Rabu, 03 Februari 2016

Tipe Cewek Baik Menurut Amsal 31


Hikmat Dalam Kitab Amsal Salomo
Untuk mengetahui hikmat dan didikan, untuk mengerti kata-kata yang bermakna.
Amsal 1:2
Kata hikmat berasal dari kata Ibraninya adalah chokmah. Dalam Alkitab Terjemahan Baru, di kitab Amsal muncul 41 ayat yang berbicara mengenai hikmat sehingga kitab Amsal sarat dengan kata hikmat. Hikmat sesuatu yang sangat menarik sehingga penulis mendorong pembacanya untuk mengetahui hikmat.
Apakah yang dimaksud dengan hikmat? Apakah pengertian hikmat menurut penulis Amsal dan kaitanya dengan pengertian hikmat menurut pendapat kita? Apakah kamus-kamus yang ada dipasaran memiliki pengertian yang sama dengan hikmat dalam pengertian penulis yang ditulis oleh raja Salomo?
Bila penulis menulis bahwa dengan hikmat, TUHAN telah telah meletakan dasar bumi, dengan pengertian ditetapkan-Nya langit ( Ams 3:19), apakah bahwa Tuhan memerlukan sang hikmat sehingga Tuhan melalui hikmat meletakan dasar bumi? Mengapa hikmat sesuatu yang sangat penting dalam meletakan dasar bumi? Apakah hikmat adalah suatu kata benda berwujud ataukah hikmat yang dimaksud penulis sesuatu benda yang abstrak? Bukankah bila melihat kitab Amsal pasal 8 maka menemukan bahwa kata “Aku” adalah identik dengan pengertian hikmat, sehingga membuat pembaca cenderung berpikir bahwa hikmat adalah suatu kata benda yang menunjuk kepada seorang oknum? Apakah hikmat dapat melakukan tindakan ataukah hikmat diperlukan dalam bertindak sehingga dibutuhkan saat Tuhan meletakan dasar bumi?
Bila pertanyaan apakah Tuhan memerlukan sang hikmat untuk meletakan bumi, maka dalam Amsal 8:22 dijelaskan bahwa  TUHAN menciptakan hikmat sebagai permulaan pekerjaan-Nya. Sebagai ciptaan Tuhan, apakah hikmat adalah makhluk yang memiliki Roh ? Apakah ia suatu makhluk bernyawa dan memiliki fisik?  Ataukan sesuatu yang bukan berupa makhluk apapun namun benda ciptaan yang sangat penting saat TUHAN hendak melakukan suatu penciptaan sepanjang sejarah waktu dalam kekekalan? 
Bila penulis mengatakan takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan ( Ams 1:7) serta dalam Amsal 30:3 tersirat bahwa yang tidak mempelajari hikmat tidak akan mengenal Yang Mahakudus; bagaimanakah hubungan antara hikmat dengan Yang Mahakudus serta hikmat yang terkait dengan pengetahuan serta takut akan TUHAN? Apakah ini ada hubungan dengan kenyataan bahwa TUHAN-lah yang memberi hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian (Ams 2:6), sehingga orang yang tidak takut terhadap TUHAN tidak akan mendengarkan segala sesuatu yang berasal dari mulut-Nya yang memberi hikmat dan wajar bila berdampak tidak mengenal Yang Mahakudus? Bila hikmat dikaitkan kepada pengetahuan, sebab bukankah penulis menulis bahwa berbahagialah orang yang mendapat hikmat, orang mendapatkan kepandaian ( Ams 3:13) sehingga dalam ayat ini ada keterkaitan erat antara hikmat dan kepandaian yang identik atau serupa dengan pengetahuan? Apakah hikmat yang dimaksud dalam Amsal adalah kebijaksanaan yang memiliki hubungan dalam keagamaan atau etika dan agama sebab terkait dengan Yang Mahakudus?
Hikmat berseru nyaring di jalan-jalan, di lapangan-lapangan ia memperdengarkan suaranya ( Ams 1:20) Penulis menyatakan bahwa di jalan-jalan pun ada hikmat yang berseru agar manusia mengamati hikmat di jalan-jalan. Bila di jalan-jalan ada hikmat, mengapa harus dikaitkan dengan takut akan Tuhan dan mengenal Yang Mahakudus? Adakah perbedaan hikmat di jalan-jalan dengan TUHANlah yang memberi hikmat? Bukankah melalui pengamatan, penelitian segala sesuatu yang ada di jalan-jalan dan atau lingkungan hidup manusia, manusia memperoleh hikmat? Dimanakah keutamaan hikmat yang berasal dari TUHAN? Bukankah manusia juga diberi kepintaran dan dianjurkan memperoleh kecerdikan ( Ams 14:8) dan mempelajari segala sesuatu yang mendatangkan hikmat? Bukankah dengan hikmat rumah didirikan, dengan kepandaian itu ditegakan ( Ams 24:3; 9:1) sehingga seorang ahli teknik bangunan dapat dikatagorikan sebagai orang berhikmat dan itu dapat dipelajari di bangku sekolah hingga perguruan tingga pasca sarjana? Bukankah tongkat dan teguran mendatangkan hikmat, tetapi anak yang dibiarkan mempermalukan ibunya ( Ams 29:15; 31:26) sehingga hikmat diperoleh dari hasil didikan seorang ibu dan juga dibantu ayah dan mungkin sejumlah pendidik dalam suatu komunitas dapat menghasilkan orang yang berhikmat? Bukankah, bila mengamati Amsal 8:12; 10:13 maka akan diketahui bahwa hikmat itu berdiam dalam kecerdasan, pengetahuan dan kebijaksanaan sehingga orang bodoh, orang bebal dan pencemooh hikmat sulit meraih hikmat ( Ams 24:7; 14:33; 11:2;14:6) Bukankah hikmat yang berseru di jalan-jalan adalah landasan dasar untuk memperoleh hikmat terlebih-lebih bila memperhatikan Amsal 4:7 sehingga memungkinkan dapat berjalan di jalan yang lurus ( Ams 4:11)?
Alinea di atas menunjukkan manusia dapat memperoleh hikmat karena adanya kemauan untuk memperoleh hikmat yang sejajar dengan pernyataan Amsal 4:5; 2:2 lalu mengapa penulis Amsal yakni Salomo bahwa takut akan Tuhan adalah didikan yang mendatangkan hikmat, dan kerendahan hati mendahului kehormatan? Bukankah penulis yang sama telah menunjukkan bahwa ada banyak jalan untuk memperoleh hikmat? Amsal dengan jelas menunjukkan bahwa banyak jalan memperoleh hikmat saat kita serius mendengar hikmat berseru nyaring di jalan-jalan yang berarti hikmat ada disekeliling kita, apakah arti semuanya ini? Penulis Amsal menyatakan bahwa aku ( hikmat) ada serta-Nya sebagai anak kesayangan…. aku bermain-main di atas muka bumi-Nya dan untuk anak-anak manusiamenjadi kesenanganku ( Ams 8:30-31)
 Apakah ada alasan yang dikemukakan oleh penulis Amsal, Raja Salomo tentang mengapa harus takut akan Tuhan terlebih dahulu? Bukan hikmat dapat ditemui sebab hikmat bermain-main di atas muka bumi-Nya. Melalui riset, belajar dan memperhatikan disekeliling kita, bukankah itu sudah memiliki hikmat? Apakah karena hikmat ada serta TUHAN sebagai anak kesayangannya maka kita harus takut TUHAN? Ataukah ada pengertian lain tentang hikmat, dan bila ada apakah yang menjadi dasar pertimbangan serta apakah manfaat istimewanya?
Penulis Amsal menulis bahwa tidak ada hikmat dan pengertian, dan tidak ada pertimbangan yang menandingi TUHAN ( Ams 21:30) Apakah pernyataan ini menjadi kunci jawaban untuk membenarkan pernyataan “Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan…”? Apakah fungsi hikmat yang terutama dalam mencari hikmat sehingga harus dimulai dengan takut akan TUHAN? Bukankah hikmat berfungsi agar harta tidak boros terbuang? ( Ams 29:3), Bukankah hikmat membuat masa depan menjadi penuh harapan ? ( Ams 24:14) Bukankah hikmat melebihi dari emas dan perak ? ( Ams 16:16) Bukankah hikmat akan membuat jiwa senang? ( Ams 2:10) Bukankah manfaat hikmat di atas dapat diperoleh oleh orang atheis yang tidak mau percaya dan mengakui ada TUHAN? Mengapa Salomo tetap berpendapat bahwa “Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan”?
Bila mengamati undangan hikmat yang terdapat dalam Amsal 9, maka diketahui bahwa hikmat berperan penting  untuk meraih hidup. ( Ams 9:6) Apakah meraih hidup itu berkonotasi dengan umur panjang seperti yang tertulis di Amsal 9:11 ataukah umur panjang adalah bagian kecil dari pengertian hidup? Bila umur panjang adalah ukuran memperoleh hikmat, mengapa orang yang tidak berhikmat akan masuk kepada arwah-arwah dalam konotasi dunia orang mati? ( Ams 9:18) Dengan adanya keterkaitan hikmat dengan takut akan TUHAN serta keterkaitan hikmat dengan memperoleh hidup dalam pengertian dunia orang hidup yang berkonotasi hidup kekal dalam kerajaan Bapa, Allah Yang Kekal, maka pengertian hikmat dalam kitab Amsal bukan sekedar sesuatu hikmat yang jangka pendek dengan manfaat hanya di bumi tetapi hikmat yang juga memiliki manfaat dalam dunia kekekalan. Kitab Amsal mengajarkan pembacanya untuk memperoleh hikmat secara menyeluruh yang berguna baik untuk hidup di bumi dan untuk hidup yang kekal. Apakah manfaat hikmat yang dimaksudkan dalam mencari hikmat yang di dahului dengan takut akan TUHAN? Penulis Amsal menyatakan bahwa aku ( hikmat ) berjalan pada jalan kebenaran, di tengah-tengah jalan keadilan. ( Ams 8:20) Bila dikatakan permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN mendatangkan hikmat yang membuat berjalan pada jalan kebenaran, bukankah pernyataan itu sejajar dengan Amsal 16:6 bahwa orang yang takut akan TUHAN menjauhi kejahatan. Bila dalam Amsal 8:20 dalam pernyataan positif yang memiliki persamaan dengan menjauhi kejahatan sebagai inti dari mengejar hikmat.
Yesus mengatakan bahwa Raja Salomo dengan hikmatnya mengatakan ada sejumlah orang serius mendengarkan hikmat Salomo yang menbawa mereka menemukan kebenaran ( Mat 12:42; Luk 11:31) dan Yesus menyatakan diri-Nya lebih dari Salomo. Apakah keterkaitan Yesus dengan pengajaran hikmat Salomo sehingga berkesimpulan bahwa Yesus lebih dari Salomo dalam masalah hikmat? Apakah Yesus adalah hikmat yang dimaksud kitab Amsal 8:30-31? Bukankah hikmat Yesus menurut Yesus sendiri melebihi Salomo?
Dalam Injil Yohanes menjelaskan  ”Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah… segala sesuatu dijadikan oleh Dia… sehingga hikmat yang dimaksud Amsal adalah bukan Yesus tetapi Yesus yang menjadikan hikmat itu ada….”( Yoh 1:1-3) dengan penjelasan yang terperinci misalnya terdapat dalam Yohanes 14:6 yang berbunyi: Kata Yesus kepadanya:” Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Bila dibandingkan dengan Amsal 8:20 yang tertulis bahwa hikmat berjalan pada jalan kebenaran maka berarti hikmat berjalan dalam Yesus yang adalah kebenaran bukan karena Yesus berhikmat maka Yesus berjalan dalam kebenaran sebab Yesus adalah kebenaran itu sendiri yang telah menciptakan hikmat sehingga hikmat adalah suatu benda abstrak yang dicuptakan sebelum menciptakan langit dan bumi. Melalui hikmat maka ada hukum gravitasi dan hukum aerodinamika, melalui hikmat ada hukum kematian dan hukum kehidupan tetapi yang menciptakan semua adalah Allah yang telah dijelaskan dalam Yohanes 1:1-3.
Bila mengamati Yohanes 1:4,9 bahwa Yesus adalah “Terang” dan jika dihubungkan dengan buah terang adalah kebaikan dan keadilan dan kebenaran ( Ef 5:9) maka jelaslah bahwa hikmat yang berjalan dalam kebenaran adalah suatu ciptaan yang sangat erat kaitan dengan Terang Sumber Hidup.
Dalam hikmat Salomo, Salomo mengatakan bahwa dengan kasih dan kesetiaan, kesalahan diampuni ….( Ams 16:6) Dalam hikmat mengenal ada kasih dan kesetian dan Yesus kita melihat kasih dan kesetiaan. Dalam hikmat Salomo, Salomo mengenal adanya korban tebusan ( Ams 14:9) dalam Yesus kita mengenal Ia datang untuk memikul dosa isi dunia. ( Yoh 1:29)
Mengejar hikmat yang berseru di jalan-jalan adalah sesuatu yang penting sekalipun Yesus pencipta hikmat menunjukkan inti utama hikmat adalah keselamatan yang kemudian tampak jelas saat Firman menjadi manusia dan menebus kita sebagai hakikat hikmat yang membawa kepada kekekalan, tetapi selama ada di dunia kita membutuhkan hikmat-hikmat lainnya agar kita bijaksana. Hikmat lain yang diperlukan dalam kehidupan dibumi agar hidup lebih bijak berseru di jalan-jalan dan hadir disekeliling kita.

 

Tipe Cewek Baik Menurut Amsal 31

Amsal 31 sering membicarakan mengenai istri yang bijak, namun wanita-wanita kebanyakan merasa Amsal 31 itu sulit dilakukan. Tapi, di sini kita akan membahas lebih rinci tapi sederhana, sehingga tidak mustahil bagi seorang wanita untuk menjadi wanita dalam Amsal 31 dan pria dapat menemukan wanita seperti itu dengan mudah. Berikut ulasannya :
a.      Hati suaminya percaya kepadanya
Kepercayaan merupakan hal yang sangat penting. Jika di dalam dunia kerja, orang yang sudah tidak bisa dipercaya akan dipecat. Jika di dalam hubungan, wanita yang dapat dipercaya diibaratkan seorang wakil yang dapat diajak bekerjasama dengan baik. Para pria dapat melihat wanita yang seperti ini dengan melihat perkataannya dan perbuatannya, apakah dapat dipercaya atau tidak.

b.      Ia mencari bulu domba dan rami
Bukan berarti dia benar-benar mencari bulu domba ataupun rami. Tapi di sini ditekankan kalau wanita yang baik itu berusaha sekuat tenaganya di dalam segala hal. Mungkin ada kekurangan di sana-sini, tapi niatnya untuk mencoba dan berusaha lebih baik lagi biasanya dapat kelihatan.
c.       Ia mengikat pinggangnya dengan kekuatan
Kekuatan wanita bukanlah kekuatan fisik,namun justru kelembutannya. Wanita yang kuat adalah wanita yang dengan lembut memperlakukan orang lain meskipun tidak lemah gemulai bahkan terkesan tomboy, tapi lebih dari itu, kelembutan seorang wanita dapat dilihat dari hatinya.
d.      Ia memberikan tangannya kepada yang tertindas
Jika seorang pria memberi mulutnya / perkataan untuk mereka yang tertindas. maka seorang wanita di samping pria itu dapat mengulurkan tangan buat orang yang tertindas tersebut. Mereka bersama-sama membangun keluarga yang memberi dampak buat orang lain, yang menyenangkan Tuhan.
Ketika seorang cowok mencari cewek dengan tipe-tipe seperti di atas, bukan hal yang mustahil rumah tangga yang dibangun akan membuat pasangan ini makin bertumbuh di dalam Tuhan dan makin dewasa. Semua orang akan menyebut mereka berbahagia, meski di dalam beban hidup sekalipun.


Orang Tua dan Anak

Amsal 1-9 biasanya disebut sebagai “pembimbing ke kitab Amsal” atau “prolog”. Sebagai pembimbing, bagian pertama kitab ini mau mengantar pendengar atau pembacanya untuk mencintai hikmat dan menunjukkan sikap serta persyaratan-persyaratan yang dibutuhkan untuk memperoleh hikmat. Nada pengajarannya sangat kuat. Jenis sastra yang digunakan adalah wejangan. Seluruhnya ada 10 wejangan. Amsal 1:8-9, berfungsi sebagai pendahuluan, mencantumkan perintah sang guru hikmat untuk memperhatikan didikan orang tua. Elemen utama pendahuluan ini ada pada kalimat perintah utama di ayat 8. Untuk mempertegas perintah itu, kalimat perintah pada ayat 8a, dipertentangkan dengan kalimat perintah negatif pada ayat 8b dan disejajarkan dengan kalimat motif pada ayat 9. Mengapa guru hikmat mencantumkan hal itu? Karena tujuannya agar seorang anak selalu mendengarkan apa yang dikatakan oleh orang tuanya. Karena hikmat itu sendiri adalah keterampilan yang dibutuhkan untuk hidup atau petunjuk praktis untuk hidup sehari-hari.
1. Memperhatikan Didikan Orang Tua (Amsal 1:8)
Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu (1:8).
(musar): “didikan”, yaitu didikan seorang ayah yang tegas untuk mendisiplinkan atau mengoreksi anaknya dalam sikap dan tingkah laku yang tidak benar. (Torath): Kata benda feminin, arti harfiahnya “ajaran”, di sini maksudnya ajaran feminis seorang ibu kepada anaknya, yaitu ajaran lembut yang penuh kehangatan dan kasih sayang. Ajaran ini berfungi sebagai “dorongan” yang sangat bermanfaat. Selain bermakna ajaran, kata ini juga berarti “undang-undang” atau “aturan” yang keras dan tegas. “janganlah kau menyia-nyiakan”, kata kerja bentuk perintah negatif dari akar kata natasy, artinya janganlah kau dengan sengaja “meninggalkan”, “menyia-nyiakan”, “melalaikan”.

Penjelasan
Di dalam kitab Amsal sering kita temukan kata-kata sapaan “hai anakku”. Kata sapaan ini menunjukkan adanya tempat yang dasariah dari hikmat orang tua. Bagian ini adalah yang pertama menggunakan kata “anakku” (bdk. 1:10, 15; 2:1; 3:1, 11, 21; 4:10, 20; 5:1; 6:1, 3, 20; 7:1; 19:27; 23:15, 19, 26; 24:13, 21; 27:11). Kata “anakku” pada ayat 8a adalah istilah yang juga biasa digunakan seorang guru ketika menyapa anak didiknya. Istilah ini digunakan karena tanggung jawab seorang guru dalam mendidik muridnya sama beratnya dengan tanggung jawab seorang bapa dan seorang ibu terhadap anak-anaknya. Si guru memerintahkan muridnya tidak hanya untuk mendengarkan, tetapi memperhatikan dengan serius, mengerti kemudian menaati didikan si ayah. Didikan seorang ayah bersifat tegas, keras, bertujuan untuk mengoreksi dan mendisiplinkan anak-anaknya dalam seluruh aspek kehidupannya. Kalau perlu dilakukan dengan menggunakan hukuman (Bdk. 13:24; 22:15; 23:13-14). Didikan ayah yang tegas dipasangkan dengan ajaran (torath) ibu yang merupakan dorongan yang penuh kasih sayang. Ajaran seperti ini sangat dibutuhkan orang-orang muda, karena selain berbentuk bimbingan yang hangat, ajaran tersebut juga mengimbangi didikan ayah yang keras. Dalam periode tertentu, dalam masyarakat Israel bisa saja peranan ibu lebih dominan daripada ayah. Ayah yang tegas dan ibu yang penuh kasih, sama-sama bertanggung jawab dan saling melengkapi di dalam mendidik anak-anak mereka. Jadi, dapat kita simpulkan di sini bahwa peranan ayah dan ibu sangat penting untuk mendidik anak-anak dalam keuarga sehingga anak-anak itu kelak akan berguna dan tidak terjatuh ke dalam hal-hal yang tidak diinginkan.
2. Manfaat Didikan Orang Tua (Amsal 1:9)
dorongan pada ayat 8 di atas sekarang dipertegas dalam ayat 9 yaitu manfaat dari hikmat atau manfaat didikan orang tua.
sebab karangan bunga yang indah itu bagi kepalamu, dan suatu kalung bagi lehermu (1:9)
“karangan bunga” artinya paralel dengan “mahkota kemuliaan” dalam Amsal 4:9.
(naqim): “kalung-kalung”. Karena bentuknya jamak, maka diartikan sebagai kalung-kalung yang artinya bahwa kalung itu bukan hanya satu tetap banyak. Kalung dan karangan bunga merupakan hiasan mulia dan indah yang biasa digunakan orang muda Israel kuno.
penjelasan
Robert Alden mengatakan bahwa kita tidak tahu seperti apa karangan bunga atau kalung yang disebutkan pada ayat 9 ini, karena hal itu tidak penting. Yang terpenting dari ayat ini adalah ketaatan pada ajaran orang tua akan memberi berkat. Tidak ada satu pemudapun yang tidak menginginkan karangan bunga atau seorang pemudi yang tidak ingin memiliki sebuah kalung. Untuk memperoleh hal tersebut, amsal ini ingin menasihati agar pemuda-pemudi menerima nasihat dan ajaran dari ayah dan ibu. Risnawaty Sinulingga melihat bahwa kedua istilah tersebut digunakan untuk menjelaskan bahwa manfaat didikan dan dorongan itu adalah untuk kehidupan masa kini dan masa depan, dalam bentuk kehidupan yang indah, mulia bahkan terhormat. Kemuliaan dan kehormatan akan mereka miliki bukan hanya dalam kehidupan berkeluarga, tetapi juga dalam pekerjaan, atau peran lain di tengah masyarakat. Kehidupan anak itu akan seindah ddan semulia emas yang selalu berharga.



Relevansi
Dari bagian amsal yang kita baca di atas, ada beberapa hal yang dapat kita pelajari:
1. Ada kewajiban orang tua untuk mendidik anaknya. Hal ini dilakukan bukan hanya di rumah saja, tetapi di masyarakat, anak-anaknya harus diajar bagaimana menjadi orang yang berguna bagi masyarakat. Dalam mendidik anak-anak, antara suami dan istri harus saling mendukung. Artinya bahwa, didikan yang dilakukan kepada anak haruslah sesuai dengan apa yang berkenan kepada Tuhan.
2. Tugas seorang anak atas didikan orang tuanya adalah menjaga agar didikan orang tuanya itu menjadi berguna dan bermanfaat dalam hidupnya. Seorang anak yang baik, pastilah didikan orang tuanya yang dia sudah yakini mampu memberikan pelajaran yang baru dan berguna untuknya. Anak yang berbakti kepada orang tua akan mendatangkan sukacita bagi orang tuanya apalagi kalau dia berhasil dalam melaksanakan apa yang diiginkan oleh orang tuanya.
3. Didikan yang diajarkan oleh orang tua haruslah diperhatikan oleh si anak agar kelak dia berjalan dengan pertolongan dan tuntunan dari Tuhan. Tuhan akan memberikan hikmat kepada anak-anak yang menaati orang tuanya karena orang tua adalah wakil Allah di dunia ini. Kalau seorang anak menghormati dan menaati segala perintah orang tuanya, maka dia sendiri sudah menaati apa yang dikatakan oleh Tuhan dalam hidupnya. Ketika dia menghormati oorang tuanya, berarti juga dia telah menghormati Tuhan.
4. Didikan itu bersifat kekal dan tidak berhenti hanya ketika diperlukan saja. Tetapi didikan itu berlaku untuk selama-lamanya. Artinya di sini, didikan itu untuk menuntun kepada hidup yang lebih baik dan bijaksana. Hikmat yang diperlukan akan diberikan oleh Tuhan kepada siapa saja yang memelihara perintah dan perkataan orang tuanya terlebih mendengarkan apa yang Tuhan kehendaki dalam kehidupan setiap manusia bukan hanya kepada anak-anak tetap ini berlaku untuk semua orang. Di sini anak-anak bukan hanya anak-anak dalam keluarga, tetapi anak-anak Tuhan yang sangat dikasihi. Oleh karena itu didikan Tuhan kepada semua anak-anaknya adalah bukan hanya pada saat tertentu saja, sebagaimana orang tua mengasihi anaknya, begitu juga Tuhan sangat sayang kepada setiap manusia.
5. Berikan yang terbaik bagi orang tua agar hikmat itu berguna dan akan sangat bermanfaat ketika perintah dan ajaran dari orang tua diindahkan sehingga akan menuntun kepada jalan kebenaran dan tidak berjalan dalam kegelapan karena Tuhan senantiasa memelihara segenap manusia ketika dia mengindahkan perintah dari Tuhan.
6. Hendaknya setiap manusia menaati segala perintah Tuhan yang adalah sumber dari segala sesuatu dan sumber dari hikmat itu sendiri.

Berapa lama anak-anak harus menghormati orang tua mereka? Ada dalam Alkitab, ”Dengarkanlah ayahmu yang memperanakkan engkau, dan janganlah menghina ibumu kalau ia sudah tua” (Amsal 23:22).
Disiplin yang tepat waktu adalah suatu ungkapan kasih orang tua. Ada dalam Alkitab, "Tidak memukul anak, berarti tidak cinta kepadanya; kalau cinta, harus berani memukul dia” (Amsal 13:24).
Anak-anak seharusnya belajar dari orang tua mereka. Ada dalam Alkitab,"Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu” (Amsal 1:8).
Hidup ceroboh membawa malu kepada orang tua. Ada dalam Alkitab,"Pemuda yang mentaati hukum adalah orang bijaksana. Tetapi orang yang bergaul dengan orang pemboros memalukan ayahnya” (Amsal 28:&, BIS).
Adalah salah mengambil keuntungan yang tidak adil dari orang tua. Ada dalam Alkitab, "Siapa mencuri dari orang tuanya dan menyangka itu bukan dosa, sama dengan pencuri-pencuri lainnya” (Amsal 28:24, BIS).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar