatangkan dari Fak-Fak yang sejak lebih dulu muslim dari abad ke 16 di selatan kepala Burung Papua. Kini di walesi terdapat sebuah Pondok-Pesantren Al-Istiqomah Merasugun Asso, Madrasah Ibtidaiyah, rumah guru 4 buah,  masjid 12x12 dan sebuah puskesmas. Walesi sebagai Islamic Centre telah menampung anak-anak Suku Dani dari 12 kampung yang masyarakatnya baragama Islam.
Masyarakat Muslim Jayawijaya terdiri dari 12 kampung yang penduduknya telah lama menganut Agama Islam pada tahun 1960-an akhir pasca integrasi. Kampung-kampung itu adalah Htigima, Air  Garam, Okilik, Apenas, Ibele, Araboda, Jagara, Megapura, Pasema, Mapenduma, Kurulu dan Pugima. Jumlah penganut Islam di Wamena kabupaten Jayawijaya kira-kira 12 ribu jiwa, dari 400 ribu jiwa seluruh penduduk Jayawijaya, namun angka yang lebih tepatjumlah pemeluk Islam belum diperoleh secara pasti.  
3.      Anak-Anak Muallaf
Anak-anak Muallaf adalah kelompak potensial proses Islamisasi di Kabupaten Jayawijaya, mengingat semua agama besar yang kini hadir di Papua khususnya di Pegunungan Tengah, umumnya tidak mampu merubah pola kehidupan lama masyarakat tradisional Papua yang memiliki religi lama yang berorientasi masa lampau.  Kalangan Birokrat Muslim yang menjabat sebagai Ketua Islamic Centre menyadari ini, maka secara  periode mengirim anak-anak muallaf dari Suku Dani, dikirim belajar pertama di Panti Asuhan Muhammadiyah AB Jayapura dan Madarasah Ibtidaiyyah YAPIS di Ibu kota Jayapura dalam tahun 1972 sebanyak 20 orang anak. 
            Dalam tahun 1980 ada 2 orang anak Suku Dani datang belajar di Universitas Muhammadiyah Jogjakarta . Sedang lulusan Madrasah Ibtidaiyyah Merasugun Asso Walesi sebanyak 4 orang pertama didatangkan ke pondok pesantren Al-Mukhlisin, dan Darul Falah, Bogor . Kini dari anak-anak ini ada yang menempuh pendidikan di berbagai universitas Islam Bogor (Ibnu Kholdun), UMJ dan UIN Ciputat. Saat ini tiga orang dari Walesi menempuh S2 konsentrasi di study Islam dan Otonomi Khusus UMJ Ciputat Jakarta. Dua orang lain lagi di UM Jogjakarta dan UIN di kota yang sama. Jumlah seluruhnya anak-anak Muallaf asal Suku Dani dari Papua kini tersebar di berbagai kota study di Pulau Jawa dan mayoritas di Ciputat berjumlah 21 orang. Sedang anak-anak Muallaf yang belajar di pondok pesantren sebanyak 45 orang yang sudah terdata. Jumlah ini tidak termasuk anak-anak yang dibawa koordinasi Ustadz Aliyuddin sejak tahun 1990-an awal berkisar 700 orang dari seluruh Papua. 
4.      Pengiriman anak-anak Suku dani Pondok Pesantren  
            Sejak tahun 1980 anak-anak muslimah dari kalangan Muallaf Dari Kabupaten Jayawijaya, sudah mengirim sebagai peserta MTQ (Musabaqoh Tilawatil Qur'an dan lomba Qosidah tingkat Nasional mewakili Propinsi Irianjaya (kini Papua). Mereka mempunyai bakat dan potensi yang sama dengan anak-anak prianya. Namun yang menjadi masalah adalah tradisi yang bahwa: Orang Tua Suku Dani tidak dapat membiarkan anak- anak perempuan mereka pergi jauh. Tampak dari kurangnya kesadaran Orang Tua Suku Dani di Wamena saat ini adalah dengan mengawinkan anak-anak usia sekolah yang masih belasan tahun.  
            Sampai dewasa ini dari 20 anak perempuan muslimah Suku Dani belajar di SMU Yapis Wamena. Dari Wamena Muslim, kaum perempuannya belum ada yang belajar keluar sebagaimana umumnya anak laki-laki. Mereka kini banyak belajar agama di Pesantren Al- Istiqomah Walesi dan beberapa orang melanjutkan tingakat lanjutan (SMP/SMU) di YAPIS Wamena.

Kedatangan Missionaris Kristen pertama justru diantar oleh Muballiqh Islam dari Kerajaan Tidore pada tanggal 5 Pebruari 1855 disebuah Pulau Kecil Mansinam diperaiaran Manokwari. Dua Missionaris dari Jerman itu adalah C. W. Ottow dan G. J. Geissler.[6]

PERJUMPAAN ISLAM DAN KRISTEN DI PAPUA
Bidang politik (Kainama)[7]
                Sejarah Kaimana adalah sejarah perjumpaan.[8]  Sejarah bertemunya penduduk asli dan pendatang sehingga membentuk manusia Kaimana terkini. Letaknya yang di pesisir menyebabkan Kaimana relatif terbuka dan mudah untuk didatangi. Mental identitas yang terbangun adalah spirit kosmopolit yang terbuka dengan hal baru.
Migrasi atau perpindahan penduduk bukan hanya perpindahan fisik semata namun melibatkan perpindahan ide dan atribut sosial seperti agama. Identitas agama yang berbeda pun tidak membuat jarak. Agama keluarga menjadi bukti dari Kaimana sebagai perjumpaan. Tidak ada masalah dengan menganut Islam, Kristen, atau yang lain. Identitas keluarga atau kekerabatan tetap menjadi pemersatu.
Perkawinan antara pendatang dengan penduduk asli atau yang sudah lebih dahulu mendiami Kaimana sering kali terjadi. Kawin campur yang sudah sedari dahulu dilakukan tersebut membuat seakan-akan keaslian orang Kaimana terletak pada percampuran itu. Mathias Mairuma dan Burhanuddin Ombaier adalah contoh dari percampuran tersebut2.  Mathias Mairuma adalah campuran Cina-Papua sedangkan Burhanuddin Ombaier mempunyai darah Seram dan Gorom yang mengalir dalam tubuhnya. Akibatnya menjadi problematik ketika memaknai
Ketegangan di Kaimana mulai meningkat dalam satu dekade terakhir. Ketegangan-ketegangan tersebut bisa dipicu oleh politik Papua, masuknya elemen-elemen jihadis (Islam radikal) dari Maluku serta kelompok ekstrem Kristen, dan menguatnya intoleransi. Semakin menguatnya tuntutan Papua Merdeka pasca 1998, turut menyeret sentimen beragama dan etnisitas di Kaimana. Muncul stigma yang menguat bahwa nasionalisme papua diidentikkan dengan mereka yang ras melanisia dan beragama Kristen (Warta dalam Ramstedt dan Thufail (ed), 2011: 75). Orang-orang Papua yang keturunan pendatang yang sebagian besarnya beragama Islam lebih dipandang sebagai pro NKRI sehingga dianggap sebagai warga kelas dua. Akhirnya kemudian membentuk persepsi publik bahwa bila Papua merdeka maka orang Islam akan menderita dan diusir dari Papua. Cukup banyak penduduk Kaimana yang keturunan pendatang dan beragama Islam sehingga hal ini cukup menimbulkan kekhawatiran.. Diskursus publik mengenai tuntutan kemerdekaan Papua tidak lagi persoalan ketidakadilan semata namun terkotori oleh sentimen agama yang bukan pada tempatnya.
Sentimen ini semakin bertambah ketika mulai berdatangan kelompok-kelompok jihadis yang pernah berkonflik di Maluku. Masuknya kelompok-kelompok seperti Laskar Jihad ke Papua semakin menambah ketegangan antar umat agama di Kaimana. Muncul anggapan bahwa kedatangan para eksponen Laskar Jihad tersebut dalam rangka memerangi umat Kristen yang ada di Papua. Resistensi umat Kristen Papua terhadap orang Islam di Papua pun kemudian meningkat. Masuknya “Islam baru” di Kaimana seperti AFKN (Al Fatih Kaafah Nusantara) dengan kegiatannya yang gemar berdakwah di kalangan orang Papua non-muslim dirasakan oleh umat Kristen di Kaimana sebagai ancaman. Pada saat yang bersamaan, masuk juga kelompok Kristen baru yang berasal dari kalangan Kristen Neo Pantekosta yang sering menggelar acara testimoni  tentang kebenaran Kristus. Menurut orang muslim di Kaimana acara-acara seperti itu cukup meresahkan.
Politik Papua dan masuknya kelompok agama garis keras di Kaimana tak bisa dihindari semakin menguatkan intoleransi di dalam masyarakat. Penguatan intoleransi yang berujung pada ketegangan antar umat agama di Kaimana dicontohkan pada kasus ricuh pohon natal tahun 2007. Pendirian menara yang menyerupai pohon natal dengan puncaknya dihiasi bintang david memicu amarah dari umat muslim Kaimana. Terlebih selain letaknya ada di pusat kota, menara tersebut dicor dengan semen pada bagian bawahnya sehingga menjadi permanen. Menara tersebut didirikan oleh GPI dengan argumen sudah mengantongi izin dari bupati. Namun kemudian bupati menyatakan ketidaktahuannya jika menara tersebut dicor semen sehingga permanen. Ricuh ini hampir berujung dengan kekerasan bila tidak ada dialog antar umat yang dimediasi oleh pemda.

V Kesimpulan
Ketika agama Islam pertama kali masuk ke Papua, agama ini mengalami perkembangan yang sangat lamban sehingga meskipun Islam adalah agama yang pertama masuk ke Papua dan baru kemudian disusul oleh agama Kristen. Tetapi Kekristenan berkembangan lebih pesat dari agama Islam, sehingga Papua identik dan sering disebut sebagai milik agama Kriten. Penyebab utama perkembangan Islam yang begitu lambanpun belum dapat diketahui secara pasti, karena  belum adanya data-data yang kongkrit yang dapat menjelaskannya. Masuknya Islam ke Papua, tidak bisa dilepaskan dengan jalur dan hubungan daerah ini dengan daerah lain di Indonesia. Selain faktor pengaruh kekuasaan Kerajaan Majapahit, masuknya Islam ke kawasan ini adalah lewat Maluku, di mana pada masa itu terdapat kerajaan Islam berpengaruh di kawasan Indonesia Timur, yakni kerajaan Bacan. Sehingga tidaklah mengherankan bila kedatangan Missionaris Kristen pertama justru diantar oleh Muballiqh Islam dari Kerajaan Tidore. Karena Perkembangan Islam yang begitu lamban di Papua, maka Islam pada masa kini melalui pemerintah mengadakan trnassmigrasi ke daerah-daerah yang sebenarnya penduduk muslimnya masih minoritas sehingga mempengaruhi pertumbuhan agama Islam di daerah yang dituju terutama Papua.






[1] http://kissanak.wordpress.com/2011/06/17/islam-di-papua-sejarah-yang-terlupakan/
[2] https://www.facebook.com/notes/suara-muslim-papua/sejarah-masuk-dan-berkembangnya-islam-di-wamena-jayawi-jaya-papua/260769270610286?ref=nf
[3] Ibid
[4] http://kissanak.wordpress.com/2011/06/17/islam-di-papua-sejarah-yang-terlupakan/
[5] https://www.facebook.com/notes/suara-muslim-papua/sejarah-masuk-dan-berkembangnya-islam-di-wamena-jayawi-jaya-papua/260769270610286?ref=nf
[6] https://www.facebook.com/notes/suara-muslim-papua/sejarah-masuk-dan-berkembangnya-islam-di-wamena-jayawi-jaya-papua/260769270610286?ref=nf
[7] http://www.politik.lipi.go.id/index.php/in/kolom/kolom-papua/619-memahami-kaimana-memahami-kemajemukan, memahami kainama memahami kemajemukan, Yogi Setya Permana, 17 April 2013, pukul 17.00 WIB
[8] Kaimana adalah salah satu kabupaten hasil pemekaran yang awalnya masuk dalam wilayah Kabupaten Fak-fak  di Propinsi Papua Barat



Tidak ada komentar:

Posting Komentar