Seringkali dianggap bahwa agama yang pertama masuk ke Papua adalah agama
Kristen tetapi agama Islam-lah yang lebih dahulu masuk di tanah Papua. Berikut catatan Ali Atwa, wartawan Majalah Suara Hidayatullah dan
juga penulis buku “Islam Atau Kristen Agama Orang Irian (Papua)” tentang Islam
di Bumi Cenderawasih bagian pertama: Islam masuk lebih awal sebelum agama
lainnya di Papua. Namun, banyak upaya pengaburan, seolah-olah, Papua adalah daerah
Kristen. Upaya-upaya pengkaburan dan penghapusan sejarah dakwah Islam
berlangsung dengan cara sistematis di seantero negeri ini. Setelah Sumatera
Utara, Kalimantan Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara dan Maluku diklaim
sebagai kawasan Kristen, dengan berbagai potensi menariknya, Papua merupakan
jualan terlaris saat ini. Papua diklaim milik Kristen. Ironis, karena hal itu
mengaburkan fakta dan data sebenarnya di mana Islam telah hadir berperan nyata
jauh sebelum kedatangan mereka (Missionaris). Menurut HJ. de Graaf, seorang
ahli sejarah asal Belanda, Islam hadir di Asia Tenggara melalui tiga cara:
pertama, melalui dakwah oleh para pedagang Muslim dalam alur perdagangan yang
damai; kedua, melalui dakwah para dai dan orang-orang suci yang datang dari
India atau Arab yang sengaja ingin mengislamkan orang-orang kafir; dan ketiga,
melalui kekuasan atau peperangan dengan negara-negara penyembah berhala.
Dari
catatan-catatan yang ada menunjukkan bahwa kedatangan Islam di tanah Papua,
sesungguhnya sudah sangat lama. Islam datang ke sana melalui jalur-jalur
perdagangan sebagaimana di kawasan lain di nusantara. Sayangnya hingga saat ini
belum ditentukan secara persis kapan hal itu terjadi. Sejumlah seminar yang
pernah digelar seperti di Aceh pada tahun 1994, termasuk yang dilangsungkan di
ibukota Provinsi Kabupaten Fakfak dan di Jayapura pada tahun 1997, belum
menemukan kesepakatan itu. Namun yang pasti, jauh sebelum para misionaris
menginjakkan kakinya di kawasan ini, berdasarkan data otentik yang temukan saat
ini menunjukkan bahwa muballigh-muballigh Islam telah lebih dahulu berada di
sana.
Aktivitas dakwah Islam di Papua merupakan bagian dari rangkaian panjang syiar Islam di Nusantara.
Aktivitas dakwah Islam di Papua merupakan bagian dari rangkaian panjang syiar Islam di Nusantara.
Kedatangan Orang Islam Pertama
Masuknya Islam ke Papua, tidak bisa dilepaskan dengan jalur dan hubungan daerah ini dengan daerah lain di Indonesia. Selain faktor pengaruh kekuasaan Kerajaan Majapahit, masuknya Islam ke kawasan ini adalah lewat Maluku, di mana pada masa itu terdapat kerajaan Islam berpengaruh di kawasan Indonesia Timur, yakni kerajaan Bacan. Bahkan keberadaan Islam Bacan di Maluku sejak tahun 1520 M dan telah menguasai beberapa daerah di Papua pada abad XVI telah tercatat dalam sejarah. Sejumlah daerah seperti Waigeo, Misool, Waigama dan Salawati pada abad XVI telah mendapat pengaruh dari ajaran Islam. Melalui pengaruh Sultan Bacan inilah maka sejumlah pemuka masyarakat di pulau-pulau tadi memeluk agama Islam, khususnya yang di wilayah pesisir. Sementara yang dipedalaman masih tetap menganut faham animisme. [1]
Dalam
berbagai laporan para ahli, menunjukkan bahwa sebelum agama-agama besar lain
datang di antar masuk ke Papua, Islam lebih dulu ada dan dianut oleh penduduk
pribumi Papua selain para pedagang Melayu. Van der Leeder (1980, 22),
menulis bahwa, agama Islam masuk di kepulauan Raja Ampat dengan pengaruh dari
kesultanan Tidore tidak lama sesudah agama tersebut masuk di Maluku pada abad
ke 13 silam. Dr. J. R. Mansoben (1997), ‘Agama besar pertama yang masuk
ke Irian Jaya (Papua) adalah Islam. Agama Islam masuk di Irian Jaya pertama
didaerah Kepulauan Raja Ampat dan Fak-Fak berasal dari Kepulauan Maluku dan
disebarkan melalui hubungan perdagangan yang terjadi diantara kedua daerah tersebut’.[2]
Dr. Benny Giay, mengatakan “pengaruh Islam secara
luas diseluruh pelosok daerah Propinsi Irian Jaya dan dengan semua kelompok
suku di daerah ini dalam hidup sehari-hari dalam semua bidang kehidupan, baru
mulai dirasakan setelah Irian Jaya berintegrasi menjadi bagian dari Republik Indonesia
awal tahun 1960-an”.[3]
Thomas
Arnold yang seorang orientalis berkebangsaan Inggris memberi catatan kaki dalam
kaitannya dengan wilayah Islam tersebut: “…beberapa suku Papua di pulau Gebi
seperti Waigyu telah diislamkan oleh kaum pendatang dari Maluku” Tentang masuk
dan berkembangnya syi’ar Islam di daerah Papua, lebih lanjut Arnold
menjelaskan: “Di Irian sendiri, hanya sedikit penduduk yang memeluk Islam.
Agama ini pertama kali dibawa masuk ke pesisir barat semenanjung Onin oleh para
pedagang Muslim yang berusaha sambil berdakwah di kalangan penduduk, dan itu
terjadi sejak tahun 1606. Tetapi nampaknya kemajuannya berjalan sangat lambat
selama berabad-abad kemudian…”
Bila
ditinjau dari laporan Arnold tersebut, maka berarti masuknya Islam ke daerah Papua
terjadi pada awal abad ke XVII, atau dua abad lebih awal dari masuknya agama
Kristen Protestan yang masuk pertama kali di daerah Manokwari pada tahun 1855,
yaitu ketika dua orang missionaris Jerman bernama C.W. Ottow dan G.J. Geissler
mendarat dan kemudian menjadi pelopor kegiatan missionaris di sana.
Dalam
buku “Nieuw Guinea” W.C. Klein menceritakan sebagai berikut : “de Heer Pieterz
maakte on 1664 eenwreks naar Onin. Indie raiswaren ook een aantal mensen
uitSoematera, Waarin de Heer Abdul Ghafur betrokken is” (Tuan Pieterz pada
tahun 1664 melakukan perjalanan ke Onin di mana ikut serta beberapa orang dari
Sumatera, termasuk Abdul Ghafur). Bahkan bila ditelusuri dari catatan pewaris
kesultanan Islam di kawasan ini, dapat diketahui bahwa kedatangan Agama Islam
sebenarnya lebih tua lagi.
Islam Papua pada Zaman
Kerajaan Majapahit[4]
Seorang
Guru Besar Bidang Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang, Dr.
Moehammad Habib Mustofo, yang sekaligus Ketua Asosiasi Ahli Epigrafi Indonesia
(AAEI) Jawa Timur menjelaskan bahwa dakwah Islam sudah ada sejak zaman Kerajaan
Majapahit. Apalagi dengan diketemukanya data artefak yang waktunya terentang
antara 1368-1611M yang membuktikan adanya komunitas Muslim di sekitar Pusat
Keraton Majapahit, di Troloyo, yakni sebuah daerah bagian selatan Pusat Keraton
Majapahit yang waktu itu terdapat di Trowulan.
Kajian
leh L.C. Damais dan de Casparis dari sudut paleografi membuktikan telah terjadi
saling pengaruh antara dua kebudayaan yang berbeda (yakni antara Hindu-Budha-Islam)
pada awal perkembangan Islam di Jawa Timur. Data-data tersebut menjelaskan
bahwa sesungguhnya dakwah Islam sudah terjadi terjadi jauh sebelum keruntuhan
total kerajaan Majapahit yakni tahun 1527M. Dengan kata lain, ketika kerajaan
Majapahit berada di puncak kejayaannya, syiar Islam juga terus menggeliat
melalui jalur-jalur perdagangan di daerah-daerah yang menjadi kekuasaan
Majapahit di delapan mandala (meliputi seluruh nusantara) hingga Malaysia,
Brunei Darussalam, dan di seluruh kepulauan Papua. Masa antara abad XIV-XV
memiliki arti penting dalam sejarah kebudayaan Nusantara. Pada saat itu
ditandai hegemoni Majapahit sebagai Kerajaan Hindu-Budha mulai pudar.
Sezaman
dengan itu, muncul jaman baru yang ditandai penyebaran Islam melalui jalan perdagangan
Nusantara. Melalui jalur damai perdagangan itulah, Islam kemudian semakin
dikenal di tengah masyarakat Papua. Kala itu penyebaran Islam masih relatif
terbatas di kota-kota pelabuhan. Para pedagang dan ulama menjadi guru-guru yang
sangat besar pengaruhnya
di tempat-tempat baru. Sebagai kerajaan tangguh masa itu, kekuasaan Kerajaan Majapahit meliputi seluruh wilayah Nusantara, termasuk Papua. Beberapa daerah di kawasan tersebut bahkan disebut-sebut dalam kitab Negarakertagama, sebagai wilayah yurisdiksinya.
di tempat-tempat baru. Sebagai kerajaan tangguh masa itu, kekuasaan Kerajaan Majapahit meliputi seluruh wilayah Nusantara, termasuk Papua. Beberapa daerah di kawasan tersebut bahkan disebut-sebut dalam kitab Negarakertagama, sebagai wilayah yurisdiksinya.
Keterangan
mengenai hal itu antara disebutkan sebagai berikut: “Muwah tang i Gurun
sanusanusa mangaram ri Lombok Mirah lawan tikang i Saksakadi nikalun kahaiyan
kabeh nuwati tanah i bantayan pramuka Bantayan len luwuk tekenUdamakatrayadhi
nikang sanusapupul”. “Ikang sakasanusasanusa Makasar Butun Banggawai Kuni
Ggaliyao mwang i [ng] Salaya Sumba Solot Muar muwah tigang i Wandan Ambwan
Athawa maloko Ewanin ri Sran ini Timur ning angeka nusatutur”. Dari keterangan
yang diperoleh dalam kitab klasik itu, menurut sejumlah ahli bahasa yang
dimaksud “Ewanin” adalah nama lain untuk daerah ” Onin” dan “Sran” adalah nama
lain untuk “Kowiai”. Semua tempat itu berada di Kaimana, Fak-Fak. Dari data
tersebut menjelaskan bahwa pada zaman Kerajaan Majapahit sejumlah daerah di
Papua sudah termasuk wilayah kekuasaan Majapahit.
Menurut
Thomas W. Arnold : “The Preaching of Islam”, setelah kerajaan Majapahit runtuh,
dikalahkan oleh kerajaan Islam Demak, pemegang kekuasan berikutnya adalah Demak
Islam. Dapat dikatakan sejak zaman baru itu, pengaruh kerajaan Islam Demak juga
menyebar ke Papua, baik langsung maupun tidak. Dari sumber-sumber Barat
diperoleh catatan bahwa pada abad ke XVI sejumlah daerah di Papua bagian barat,
yakni wilayah-wilayah Waigeo, Missool, Waigama, dan Salawati, tunduk kepada
kekuasaan Sultan Bacan di Maluku. Catatan serupa tertuang dalam sebuah buku
yang dikeluarkan oleh Periplus Edition, di buku “Irian Jaya”, hal 20 sebuah
wadah sosial milik misionaris menyebutkan tentang daerah yang terpengaruh Islam.
Dalam kitab Negarakertagama, di abad ke 14 di sana ditulis tentang kekuasaan
kerajaan Majapahit di Jawa Timur, di mana di sana disebutkan dua wilayah di
Irian yakni Onin dan Seran. Bahkan lebih lanjut dijelaskan: Namun demikian
armada-armada perdagangan yang berdatangan dari Maluku dan barangkali dari
pulau Jawa di sebelah barat kawasan ini, telah memiliki pengaruh jauh
sebelumnya.
Pengaruh ras
austronesia dapat dilihat dari kepemimpinan raja di antara keempat suku, yang
boleh jadi diadaptasi dari Kesultanan Ternate, Tidore dan Jailolo. Dengan
politik kontrol yang ketat di bidang perdagangan pengaruh kekuasaan Kesultanan
Ternate di temukan di raja Ampat, di Sorong dan di seputar Fakfak dan diwilayah
Kaimana. Sumber cerita rakyat mengisahkan bahwa daerah Biak Numfor telah
menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Sultan Tidore sejak abad ke-XV. Sejumlah
tokoh lokal, bahkan diangkat oleh Sultan Tidore menjadi pemimpin-pemimpin di
Biak. Mereka diberi berbagai macam gelar, yang merupakan jabatan suatu daerah.
Sejumlah nama jabatan itu sekarang ini dapat ditemui dalam bentuk marga atau fam
penduduk Biak Numfor.
Islam Papua pada Masa Kini[5]
1. Muslim Wamena
Dari sejak tahun 1960-an akhir sampai tahun 1970-an awal, di kota
Wamena Kabupaten Jayawijaya banyak datang penduduk pindahan dari Jawa
(transmigrasi), dan para perantau asal Indonesia Timur, terutama orang Madura,
Bugis, Buton dan Makasar. Pengenalan Agama Islam lebih intensif dengan Suku
Dani di Wamena Kabupaten Jayawijaya melalui interaksi dalam masa ini, terutama
perdagangan system barter antara para muhajirin pendatang dan penduduk lokal
yang berbusana koteka.
Proses percepatan da'wah di Jayawijaya juga sangat di dukung oleh
kehadiran militer yang beragama Islam yang bertugas dalam tahun 1960-an akhir
di Kota Wamena. Penduduk yang lebih awal masuk Islam menuturkan bahwa
Islamisasi sepenuhnya didukung secara individu dari Muslim yang kebetulan
anggota Militert yang bertugas di Sinata (kini Megapura, 4 km selatan dari Kota
Wamena). Organisasi da'wah baru didirikan guna lebih menunjang psoses da'wah,
seperti Islamic center, YAPIS, Panti Asuhan Muhammadiyah dan akhir-akhir ini
juga Hidayatullah dan NU di Wamena giat melakukan da'wah dikalangan
pribumi Muslim Suku Dani di Wamena.
2.
Muallaf di Walesi
Di
kota Wamena arah selatan 6 km kini terdapat penduduk pribumi yang penduduknya
beragama Islam sejak lama. Walesi adalah pusat Islam (Islamic Centre), bagi
pengembangan Islam dari kalangan penduduk asli. Guru-guru (ustadz), sejak awal
didatangkan dari Fak-Fak yang sejak lebih dulu muslim dari abad ke 16 di
selatan kepala Burung Papua. Kini di walesi terdapat sebuah Pondok-Pesantren
Al-Istiqomah Merasugun Asso, Madrasah Ibtidaiyah, rumah guru 4 buah,
masjid 12x12 dan sebuah puskesmas. Walesi sebagai Islamic Centre telah
menampung anak-anak Suku Dani dari 12 kampung yang masyarakatnya baragama
Islam.
Masyarakat
Muslim Jayawijaya terdiri dari 12 kampung yang penduduknya telah lama menganut
Agama Islam pada tahun 1960-an akhir pasca integrasi. Kampung-kampung itu
adalah Htigima, Air Garam, Okilik, Apenas, Ibele, Araboda, Jagara,
Megapura, Pasema, Mapenduma, Kurulu dan Pugima. Jumlah penganut Islam di Wamena
kabupaten Jayawijaya kira-kira 12 ribu jiwa, dari 400 ribu jiwa seluruh
penduduk Jayawijaya, namun angka yang lebih tepatjumlah pemeluk Islam belum
diperoleh secara pasti.
3.
Anak-Anak Muallaf
Anak-anak Muallaf adalah
kelompak potensial proses Islamisasi di Kabupaten Jayawijaya, mengingat semua
agama besar yang kini hadir di Papua khususnya di Pegunungan Tengah, umumnya
tidak mampu merubah pola kehidupan lama masyarakat tradisional Papua yang
memiliki religi lama yang berorientasi masa lampau. Kalangan Birokrat
Muslim yang menjabat sebagai Ketua Islamic Centre menyadari ini, maka secara periode
mengirim anak-anak muallaf dari Suku Dani, dikirim belajar pertama di Panti
Asuhan Muhammadiyah AB Jayapura dan Madarasah Ibtidaiyyah YAPIS di Ibu kota
Jayapura dalam tahun 1972 sebanyak 20 orang anak.
Dalam
tahun 1980 ada 2 orang anak Suku Dani datang belajar di Universitas
Muhammadiyah Jogjakarta . Sedang lulusan Madrasah Ibtidaiyyah Merasugun Asso
Walesi sebanyak 4 orang pertama didatangkan ke pondok pesantren Al-Mukhlisin,
dan Darul Falah, Bogor . Kini dari anak-anak ini ada yang menempuh pendidikan
di berbagai universitas Islam Bogor (Ibnu Kholdun), UMJ dan UIN
Ciputat. Saat ini tiga orang dari Walesi menempuh S2 konsentrasi di study
Islam dan Otonomi Khusus UMJ Ciputat Jakarta. Dua orang lain lagi di UM
Jogjakarta dan UIN di kota yang sama. Jumlah seluruhnya anak-anak Muallaf asal
Suku Dani dari Papua kini tersebar di berbagai kota study di Pulau Jawa dan
mayoritas di Ciputat berjumlah 21 orang. Sedang anak-anak Muallaf yang belajar
di pondok pesantren sebanyak 45 orang yang sudah terdata. Jumlah ini tidak
termasuk anak-anak yang dibawa koordinasi Ustadz Aliyuddin sejak tahun 1990-an
awal berkisar 700 orang dari seluruh Papua.
4.
Pengiriman anak-anak Suku dani Pondok Pesantren
Sejak
tahun 1980 anak-anak muslimah dari kalangan Muallaf Dari Kabupaten Jayawijaya,
sudah mengirim sebagai peserta MTQ (Musabaqoh Tilawatil Qur'an dan lomba
Qosidah tingkat Nasional mewakili Propinsi Irianjaya (kini Papua). Mereka
mempunyai bakat dan potensi yang sama dengan anak-anak prianya. Namun yang
menjadi masalah adalah tradisi yang bahwa: Orang Tua Suku Dani tidak dapat
membiarkan anak- anak perempuan mereka pergi jauh. Tampak dari kurangnya
kesadaran Orang Tua Suku Dani di Wamena saat ini adalah dengan mengawinkan
anak-anak usia sekolah yang masih belasan tahun.
Sampai
dewasa ini dari 20 anak perempuan muslimah Suku Dani belajar di SMU Yapis
Wamena. Dari Wamena Muslim, kaum perempuannya belum ada yang belajar keluar
sebagaimana umumnya anak laki-laki. Mereka kini banyak belajar agama di
Pesantren Al- Istiqomah Walesi dan beberapa orang melanjutkan tingakat lanjutan
(SMP/SMU) di YAPIS Wamena.
Kedatangan
Missionaris Kristen pertama justru diantar oleh Muballiqh Islam dari Kerajaan
Tidore pada tanggal 5 Pebruari 1855 disebuah Pulau Kecil Mansinam diperaiaran
Manokwari. Dua Missionaris dari Jerman itu adalah C. W. Ottow dan G. J.
Geissler.[6]
PERJUMPAAN ISLAM DAN KRISTEN DI PAPUA
Bidang politik (Kainama)[7]
Sejarah Kaimana adalah sejarah perjumpaan.[8]
Sejarah bertemunya penduduk asli dan pendatang sehingga membentuk manusia
Kaimana terkini. Letaknya yang di pesisir menyebabkan Kaimana relatif terbuka
dan mudah untuk didatangi. Mental identitas yang terbangun adalah spirit
kosmopolit yang terbuka dengan hal baru.
Migrasi atau perpindahan penduduk
bukan hanya perpindahan fisik semata namun melibatkan perpindahan ide dan
atribut sosial seperti agama. Identitas agama yang berbeda pun tidak membuat
jarak. Agama keluarga menjadi bukti dari Kaimana sebagai perjumpaan. Tidak ada
masalah dengan menganut Islam, Kristen, atau yang lain. Identitas keluarga atau
kekerabatan tetap menjadi pemersatu.
Perkawinan antara pendatang dengan penduduk
asli atau yang sudah lebih dahulu mendiami Kaimana sering kali terjadi. Kawin
campur yang sudah sedari dahulu dilakukan tersebut membuat seakan-akan keaslian
orang Kaimana terletak pada percampuran itu. Mathias Mairuma dan Burhanuddin
Ombaier adalah contoh dari percampuran tersebut2. Mathias
Mairuma adalah campuran Cina-Papua sedangkan Burhanuddin Ombaier mempunyai
darah Seram dan Gorom yang mengalir dalam tubuhnya. Akibatnya menjadi
problematik ketika memaknai
Ketegangan di Kaimana mulai
meningkat dalam satu dekade terakhir. Ketegangan-ketegangan tersebut bisa
dipicu oleh politik Papua, masuknya elemen-elemen jihadis (Islam radikal) dari
Maluku serta kelompok ekstrem Kristen, dan menguatnya intoleransi. Semakin
menguatnya tuntutan Papua Merdeka pasca 1998, turut menyeret sentimen beragama
dan etnisitas di Kaimana. Muncul stigma yang menguat bahwa nasionalisme papua
diidentikkan dengan mereka yang ras melanisia dan beragama Kristen (Warta dalam
Ramstedt dan Thufail (ed), 2011: 75). Orang-orang Papua yang keturunan
pendatang yang sebagian besarnya beragama Islam lebih dipandang sebagai pro
NKRI sehingga dianggap sebagai warga kelas dua. Akhirnya kemudian membentuk
persepsi publik bahwa bila Papua merdeka maka orang Islam akan menderita dan
diusir dari Papua. Cukup banyak penduduk Kaimana yang keturunan pendatang dan
beragama Islam sehingga hal ini cukup menimbulkan kekhawatiran.. Diskursus
publik mengenai tuntutan kemerdekaan Papua tidak lagi persoalan ketidakadilan
semata namun terkotori oleh sentimen agama yang bukan pada tempatnya.
Sentimen ini semakin bertambah
ketika mulai berdatangan kelompok-kelompok jihadis yang pernah berkonflik di
Maluku. Masuknya kelompok-kelompok seperti Laskar Jihad ke Papua semakin
menambah ketegangan antar umat agama di Kaimana. Muncul anggapan bahwa
kedatangan para eksponen Laskar Jihad tersebut dalam rangka memerangi umat
Kristen yang ada di Papua. Resistensi umat Kristen Papua terhadap orang Islam
di Papua pun kemudian meningkat. Masuknya “Islam baru” di Kaimana seperti AFKN
(Al Fatih Kaafah Nusantara) dengan kegiatannya yang gemar berdakwah di kalangan
orang Papua non-muslim dirasakan oleh umat Kristen di Kaimana sebagai ancaman.
Pada saat yang bersamaan, masuk juga kelompok Kristen baru yang berasal dari
kalangan Kristen Neo Pantekosta yang sering menggelar acara testimoni
tentang kebenaran Kristus. Menurut orang muslim di Kaimana acara-acara seperti
itu cukup meresahkan.
Politik Papua dan masuknya kelompok agama garis
keras di Kaimana tak bisa dihindari semakin menguatkan intoleransi di dalam
masyarakat. Penguatan intoleransi yang berujung pada ketegangan antar umat
agama di Kaimana dicontohkan pada kasus ricuh pohon natal tahun 2007. Pendirian
menara yang menyerupai pohon natal dengan puncaknya dihiasi bintang david
memicu amarah dari umat muslim Kaimana. Terlebih selain letaknya ada di pusat
kota, menara tersebut dicor dengan semen pada bagian bawahnya sehingga menjadi
permanen. Menara tersebut didirikan oleh GPI dengan argumen sudah mengantongi
izin dari bupati. Namun kemudian bupati menyatakan ketidaktahuannya jika menara
tersebut dicor semen sehingga permanen. Ricuh ini hampir berujung dengan
kekerasan bila tidak ada dialog antar umat yang dimediasi oleh pemda.
V Kesimpulan
Ketika agama
Islam pertama kali masuk ke Papua, agama ini mengalami perkembangan yang sangat
lamban sehingga meskipun Islam adalah agama yang pertama masuk ke Papua dan
baru kemudian disusul oleh agama Kristen. Tetapi Kekristenan berkembangan lebih
pesat dari agama Islam, sehingga Papua identik dan sering disebut sebagai milik
agama Kriten. Penyebab utama perkembangan Islam yang begitu lambanpun belum
dapat diketahui secara pasti, karena
belum adanya data-data yang kongkrit yang dapat menjelaskannya. Masuknya
Islam ke Papua, tidak bisa dilepaskan dengan jalur dan hubungan daerah ini
dengan daerah lain di Indonesia. Selain faktor pengaruh kekuasaan Kerajaan
Majapahit, masuknya Islam ke kawasan ini adalah lewat Maluku, di mana pada masa
itu terdapat kerajaan Islam berpengaruh di kawasan Indonesia Timur, yakni
kerajaan Bacan. Sehingga tidaklah mengherankan bila kedatangan Missionaris
Kristen pertama justru diantar oleh Muballiqh Islam dari Kerajaan Tidore.
Karena Perkembangan Islam yang begitu lamban di Papua, maka Islam pada masa
kini melalui pemerintah mengadakan trnassmigrasi ke daerah-daerah yang sebenarnya penduduk muslimnya masih
minoritas sehingga mempengaruhi pertumbuhan agama Islam di daerah yang dituju
terutama Papua.
[1]
http://kissanak.wordpress.com/2011/06/17/islam-di-papua-sejarah-yang-terlupakan/
[2]
https://www.facebook.com/notes/suara-muslim-papua/sejarah-masuk-dan-berkembangnya-islam-di-wamena-jayawi-jaya-papua/260769270610286?ref=nf
[3] Ibid
[5]
https://www.facebook.com/notes/suara-muslim-papua/sejarah-masuk-dan-berkembangnya-islam-di-wamena-jayawi-jaya-papua/260769270610286?ref=nf
[6] https://www.facebook.com/notes/suara-muslim-papua/sejarah-masuk-dan-berkembangnya-islam-di-wamena-jayawi-jaya-papua/260769270610286?ref=nf
[7] http://www.politik.lipi.go.id/index.php/in/kolom/kolom-papua/619-memahami-kaimana-memahami-kemajemukan, memahami kainama
memahami kemajemukan, Yogi Setya
Permana, 17 April 2013, pukul 17.00 WIB
[8] Kaimana adalah salah satu kabupaten
hasil pemekaran yang awalnya masuk dalam wilayah Kabupaten Fak-fak di
Propinsi Papua Barat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar