Rabu, 03 Februari 2016

Tipe Cewek Baik Menurut Amsal 31


Hikmat Dalam Kitab Amsal Salomo
Untuk mengetahui hikmat dan didikan, untuk mengerti kata-kata yang bermakna.
Amsal 1:2
Kata hikmat berasal dari kata Ibraninya adalah chokmah. Dalam Alkitab Terjemahan Baru, di kitab Amsal muncul 41 ayat yang berbicara mengenai hikmat sehingga kitab Amsal sarat dengan kata hikmat. Hikmat sesuatu yang sangat menarik sehingga penulis mendorong pembacanya untuk mengetahui hikmat.
Apakah yang dimaksud dengan hikmat? Apakah pengertian hikmat menurut penulis Amsal dan kaitanya dengan pengertian hikmat menurut pendapat kita? Apakah kamus-kamus yang ada dipasaran memiliki pengertian yang sama dengan hikmat dalam pengertian penulis yang ditulis oleh raja Salomo?
Bila penulis menulis bahwa dengan hikmat, TUHAN telah telah meletakan dasar bumi, dengan pengertian ditetapkan-Nya langit ( Ams 3:19), apakah bahwa Tuhan memerlukan sang hikmat sehingga Tuhan melalui hikmat meletakan dasar bumi? Mengapa hikmat sesuatu yang sangat penting dalam meletakan dasar bumi? Apakah hikmat adalah suatu kata benda berwujud ataukah hikmat yang dimaksud penulis sesuatu benda yang abstrak? Bukankah bila melihat kitab Amsal pasal 8 maka menemukan bahwa kata “Aku” adalah identik dengan pengertian hikmat, sehingga membuat pembaca cenderung berpikir bahwa hikmat adalah suatu kata benda yang menunjuk kepada seorang oknum? Apakah hikmat dapat melakukan tindakan ataukah hikmat diperlukan dalam bertindak sehingga dibutuhkan saat Tuhan meletakan dasar bumi?
Bila pertanyaan apakah Tuhan memerlukan sang hikmat untuk meletakan bumi, maka dalam Amsal 8:22 dijelaskan bahwa  TUHAN menciptakan hikmat sebagai permulaan pekerjaan-Nya. Sebagai ciptaan Tuhan, apakah hikmat adalah makhluk yang memiliki Roh ? Apakah ia suatu makhluk bernyawa dan memiliki fisik?  Ataukan sesuatu yang bukan berupa makhluk apapun namun benda ciptaan yang sangat penting saat TUHAN hendak melakukan suatu penciptaan sepanjang sejarah waktu dalam kekekalan? 
Bila penulis mengatakan takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan ( Ams 1:7) serta dalam Amsal 30:3 tersirat bahwa yang tidak mempelajari hikmat tidak akan mengenal Yang Mahakudus; bagaimanakah hubungan antara hikmat dengan Yang Mahakudus serta hikmat yang terkait dengan pengetahuan serta takut akan TUHAN? Apakah ini ada hubungan dengan kenyataan bahwa TUHAN-lah yang memberi hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian (Ams 2:6), sehingga orang yang tidak takut terhadap TUHAN tidak akan mendengarkan segala sesuatu yang berasal dari mulut-Nya yang memberi hikmat dan wajar bila berdampak tidak mengenal Yang Mahakudus? Bila hikmat dikaitkan kepada pengetahuan, sebab bukankah penulis menulis bahwa berbahagialah orang yang mendapat hikmat, orang mendapatkan kepandaian ( Ams 3:13) sehingga dalam ayat ini ada keterkaitan erat antara hikmat dan kepandaian yang identik atau serupa dengan pengetahuan? Apakah hikmat yang dimaksud dalam Amsal adalah kebijaksanaan yang memiliki hubungan dalam keagamaan atau etika dan agama sebab terkait dengan Yang Mahakudus?
Hikmat berseru nyaring di jalan-jalan, di lapangan-lapangan ia memperdengarkan suaranya ( Ams 1:20) Penulis menyatakan bahwa di jalan-jalan pun ada hikmat yang berseru agar manusia mengamati hikmat di jalan-jalan. Bila di jalan-jalan ada hikmat, mengapa harus dikaitkan dengan takut akan Tuhan dan mengenal Yang Mahakudus? Adakah perbedaan hikmat di jalan-jalan dengan TUHANlah yang memberi hikmat? Bukankah melalui pengamatan, penelitian segala sesuatu yang ada di jalan-jalan dan atau lingkungan hidup manusia, manusia memperoleh hikmat? Dimanakah keutamaan hikmat yang berasal dari TUHAN? Bukankah manusia juga diberi kepintaran dan dianjurkan memperoleh kecerdikan ( Ams 14:8) dan mempelajari segala sesuatu yang mendatangkan hikmat? Bukankah dengan hikmat rumah didirikan, dengan kepandaian itu ditegakan ( Ams 24:3; 9:1) sehingga seorang ahli teknik bangunan dapat dikatagorikan sebagai orang berhikmat dan itu dapat dipelajari di bangku sekolah hingga perguruan tingga pasca sarjana? Bukankah tongkat dan teguran mendatangkan hikmat, tetapi anak yang dibiarkan mempermalukan ibunya ( Ams 29:15; 31:26) sehingga hikmat diperoleh dari hasil didikan seorang ibu dan juga dibantu ayah dan mungkin sejumlah pendidik dalam suatu komunitas dapat menghasilkan orang yang berhikmat? Bukankah, bila mengamati Amsal 8:12; 10:13 maka akan diketahui bahwa hikmat itu berdiam dalam kecerdasan, pengetahuan dan kebijaksanaan sehingga orang bodoh, orang bebal dan pencemooh hikmat sulit meraih hikmat ( Ams 24:7; 14:33; 11:2;14:6) Bukankah hikmat yang berseru di jalan-jalan adalah landasan dasar untuk memperoleh hikmat terlebih-lebih bila memperhatikan Amsal 4:7 sehingga memungkinkan dapat berjalan di jalan yang lurus ( Ams 4:11)?
Alinea di atas menunjukkan manusia dapat memperoleh hikmat karena adanya kemauan untuk memperoleh hikmat yang sejajar dengan pernyataan Amsal 4:5; 2:2 lalu mengapa penulis Amsal yakni Salomo bahwa takut akan Tuhan adalah didikan yang mendatangkan hikmat, dan kerendahan hati mendahului kehormatan? Bukankah penulis yang sama telah menunjukkan bahwa ada banyak jalan untuk memperoleh hikmat? Amsal dengan jelas menunjukkan bahwa banyak jalan memperoleh hikmat saat kita serius mendengar hikmat berseru nyaring di jalan-jalan yang berarti hikmat ada disekeliling kita, apakah arti semuanya ini? Penulis Amsal menyatakan bahwa aku ( hikmat) ada serta-Nya sebagai anak kesayangan…. aku bermain-main di atas muka bumi-Nya dan untuk anak-anak manusiamenjadi kesenanganku ( Ams 8:30-31)
 Apakah ada alasan yang dikemukakan oleh penulis Amsal, Raja Salomo tentang mengapa harus takut akan Tuhan terlebih dahulu? Bukan hikmat dapat ditemui sebab hikmat bermain-main di atas muka bumi-Nya. Melalui riset, belajar dan memperhatikan disekeliling kita, bukankah itu sudah memiliki hikmat? Apakah karena hikmat ada serta TUHAN sebagai anak kesayangannya maka kita harus takut TUHAN? Ataukah ada pengertian lain tentang hikmat, dan bila ada apakah yang menjadi dasar pertimbangan serta apakah manfaat istimewanya?
Penulis Amsal menulis bahwa tidak ada hikmat dan pengertian, dan tidak ada pertimbangan yang menandingi TUHAN ( Ams 21:30) Apakah pernyataan ini menjadi kunci jawaban untuk membenarkan pernyataan “Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan…”? Apakah fungsi hikmat yang terutama dalam mencari hikmat sehingga harus dimulai dengan takut akan TUHAN? Bukankah hikmat berfungsi agar harta tidak boros terbuang? ( Ams 29:3), Bukankah hikmat membuat masa depan menjadi penuh harapan ? ( Ams 24:14) Bukankah hikmat melebihi dari emas dan perak ? ( Ams 16:16) Bukankah hikmat akan membuat jiwa senang? ( Ams 2:10) Bukankah manfaat hikmat di atas dapat diperoleh oleh orang atheis yang tidak mau percaya dan mengakui ada TUHAN? Mengapa Salomo tetap berpendapat bahwa “Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan”?
Bila mengamati undangan hikmat yang terdapat dalam Amsal 9, maka diketahui bahwa hikmat berperan penting  untuk meraih hidup. ( Ams 9:6) Apakah meraih hidup itu berkonotasi dengan umur panjang seperti yang tertulis di Amsal 9:11 ataukah umur panjang adalah bagian kecil dari pengertian hidup? Bila umur panjang adalah ukuran memperoleh hikmat, mengapa orang yang tidak berhikmat akan masuk kepada arwah-arwah dalam konotasi dunia orang mati? ( Ams 9:18) Dengan adanya keterkaitan hikmat dengan takut akan TUHAN serta keterkaitan hikmat dengan memperoleh hidup dalam pengertian dunia orang hidup yang berkonotasi hidup kekal dalam kerajaan Bapa, Allah Yang Kekal, maka pengertian hikmat dalam kitab Amsal bukan sekedar sesuatu hikmat yang jangka pendek dengan manfaat hanya di bumi tetapi hikmat yang juga memiliki manfaat dalam dunia kekekalan. Kitab Amsal mengajarkan pembacanya untuk memperoleh hikmat secara menyeluruh yang berguna baik untuk hidup di bumi dan untuk hidup yang kekal. Apakah manfaat hikmat yang dimaksudkan dalam mencari hikmat yang di dahului dengan takut akan TUHAN? Penulis Amsal menyatakan bahwa aku ( hikmat ) berjalan pada jalan kebenaran, di tengah-tengah jalan keadilan. ( Ams 8:20) Bila dikatakan permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN mendatangkan hikmat yang membuat berjalan pada jalan kebenaran, bukankah pernyataan itu sejajar dengan Amsal 16:6 bahwa orang yang takut akan TUHAN menjauhi kejahatan. Bila dalam Amsal 8:20 dalam pernyataan positif yang memiliki persamaan dengan menjauhi kejahatan sebagai inti dari mengejar hikmat.
Yesus mengatakan bahwa Raja Salomo dengan hikmatnya mengatakan ada sejumlah orang serius mendengarkan hikmat Salomo yang menbawa mereka menemukan kebenaran ( Mat 12:42; Luk 11:31) dan Yesus menyatakan diri-Nya lebih dari Salomo. Apakah keterkaitan Yesus dengan pengajaran hikmat Salomo sehingga berkesimpulan bahwa Yesus lebih dari Salomo dalam masalah hikmat? Apakah Yesus adalah hikmat yang dimaksud kitab Amsal 8:30-31? Bukankah hikmat Yesus menurut Yesus sendiri melebihi Salomo?
Dalam Injil Yohanes menjelaskan  ”Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah… segala sesuatu dijadikan oleh Dia… sehingga hikmat yang dimaksud Amsal adalah bukan Yesus tetapi Yesus yang menjadikan hikmat itu ada….”( Yoh 1:1-3) dengan penjelasan yang terperinci misalnya terdapat dalam Yohanes 14:6 yang berbunyi: Kata Yesus kepadanya:” Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Bila dibandingkan dengan Amsal 8:20 yang tertulis bahwa hikmat berjalan pada jalan kebenaran maka berarti hikmat berjalan dalam Yesus yang adalah kebenaran bukan karena Yesus berhikmat maka Yesus berjalan dalam kebenaran sebab Yesus adalah kebenaran itu sendiri yang telah menciptakan hikmat sehingga hikmat adalah suatu benda abstrak yang dicuptakan sebelum menciptakan langit dan bumi. Melalui hikmat maka ada hukum gravitasi dan hukum aerodinamika, melalui hikmat ada hukum kematian dan hukum kehidupan tetapi yang menciptakan semua adalah Allah yang telah dijelaskan dalam Yohanes 1:1-3.
Bila mengamati Yohanes 1:4,9 bahwa Yesus adalah “Terang” dan jika dihubungkan dengan buah terang adalah kebaikan dan keadilan dan kebenaran ( Ef 5:9) maka jelaslah bahwa hikmat yang berjalan dalam kebenaran adalah suatu ciptaan yang sangat erat kaitan dengan Terang Sumber Hidup.
Dalam hikmat Salomo, Salomo mengatakan bahwa dengan kasih dan kesetiaan, kesalahan diampuni ….( Ams 16:6) Dalam hikmat mengenal ada kasih dan kesetian dan Yesus kita melihat kasih dan kesetiaan. Dalam hikmat Salomo, Salomo mengenal adanya korban tebusan ( Ams 14:9) dalam Yesus kita mengenal Ia datang untuk memikul dosa isi dunia. ( Yoh 1:29)
Mengejar hikmat yang berseru di jalan-jalan adalah sesuatu yang penting sekalipun Yesus pencipta hikmat menunjukkan inti utama hikmat adalah keselamatan yang kemudian tampak jelas saat Firman menjadi manusia dan menebus kita sebagai hakikat hikmat yang membawa kepada kekekalan, tetapi selama ada di dunia kita membutuhkan hikmat-hikmat lainnya agar kita bijaksana. Hikmat lain yang diperlukan dalam kehidupan dibumi agar hidup lebih bijak berseru di jalan-jalan dan hadir disekeliling kita.

 

Tipe Cewek Baik Menurut Amsal 31

Amsal 31 sering membicarakan mengenai istri yang bijak, namun wanita-wanita kebanyakan merasa Amsal 31 itu sulit dilakukan. Tapi, di sini kita akan membahas lebih rinci tapi sederhana, sehingga tidak mustahil bagi seorang wanita untuk menjadi wanita dalam Amsal 31 dan pria dapat menemukan wanita seperti itu dengan mudah. Berikut ulasannya :
a.      Hati suaminya percaya kepadanya
Kepercayaan merupakan hal yang sangat penting. Jika di dalam dunia kerja, orang yang sudah tidak bisa dipercaya akan dipecat. Jika di dalam hubungan, wanita yang dapat dipercaya diibaratkan seorang wakil yang dapat diajak bekerjasama dengan baik. Para pria dapat melihat wanita yang seperti ini dengan melihat perkataannya dan perbuatannya, apakah dapat dipercaya atau tidak.

b.      Ia mencari bulu domba dan rami
Bukan berarti dia benar-benar mencari bulu domba ataupun rami. Tapi di sini ditekankan kalau wanita yang baik itu berusaha sekuat tenaganya di dalam segala hal. Mungkin ada kekurangan di sana-sini, tapi niatnya untuk mencoba dan berusaha lebih baik lagi biasanya dapat kelihatan.
c.       Ia mengikat pinggangnya dengan kekuatan
Kekuatan wanita bukanlah kekuatan fisik,namun justru kelembutannya. Wanita yang kuat adalah wanita yang dengan lembut memperlakukan orang lain meskipun tidak lemah gemulai bahkan terkesan tomboy, tapi lebih dari itu, kelembutan seorang wanita dapat dilihat dari hatinya.
d.      Ia memberikan tangannya kepada yang tertindas
Jika seorang pria memberi mulutnya / perkataan untuk mereka yang tertindas. maka seorang wanita di samping pria itu dapat mengulurkan tangan buat orang yang tertindas tersebut. Mereka bersama-sama membangun keluarga yang memberi dampak buat orang lain, yang menyenangkan Tuhan.
Ketika seorang cowok mencari cewek dengan tipe-tipe seperti di atas, bukan hal yang mustahil rumah tangga yang dibangun akan membuat pasangan ini makin bertumbuh di dalam Tuhan dan makin dewasa. Semua orang akan menyebut mereka berbahagia, meski di dalam beban hidup sekalipun.


Orang Tua dan Anak

Amsal 1-9 biasanya disebut sebagai “pembimbing ke kitab Amsal” atau “prolog”. Sebagai pembimbing, bagian pertama kitab ini mau mengantar pendengar atau pembacanya untuk mencintai hikmat dan menunjukkan sikap serta persyaratan-persyaratan yang dibutuhkan untuk memperoleh hikmat. Nada pengajarannya sangat kuat. Jenis sastra yang digunakan adalah wejangan. Seluruhnya ada 10 wejangan. Amsal 1:8-9, berfungsi sebagai pendahuluan, mencantumkan perintah sang guru hikmat untuk memperhatikan didikan orang tua. Elemen utama pendahuluan ini ada pada kalimat perintah utama di ayat 8. Untuk mempertegas perintah itu, kalimat perintah pada ayat 8a, dipertentangkan dengan kalimat perintah negatif pada ayat 8b dan disejajarkan dengan kalimat motif pada ayat 9. Mengapa guru hikmat mencantumkan hal itu? Karena tujuannya agar seorang anak selalu mendengarkan apa yang dikatakan oleh orang tuanya. Karena hikmat itu sendiri adalah keterampilan yang dibutuhkan untuk hidup atau petunjuk praktis untuk hidup sehari-hari.
1. Memperhatikan Didikan Orang Tua (Amsal 1:8)
Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu (1:8).
(musar): “didikan”, yaitu didikan seorang ayah yang tegas untuk mendisiplinkan atau mengoreksi anaknya dalam sikap dan tingkah laku yang tidak benar. (Torath): Kata benda feminin, arti harfiahnya “ajaran”, di sini maksudnya ajaran feminis seorang ibu kepada anaknya, yaitu ajaran lembut yang penuh kehangatan dan kasih sayang. Ajaran ini berfungi sebagai “dorongan” yang sangat bermanfaat. Selain bermakna ajaran, kata ini juga berarti “undang-undang” atau “aturan” yang keras dan tegas. “janganlah kau menyia-nyiakan”, kata kerja bentuk perintah negatif dari akar kata natasy, artinya janganlah kau dengan sengaja “meninggalkan”, “menyia-nyiakan”, “melalaikan”.

Penjelasan
Di dalam kitab Amsal sering kita temukan kata-kata sapaan “hai anakku”. Kata sapaan ini menunjukkan adanya tempat yang dasariah dari hikmat orang tua. Bagian ini adalah yang pertama menggunakan kata “anakku” (bdk. 1:10, 15; 2:1; 3:1, 11, 21; 4:10, 20; 5:1; 6:1, 3, 20; 7:1; 19:27; 23:15, 19, 26; 24:13, 21; 27:11). Kata “anakku” pada ayat 8a adalah istilah yang juga biasa digunakan seorang guru ketika menyapa anak didiknya. Istilah ini digunakan karena tanggung jawab seorang guru dalam mendidik muridnya sama beratnya dengan tanggung jawab seorang bapa dan seorang ibu terhadap anak-anaknya. Si guru memerintahkan muridnya tidak hanya untuk mendengarkan, tetapi memperhatikan dengan serius, mengerti kemudian menaati didikan si ayah. Didikan seorang ayah bersifat tegas, keras, bertujuan untuk mengoreksi dan mendisiplinkan anak-anaknya dalam seluruh aspek kehidupannya. Kalau perlu dilakukan dengan menggunakan hukuman (Bdk. 13:24; 22:15; 23:13-14). Didikan ayah yang tegas dipasangkan dengan ajaran (torath) ibu yang merupakan dorongan yang penuh kasih sayang. Ajaran seperti ini sangat dibutuhkan orang-orang muda, karena selain berbentuk bimbingan yang hangat, ajaran tersebut juga mengimbangi didikan ayah yang keras. Dalam periode tertentu, dalam masyarakat Israel bisa saja peranan ibu lebih dominan daripada ayah. Ayah yang tegas dan ibu yang penuh kasih, sama-sama bertanggung jawab dan saling melengkapi di dalam mendidik anak-anak mereka. Jadi, dapat kita simpulkan di sini bahwa peranan ayah dan ibu sangat penting untuk mendidik anak-anak dalam keuarga sehingga anak-anak itu kelak akan berguna dan tidak terjatuh ke dalam hal-hal yang tidak diinginkan.
2. Manfaat Didikan Orang Tua (Amsal 1:9)
dorongan pada ayat 8 di atas sekarang dipertegas dalam ayat 9 yaitu manfaat dari hikmat atau manfaat didikan orang tua.
sebab karangan bunga yang indah itu bagi kepalamu, dan suatu kalung bagi lehermu (1:9)
“karangan bunga” artinya paralel dengan “mahkota kemuliaan” dalam Amsal 4:9.
(naqim): “kalung-kalung”. Karena bentuknya jamak, maka diartikan sebagai kalung-kalung yang artinya bahwa kalung itu bukan hanya satu tetap banyak. Kalung dan karangan bunga merupakan hiasan mulia dan indah yang biasa digunakan orang muda Israel kuno.
penjelasan
Robert Alden mengatakan bahwa kita tidak tahu seperti apa karangan bunga atau kalung yang disebutkan pada ayat 9 ini, karena hal itu tidak penting. Yang terpenting dari ayat ini adalah ketaatan pada ajaran orang tua akan memberi berkat. Tidak ada satu pemudapun yang tidak menginginkan karangan bunga atau seorang pemudi yang tidak ingin memiliki sebuah kalung. Untuk memperoleh hal tersebut, amsal ini ingin menasihati agar pemuda-pemudi menerima nasihat dan ajaran dari ayah dan ibu. Risnawaty Sinulingga melihat bahwa kedua istilah tersebut digunakan untuk menjelaskan bahwa manfaat didikan dan dorongan itu adalah untuk kehidupan masa kini dan masa depan, dalam bentuk kehidupan yang indah, mulia bahkan terhormat. Kemuliaan dan kehormatan akan mereka miliki bukan hanya dalam kehidupan berkeluarga, tetapi juga dalam pekerjaan, atau peran lain di tengah masyarakat. Kehidupan anak itu akan seindah ddan semulia emas yang selalu berharga.



Relevansi
Dari bagian amsal yang kita baca di atas, ada beberapa hal yang dapat kita pelajari:
1. Ada kewajiban orang tua untuk mendidik anaknya. Hal ini dilakukan bukan hanya di rumah saja, tetapi di masyarakat, anak-anaknya harus diajar bagaimana menjadi orang yang berguna bagi masyarakat. Dalam mendidik anak-anak, antara suami dan istri harus saling mendukung. Artinya bahwa, didikan yang dilakukan kepada anak haruslah sesuai dengan apa yang berkenan kepada Tuhan.
2. Tugas seorang anak atas didikan orang tuanya adalah menjaga agar didikan orang tuanya itu menjadi berguna dan bermanfaat dalam hidupnya. Seorang anak yang baik, pastilah didikan orang tuanya yang dia sudah yakini mampu memberikan pelajaran yang baru dan berguna untuknya. Anak yang berbakti kepada orang tua akan mendatangkan sukacita bagi orang tuanya apalagi kalau dia berhasil dalam melaksanakan apa yang diiginkan oleh orang tuanya.
3. Didikan yang diajarkan oleh orang tua haruslah diperhatikan oleh si anak agar kelak dia berjalan dengan pertolongan dan tuntunan dari Tuhan. Tuhan akan memberikan hikmat kepada anak-anak yang menaati orang tuanya karena orang tua adalah wakil Allah di dunia ini. Kalau seorang anak menghormati dan menaati segala perintah orang tuanya, maka dia sendiri sudah menaati apa yang dikatakan oleh Tuhan dalam hidupnya. Ketika dia menghormati oorang tuanya, berarti juga dia telah menghormati Tuhan.
4. Didikan itu bersifat kekal dan tidak berhenti hanya ketika diperlukan saja. Tetapi didikan itu berlaku untuk selama-lamanya. Artinya di sini, didikan itu untuk menuntun kepada hidup yang lebih baik dan bijaksana. Hikmat yang diperlukan akan diberikan oleh Tuhan kepada siapa saja yang memelihara perintah dan perkataan orang tuanya terlebih mendengarkan apa yang Tuhan kehendaki dalam kehidupan setiap manusia bukan hanya kepada anak-anak tetap ini berlaku untuk semua orang. Di sini anak-anak bukan hanya anak-anak dalam keluarga, tetapi anak-anak Tuhan yang sangat dikasihi. Oleh karena itu didikan Tuhan kepada semua anak-anaknya adalah bukan hanya pada saat tertentu saja, sebagaimana orang tua mengasihi anaknya, begitu juga Tuhan sangat sayang kepada setiap manusia.
5. Berikan yang terbaik bagi orang tua agar hikmat itu berguna dan akan sangat bermanfaat ketika perintah dan ajaran dari orang tua diindahkan sehingga akan menuntun kepada jalan kebenaran dan tidak berjalan dalam kegelapan karena Tuhan senantiasa memelihara segenap manusia ketika dia mengindahkan perintah dari Tuhan.
6. Hendaknya setiap manusia menaati segala perintah Tuhan yang adalah sumber dari segala sesuatu dan sumber dari hikmat itu sendiri.

Berapa lama anak-anak harus menghormati orang tua mereka? Ada dalam Alkitab, ”Dengarkanlah ayahmu yang memperanakkan engkau, dan janganlah menghina ibumu kalau ia sudah tua” (Amsal 23:22).
Disiplin yang tepat waktu adalah suatu ungkapan kasih orang tua. Ada dalam Alkitab, "Tidak memukul anak, berarti tidak cinta kepadanya; kalau cinta, harus berani memukul dia” (Amsal 13:24).
Anak-anak seharusnya belajar dari orang tua mereka. Ada dalam Alkitab,"Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu” (Amsal 1:8).
Hidup ceroboh membawa malu kepada orang tua. Ada dalam Alkitab,"Pemuda yang mentaati hukum adalah orang bijaksana. Tetapi orang yang bergaul dengan orang pemboros memalukan ayahnya” (Amsal 28:&, BIS).
Adalah salah mengambil keuntungan yang tidak adil dari orang tua. Ada dalam Alkitab, "Siapa mencuri dari orang tuanya dan menyangka itu bukan dosa, sama dengan pencuri-pencuri lainnya” (Amsal 28:24, BIS).

Selasa, 02 Februari 2016

ETIKA MORAL DALAM PERJANJIAN LAMA



ETIKA MORAL DALAM PL

Etika Perjanjian Lama adalah aturan atau norma-norma yang belaku pada masa Perjanjian Lama. Etika ini berasal dari Etika Yahudi dan tradisi yang berkembang pada saat itu. Sumber utama etika ini masih dapat bertahan melalui tradisi oral atau lisan yang berkembang dalam bangsa Israel, yaitu sang orangtua menceritakan berbagai hal kepada anak-anaknya.
Dalam  narasi penciptaan, kitab Kejadian menggambarkan Allah sebagai Sang Tertib. Karya Sang Tertib ini dapat dilihat dalam hal diubahnya kekacaubalauan menjadi teratur, baik dan indah. Peristiwa ini hendak menegaskan bahwa Allah Sang Pencipta adalah Allah yang tidak menyukai ketidakteraturan, baik dalam kehidupan individu maupun kolektif bahkan bumi secara keseluruhan. Penciptaan manusia pertama, Adam dan Hawa disertai kewajiban-kewajiban mensyaratkan kebebasan dan tanggung jawab etis, demi menjaga kehidupan yang kudus yang tertib di hadapan Allah dan hubungannya dengan sesama dalam kapasitas mereka sebagai mitra dalam penciptaan.

Hukum Taurat dalam kaitannya dengan etika

Karya Allah dalam seluruh peristiwa sejarah Israel merupakan titik tolak utama dalam Etika Perjanjian Lama. Peristiwa pemanggilan Abraham yang berujung pada perjanjian dan menyelamatan bangsa Israel dari perbudakan merupakan landasan yang paling utama dari seluruh tindakan etis bangsa Israel. Seluruh peristiwa sejarah yang dilakukan Allah dimaknai sebagai seluruh karya Allah yang harus ditanggapi bukan secara intelektual untuk menelusuri tujuan Allah tetapi melalui tanggapan etis yaitu, penyesuaian cara hidup dengan tindakan dan sabda Allah.[1]
Tindakan menurut sabda Allah adalah landasan utama yang melandasi segala tindakan yang lahir dari komunitas ini. Hukum Taurat menjadi dasar yang paling utama yang mengatur seluruh keberlangsungan kehidupan mereka dalam segala aspek. Hukum Taurat dipandang sebagai bentuk yang paling penting karena keseluruhan isinya mengatur tentang bagaimana seharusnya mereka melaksanakan tugasnya sebagai umat pilihan Allah baik dalam hubungannya secara individual, kolektif maupun sebagai bangsa. Christoph Barth menjelaskan bahwa, Taurat sebagai pengajaran atau hukum yang berkembang di kalangan Israel dan penekanan terhadap penggunaannya terjadi pada masa Israel berada di pembuangan. Hukum Taurat mengacu kepada kelima kitab Taurat yang diajarkan oleh Musa, yaitu Kejadian sampai dengan Ulangan. Taurat merupakan sebutan bagi seluruh hukum yang terdapat dalam Perjanjian Lama. Hukum taurat lahir bukan untuk menduduki keberadaannya sebagai hukum yang terpisah. Hukum taurat lahir bersama-sama dengan kisah perjanjian antara Allah dengan umat pilihan-Nya. Melalui keberadaan hukum inilah, tindakan manusia sebagai umat Allah diberitahukan oleh Allah. Allah memberikan hukum-Nya agar umat-Nya bertindak sesuai kekudusan Allah.[2]
Dalam Perjanjian Lama, pengelompokan terhadap jenis hukum terdiri atas empat bagian. Wright menjelaskan bahwa keempatnya adalah, Dasa Titah yang isinya merupakan perintah Allah yang diberikan pada peristiwa Sinai. Kitab Perjanjian menempati posisinya yang kedua, seluruh isinya berkaitan dengan ketetapan-ketetapan yang mengatur kehidupan masyarakat secara sosial. Selain itu, terdapat pula Kumpulan Imamat yang isinya menekankan tentang bagaimana sebagai komunitas yang menjaga kekudusan dihadapan Allah melalui tindakan kepada Allah dalam peribadahan maupun kepada sesama. Terakhir, yaitu Kumpulan Ulangan adalah pengulangan terhadap bentuk hukum yang sebelumnya telah diungkapkan serta memberikan penekanan langsung terhadap penggunaan berbagai hukum tersebut. Berbagai bentuk hukum yang telah klasifikasikan di atas tetap menjadi suatu hukum yag terikat dalam satu bentuk hukum yaitu, Hukum Taurat.[3]
Dengan demikian, dapat dilihat dengan jelas bahwa hukum taurat menduduki peranan yang sangat penting dalam kehidupan bangsa Israel. Hukum  Taurat merupakan landasan paling utama yang mengatur seluruh kehidupan bangsa Israel dalam  tatanan hidup yang berarah pada kekudusan di hadapan Allah. Hukum  Taurat mengatur bagaimana umat pilihan Allah bertindak sesuai dengan ketetapan Pemiliknya.
Pengajaran nabi-nabi Israel dalam kaitannya dengan Hukum Taurat dan etika
Bahwa Allah yang menetapkan Israel sebagai umat perjanjian-Nya mengundang mereka di dalam dan melalui pemberitaan para nabi. Para Nabi adalah orang yang secara khusus ditetapkan untuk menyampaikan Firman Allah dalam sebuah situasi khusus tetapi firman yang mereka sampaikan selalu dihubungkan dengan perjanjian antara Allah dan umat-Nya. Kata-kata “demikianlah firman Tuhan…. “ bermaksud mengingatkan umat agar tidak melupakan perjanjian itu. Konkritnya adalah supaya mereka tidak menyembah ilah lain sebab jika mereka melakukan hal itu mereka melupakan perjanjiannya dan pasti dihukum. Umat diingatkan untuk tidak melakukan ketidakadilan sebab tindakan semacam itu tidak hanya bersifat moral tetapi merupakan bagian dari iman yang berpangkal pada perjanjian. Iman yang sesungguhnya, bukan hanya membuat upacara-upacara ritual tetapi dengan melakukan kebenaran dan keadilan bukan hanya dikalangan umat Israel tetapi juga dengan bangsa-bangsa lain dengan seluruh alam semesta.[4]
Karena nabi adalah penyampai firman Allah dan juga sebagai penyampai kehendak Allah, maka mereka harus mengingatkan setiap tindak tanduk bangsa Israel, dan bagaimanakah sikap para nabi Israel terhadap hukum Taurat?, para nabi memakai hokum Taurat dalam mengecam umat yang melakukan kesalahan atau kejahatan di mata Tuhan. Seperti dalam kitab Amos 2:7,” mereka menginjak-injak kepala orang lemah ke dalam debu dan membelokkan jalan orang sengsara; anak dan ayah pergi menjamah seorang perempuan muda, sehingga melanggar kekudusan nama-Ku;”, dalam hal ini Nabi Amos mengecam dengan memakai hokum Taurat. Namun kadangkala juga mereka tidak memakainya sebab, perkembangan bangsa Israel dari corak agraris kearah masyarakat perkotaan dan perdagangan . Namun hokum Taurat tetap dipakai sebab, hukum Taurat merupakan dasar para nabi dalam menyampaikan kehendak Tuhan. Dan para nabi bukanlah seorang pengajar aliran etika yang baru, mereka merupakan para orang yang memanggil Israel kembali kepada dasar kebangsaannya sendiri , memanggil Israel dari seluruh kejahatan sosial dan kembali kepada jalan Tuhan.

Ciri khas etika Perjanjian Lama

Bentuk utama etika Perjanjian Lama adalah prakarsa dan tanggapan. Kemudian Prakarsa dan tanggapan ini terbagi lagi kedalam empat bentuk yaitu  menanggapi perbuatan Allah, mengikuti teladan Alah, hidup di bawah pemerintahan Allah, dan menaati perintah Allah.
Etika dalam Perjanjian Lama dianggap sebagai tanggapan terhadap prakarsa ilahi. Konsep ini lahir dari sejarah bangsa Israel ketika Allah mengeluarkan mereka dari perbudakan di Mesir. Kemudian Allah memberikan hukum kepada manusia. Manusia menanggapi hukum tersebut dengan kepatuhan kepada kehendak Allah yang menjadi ungkapan rasa syukur karena sebenarnya bangsa Israel tidak layak menerima pemberian-pemberian allah tersebut. Dengan demikian etika Perjanjian Lama merujuk ke arah masa depan dimana tanggapan-tanggapan manusia akan menjadi serasi dengan cara Allah bertindak terhadap mereka. Kedua mengikuti teladan Allah dengan memperlihatkan sifat Allah melalui kelakuan manusia. Contohnya dalam pembelaan kaum lemah dan kesucian (Keluaran 22:21-22,25:23:6 janganlah kau tindas seorang orang asing, seorang janda atau anak yatim; Jika engkau meminjamkan uang kepada orang yang miskin janganlah kamu bebanan bungan uang kepadanya; Janganlah engkau memperkosa hak orang miskin). Kesucian dalam hal ini artinya terpisah dan berbeda. Umat Israel membedakan tuntutan-tuntutan Allah dengan perbolehan-perbolehan dewa-dewa yang dipuja. Maka pemisahan ini memberikan kesadaran moral. Ketiga adalah manusia berada di bawah pemerintahan Allah dan manusia menaati perintah Allah. Poin ketiga dan keempat ini saling terkait.



[1] Verne Flethcher, Lihatlah sang Manusia. Jakarta: BPK GM, 2007. hlm. 141
[2] Christoph Barth, Teologi Perjanjian Lama. (Jakarta: BPK GM, 1984), hal. 291-292.
[3] Christophel Wright, Hidup sebagai Umat Allah. (Jakarta: BPK GM, 1993}
[4] Boulton, Wayne G., Thomas D. Kennedy, and Allen Verhey (eds.). From Chirst to the World: Introductory Reading in Chirstian Ethics. Grand Rapids: Wm. B. Eedmans, 1996

Konsep Cinta Hikmat dalam Kitab Amsal

BAB I
Pendahuluan

Kata hikmat berasal dari kata Ibraninya adalah chokmah. Dalam Alkitab Terjemahan Baru, di kitab Amsal muncul 41 ayat yang berbicara mengenai hikmat sehingga kitab Amsal sarat dengan kata hikmat. Hikmat sesuatu yang sangat menarik sehingga penulis mendorong pembacanya untuk mengetahui hikmat. Kitab amsal pada umumnya memberikan nasihat bagi kehidupan “nonspiritual”. Kitab ini memberikan jawaban bukan untuk permasalahan teologia tetapi untuk bidang social dan ekonomi. Kitab amsal adalah sebuah koleksi perkataan tanpa garis besar, susunan atau perkembangannya.[1]
Pengarang dan tanggal penulisan [2]
Nama salomo dicatat pada ayat pembukaan kitab Amsal dan juga psl. 10:1 dan pasal 25:1, tetapi kita tidak dapat menyatakan salomo menulis seluruh kitab Amsal. Jelas ada beberapa pengarang yang disebut dalam kitab ini: Agur (pasal 30:1), Lemuel atau ibunya (31:1), dan orang-orang berhikmat (pasal 22:17). Kebenaran tentang asal mula kitab Amsal berada pada dua kebenaran ekstrim :
1.      Semua Amsal adalah unik bagi Israel.
2.      Semua disalin dari satu sumber.               
Tujuan dari ktab Amsal adalah untuk membuat kita menjadi lebih bijaksanan dan meningkatkan keseluruhan daya guna kebidupan kita.
BAB II
Konsep Cinta dan Hikmat
Untuk dapat membentuk suatu pernikahan atau keluarga maka dibutuhkan cinta storge antara dua orang. Dalam kitab Amsal sendiri  banyak mengajarkan tentang keluarga. Dalam kitab Amsal keluarga  merupakan dasar kehidupan masyarakat. Tiga segi dari kehidupan keluarga ditekankan dalam kitab ini, yaitu : hubungan suami-isteri, hubungan orang tua dengan anak, dan hubungan keluarga dengan Allah.[3]
Pendeta David W. F. Wong, pernah berkata jatuh cinta adalah permulaan dari sebuah perjalanan jauh menapaki bumi atau seperti yang pernah dikatakan seseorang “pernikahan itu ditentukan disurga, tetapi dilangsungkan di bumi”. Selama bertahun-tahun menjadi pendeta, ia telah memberikan koseling dan ikut mempersiapkan lebih dari dua ratus pernikahan dan ia menyimpan sebuah album yang berisi semua foto pernikahan, lengkap dengan nama dan tanggalnya. Namun ada beberapa ynag pernikahannya kandas sisanya bahkan telah memiliki anak-anak remaja[4] Namun sebenarnya cita bukanlah sebuah jalan raya yang mulus menurutnya jatuh cinta berarti jatuh ditempat-tempat yang keras.[5]
Dalam kitab Amsal 8:6-7, Raja Salomo menggambarkan cinta sebagai berikut: “Taruhlah aku seperti meterai pada hatimu, seperti meterai pada lenganmu, karena cinta kuat seperti maut, kegairahan gigih seperti dunia orang mati, nyalanya adalah nyala api, seperti nyala api TUHAN! Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta, sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya.”
Kekuatan cinta tak tertandingi oleh apapun, dalam gelora cinta Tuhan membuat hati kita tertanam dalam hadiratNya, sehingga saat kita merasakan Cinta-Nya maka kita tidak bisa menolak akan cinta-Nya yang begitu dalam. Ketika kita mengetahui bahwa Allah benar-benar mencintai kita, bahkan Dia rela menyerahkan Anak-Nya yang tunggal Yesus Kristus untuk menjadi korban menebus kita dari dosa, maka kita akan mengerti arti sebuah cinta yang sesungguhnya. Karena cinta adalah dasar dari kekristenan, sebab tanpa Cinta maka tidak ada penebusan dan pengampunan.
Untuk lebih jelas mengerti arti sebuah cinta dan kekuatan cinta, mari kita melihat sebuah contoh kehidupan dalam rumah tangga. Seorang suami yang sudah punya isteri dan anak. Singkat cerita suami ini ternyata berselingkuh dengan wanita lain. Hampir setiap malam dia tidak pernah pulang ke rumah, karena cintanya yang menggelora pada wanita lain, tanpa memperdulikan anak dan isterinya yang sedang menunggu di rumah. Setiap suami terima gaji, bukannya dia berikan kepada isterinya tapi malah dia berikan kepada wanita lain. Sampai suatu saat suami itu pulang ke rumah isterinya, tapi bukannya pulang membawa hadiah, tapi dia pulang dengan tujuan untuk mengambil BPKB mobil dan menjual mobilnya dan hasil penjualannya dia berikan kepada kekasih gelapnya, setiap kekasih gelapnya meminta sesuatu kepada suami orang ini, maka suami itu melakukannya demi wanita lain, sampai-sampai pada akhirnya suami yang sedang dilanda cinta itu menjual sertifikat tanahnya demi menyenangkan kekasih gelapnya.
Kisah  diatas memang terkesan cinta yang keliru, tapi saya ingin membuka pikiran kita bahwa sesungguhnya cinta itu mempunyai kekuatan yang sangat dahsyat, bila seseorang dilanda cinta, maka apapun akan dia lakukan untuk menyenangkan hati orang yang dicintainya. Bila gelora cinta itu terus membara bagai api, maka api itu semakin hari semakin besar dan tak terpadamkan. Hambatan, tantangan dan rintangan apapun akan dia lewati bahkan bila perlu dia akan menyerahkan dirinya sendiri untuk menyenangkan hati orang yang dicintainya.[6]
Hikmat Ibrani adalah seni untuk mencapai keberhasilan dan kitab Amsal adalah buku petunjuk utnuk hidup yang berhasil. Dengan mengutip dan melukiskan kebiasan hidup yang negative dan positif, Amsal menjelaskan perilaku yang benar dan yang salah dalam berbagai keadaan. Di dalamnya memang tidak ada keterangan mengenai sejarah Israel dan tema-tema besar nubuat para nabi  (misalnya perjanjian). Tetapi itu tidak berarti pengarangnya tidak memperhatikan hal-hal tersebut malah, tujuannya adalah untuk menerapkan prinsip-prinsip iman perjanjian Israel dalam sikap dan pengalaman sehari-hari. Hokum kasih (Im 19:18; Ul 6:5; bnd. Mrk 12:29-31) merupakan pokok yang sangat penting dalam PL dan Kitab Amsal berfungsi sebagai penjelasan yang luas mengenai hal itu. Setiap orang Israel memandang hukum Allah sebagai kewajiban masyarakat yang menuntut kesetiaan dan ketaatan penuh. Hal ini dekat konsep takut akan Tuhan sebagai permulaan hikmat (Amsal 1:7; 2:5; 9:10; Ayb 28:28; Mzm 111:10). Hampir  sama dengan pengenalan akan Allah seperti yang ditekankan dalam kitab nabi-nabi besar, kewajiban ini merupakan kesadaran untuk memperkenan Allah dalam setiap segi kehidupan.[7]



BAB III
Konsep Cinta Hikmat dalam Keluarga
a.      Isteri yang cakap (Amsal 12:4; 31:10-31)[8]
Biasanya hubungan antara manusia paling penting yang pernah akan kita miliki adalah dengan suami atau istri. Pasangan hidup yang baik akan ikut menyumbang kebahagiaan, sukacita, dan keberhasilan, sedangkan pasangan yang tidak baik akan menyebabkan banyak kesusahan dan kesedihan. Ketika mencari pasangan hidup, kita harus mempertimbangkan sifatnya dan komitmennya kepada Kristus dan standar-standar hidup kudus-Nya, sehingga kita tidak menikahi orang yang salah dan menyesal seumur hidup.[9]
Isteri yang cakap. Frasa ini dipakai lagi dalam 31:10. Kata hayil, jika dikaitkan dengan orang laki-laki, khususnya tentara, berarti "kekuatan." Mengacu pada isteri, kata itu menggambarkan sifat-sifat baik seorang perempuan, barangkali "sifat mulia." Amsal 11:16 berbicara tentang perempuan yang murah hati; 19:14 merujuk kepada perempuan yang berakal budi (bijak). Semua istilah ini menurut konteks Kitab Amsal berbicara mengenai seorang perempuan yang baik dalam berbagai aspek.[10] Satu hal yang penting mengenai wanita dalam kitab Amsal ialah kepemimpinannya yang dinyatakan di dalam rumahnya. Meskipun ia menikah ndengan seorang pria yang mulia. Dia mengatur rumah dan membuat keputusan-keputusan penting. Israel kuno mungkin seperti kebanyakkan kebudayaan lain di mana pria adalah pemimpin sementara “kuasa di balik takhta” tetapi yang sebenarnya ialah wanita.[11]
Wanita ini berdedikasi kepada suaminya. Semua yang dikatakan  dan dilakukan olehnya ialah mendukung, membangun, mendorong dan meneguhkan suaminya.dia adalah yang pertama bangun pagi, dia bangkit bersama fajar utnuk menyediakan makanan pagi dan memeberi petunjuk kepada pelayan-pelayannya . ia melakukan semua pekerjaan dengan semangat dan bergairah. Meskipun sibuk dengan rumah tangganya dia tidak lupa dengan keperluan orang lain. Dia kaya bukan karena mementingkan diri atau pelit tetapi karena Tuhan memeberkati dia. Dia dengan bijaksana mencukupi keperluan anggota keluarganya. Akhirnya dalam pasal 31:23 mencatat suaminya menjadi seorang yang terhormat. Ayat 28 mengatakan seorang wanita seperti ini menerima pujian tertinggi dari anak-anaknya yang “memanggil dia berbahagia” dan suaminya memuji dia. Ayat terakhir dari kitab Amsal ini berkata (amsal 31:31) “berilah kepadanya bagian dari hasil tangannya”, kata guru hikmat “dan biarlah perbuatannya memuji dia di pintu gerbang”. Apa yang ia lakukan membuat ia menjadi wanita teragung, dan suami dan anak-anaknya memuji dia.[12]
Pasal 31: 10-31 dipisahkan dari perkataan-perkataan Lemuel oleh karena bentuk sanjak akrostik (menurut abjak). Penulisnya tidak disebutkan tetepi jelaslah bahwa puisi ini dikarang dengan cermat. Bentuk akrostik tidak hanya membantu dalam menghafalny tetapi juga berfungsi untuk menegaskab pengertian yang menyeluruh dalam gambaran mengenai isteri dan ibu yang sempurna.[13]


b.      Terhadap Anak (Amsal 1:8-9; 2:1-5; 3:12; 4:1-4)[14]
Pasal 1-9 menyebut kata “anakku” beberapa kali (1:8,10,15; 2:1; 3:1,11,21; 4:10,20; 6:1,3,20; dan 7:1). Kadang-kadang disebutkan dalanm bentuk jamak “anak-anak” (4:1; 5:7; 7:24; 8:32). Meskipun tidak dipakai seluruhnya dalam kitab Amsal tetapi nada seorang ayah yang sedang mengajar anaknya terdengar diseluruh kitab ini. Dalam ayat 31 dari perkataan yang disampaikan oleh ibu Lemuel, ia memperingatkan putranya mengenai dua kejahatan yang biasa dolakukan oleh orang muda, yaitu : seks dan alkohol. Kehidupan seks yang berlebihan merupakan kesalahan dari Salomo. Ayat 4-7 membicarakan tentang bahaya dari alkohol, yang sekaligus memegang peranan penting dalam kejatuhan raja Isrel, contoh raja Elah (1 Raj 16:9).[15] tongkat dan teguran mendatangkan hikmat, tetapi anak yang dibiarkan mempermalukan ibunya ( Ams 29:15; 31:26) sehingga hikmat diperoleh dari hasil didikan seorang ibu dan juga dibantu ayah.
Hanya dengan menyimpan firman Allah di dalam pikiran kita maka kita akan belajar untuk hidup dengan bijaksana dan benar dalam hubungan kita dengan Allah (ayat Ams 2:5). Kita dapat mengalahkan dosa dengan perintah-perintah Allah di dalam hati kita (Mazm 119:11) dan firman Kristus yang tinggal di dalam diri kita (Yoh 15:7; Yak 1:21).[16]




BAB IV
Konsep Cinta dan Hikmat dalam Penerapannya[17]
Alkitab menjelaskan bahwa wanita seperti juga pria diciptakan oleh Allah menurut gambar dan rupaNya (Kej. 1:27), sehingga “Alkitab harus menjadi pedoman bagi setiap wanita yang sedang mencari makna dan eksistensinya di dunia ini. Di dalam Alkitab kita dapat membaca bahwa Allah menciptakan wanita itu menurut gambar dan rupa Allah.” Dalam Perjanjian Lama, Alkitab mengungkapkan peranan wanita : “Kaum wanita dianggap bagian integral dari umat perjanjian itu sehingga ‘laki-laki, perempuan dan anak-anak’ berkumpul untuk bersama-sama mendengar pembacaan Taurat di hadapan umum dan mengambil bagian dalam ibadah (mis. Ul. 31:12). Wanita-wanita yang setia kepada Tuhan dan pemberani seperti Hana, Abigail, Naomi, Rut dan Ester dikagumi, dan secara terus menerus dititikberatkan bahwa para janda harus diayomi.”
Dalam Perjanjian Baru, Alkitab juga menceritakan bahwa Allah memakai kaum wanita dalam sejarah dan rencana keselamatan yang Dia berikan melalui Yesus : “Yesus datang dengan kegenapan waktu, lahir dari seorang perempuan (Gal. 4:4). Dalam perjalanan keliling Yesus dari kota ke kota, di samping para murid yang semuanya adalah pria, Ia ditemani juga oleh sekelompok wanita yang telah disembuhkanNya dan melayani Dia dari kekayaan mereka (Luk. 8:1). Sikap Yesus memulihkan martabat kaum wanita, Ia mengijinkan seorang pelacur mendatangiNya dari belakang sewaktu hendak duduk makan, membasahi kakiNya dengan air matanya…mungkin Yesus orang pertama yang berlaku hormat terhadap wanita ini (Luk. 7:36 dst)…rasul Paulus dalam maklumat akbarnya tentang kebebasan Kristiani…tidak ada laki-laki atau perempuan semua adalah satu di dalam Kristus Yesus (Gal. 3:28).”
Dalam Alkitab sendiri pernyataan Paulus agar wanita berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan ibadah (I Kor. 14:34) menimbulkan pro dan kontra pula, apalagi jika diteliti lebih lanjut dalam prakteknya Paulus memiliki beberapa rekan sekerja wanita dalam usahanya memberitakan Injil Kristus. Dalam Perjanjian Lama bangsa Israel pernah memiliki pemimpin wanita seperti Debora sebagai hakim, dan dalam kitab Amsal ditulis puisi tentang pujian terhadap wanita yang memiliki “kekayaan karakter” sehingga mampu berperan sebagai “wanita yang cakap”. Kekayaan karakter inilah yang menjadi dasar sikap ingin melakukan yang terbaik yang perlu dimiliki wanita Kristen masa kini sehingga dapat berperan dalam keluarga, gereja maupun masyarakat.


 BAB V
KESIMPULAN
Amsal yang ditulis untuk menjadi penuntun dalam kehidupan sehari-hari diharapkan pula dapat menuntun wanita Kristen masa kini dalam kehidupannya sehari-hari untuk dapat memiliki karakter-karakter kristiani seperti yang dimiliki wanita yang cakap dalam Amsal 31:10-31seperti dapat dipercaya, rajin, murah hati, berhikmat dan takut akan Tuhan, sehingga memampukan seorang wanita Kristen untuk dapat berperan dalam keluarga, gereja dan masyarakat, dan memberkati orang lain melalui peranannya itu.
Pembentukan karakter wanita Kristen dimulai ketika benih-benih iman yang timbul dari pendengaran akan Firman Tuhan, mulai tumbuh dan melahirkan kehidupan yang takut akan Tuhan yang menjadi dasar dari karakter kristiani yang dimiliki wanita Kristen. Iman yang tumbuh menghasilkan buah Roh (Gal. 5:22-23) dan hidup yang takut akan Tuhan menghasilkan karakter-karakter kristiani dewasa, sehingga memampukan seorang wanita Kristen untuk melakukan peranannya sesuai kehendak Allah.
Peran ganda seorang wanita sebaiknya mendorong kaum wanita untuk melakukan peranannya di rumah tangga maupun di luar rumah dengan lebih baik, kerajinan dan pendelegasian menjadi kuncinya, dimana prioritas dan keseimbangan diperlukan agar dapat melakukan peran ganda seorang wanita.



[1] Robert L. Alden, Tafsiran Praktis kitab Amsal (Malang : Literatur SAAT, 2008)5.
[2] Ibid,8
[3] David L. Baker, Mari Mengenal Perjanjian Lama (Jakarta : BPK Ganung Mulia, 2011)97
[4] David W. F. Wong, Perjalanan cinta yang teruji (Yogyakarta : Gloria Graffa dan Haggai Institute, 2003)11
[5] Ibid,12
[6]http://www.kadnet.info/web/index.php?option=com_content&view=article&id=3137:hineni&catid=34:renungan&Itemid=61
[7] W. S. LaSor. Dkk, Pengantar Perjanjian Lama II (Jakarta : Bpk Gunung Mulia, 2010)90 
[8] David L. Baker, Mari mengenal Perjanjian Lama (Jakarta : BPK Ganung Mulia, 2011)97
[9] David W. F. Wong, Perjalanan Cinta Yang Teruji (Yogyakarta : Gloria Graffa dan Haggai Institute, 2003)17
[10] Tafsiran Alkitab Masa Kini II Ayub-Maleakhi (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 1985)307
[11] Robert L. Alden, Tafsiran Praktis kitab Amsal (Malang : Literatur SAAT, 2008)294.
[12] Ibid, 195-198
[13] W. S. LaSor. Dkk, Pengantar Perjanjian Lama II (Jakarta : Bpk Gunung Mulia, 2010)102
[14] David L. Baker, Mari mengenal Perjanjian Lama (Jakarta : BPK Ganung Mulia, 2011)97
[15] Robert L. Alden, Tafsiran Praktis kitab Amsal (Malang : Literatur SAAT, 2008)289,290.
[16] Ibid,290
[17] David W. F. Wong, Perjalanan Cinta Yang Teruji (Yogyakarta : Gloria Graffa dan Haggai Institute, 2003)102-109