BAB I
Pendahuluan
Kata hikmat berasal dari kata Ibraninya adalah chokmah.
Dalam Alkitab Terjemahan Baru, di kitab Amsal muncul 41 ayat yang berbicara
mengenai hikmat sehingga kitab Amsal sarat dengan kata hikmat. Hikmat sesuatu
yang sangat menarik sehingga penulis mendorong pembacanya untuk mengetahui
hikmat. Kitab amsal pada umumnya memberikan nasihat bagi kehidupan
“nonspiritual”. Kitab ini memberikan jawaban bukan untuk permasalahan teologia
tetapi untuk bidang social dan ekonomi. Kitab amsal adalah sebuah koleksi
perkataan tanpa garis besar, susunan atau perkembangannya.[1]
Nama salomo dicatat pada ayat
pembukaan kitab Amsal dan juga psl. 10:1 dan pasal 25:1, tetapi kita tidak
dapat menyatakan salomo menulis seluruh kitab Amsal. Jelas ada beberapa
pengarang yang disebut dalam kitab ini: Agur (pasal 30:1), Lemuel atau ibunya
(31:1), dan orang-orang berhikmat (pasal 22:17). Kebenaran tentang asal mula
kitab Amsal berada pada dua kebenaran ekstrim :
1. Semua Amsal adalah unik bagi Israel.
2. Semua disalin dari satu sumber.
Tujuan
dari ktab Amsal adalah untuk membuat kita menjadi lebih bijaksanan dan
meningkatkan keseluruhan daya guna kebidupan kita.
BAB II
Konsep Cinta dan Hikmat
Untuk dapat membentuk suatu pernikahan atau keluarga maka
dibutuhkan cinta storge antara dua orang. Dalam kitab Amsal sendiri banyak mengajarkan tentang keluarga. Dalam
kitab Amsal keluarga merupakan dasar kehidupan
masyarakat. Tiga segi dari kehidupan keluarga ditekankan dalam kitab ini, yaitu
: hubungan suami-isteri, hubungan orang tua dengan anak, dan hubungan keluarga
dengan Allah.[3]
Pendeta David W. F. Wong, pernah berkata jatuh cinta adalah
permulaan dari sebuah perjalanan jauh menapaki bumi atau seperti yang pernah
dikatakan seseorang “pernikahan itu ditentukan disurga, tetapi dilangsungkan di
bumi”. Selama bertahun-tahun menjadi pendeta, ia telah memberikan koseling dan
ikut mempersiapkan lebih dari dua ratus pernikahan dan ia menyimpan sebuah
album yang berisi semua foto pernikahan, lengkap dengan nama dan tanggalnya.
Namun ada beberapa ynag pernikahannya kandas sisanya bahkan telah memiliki
anak-anak remaja[4] Namun
sebenarnya cita bukanlah sebuah jalan raya yang mulus menurutnya jatuh cinta
berarti jatuh ditempat-tempat yang keras.[5]
Dalam kitab
Amsal 8:6-7, Raja Salomo menggambarkan cinta sebagai berikut: “Taruhlah aku
seperti meterai pada hatimu, seperti meterai pada lenganmu, karena cinta kuat
seperti maut, kegairahan gigih seperti dunia orang mati, nyalanya adalah nyala
api, seperti nyala api TUHAN! Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta,
sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya.”
Kekuatan cinta tak tertandingi oleh apapun, dalam gelora cinta Tuhan membuat hati kita tertanam dalam hadiratNya, sehingga saat kita merasakan Cinta-Nya maka kita tidak bisa menolak akan cinta-Nya yang begitu dalam. Ketika kita mengetahui bahwa Allah benar-benar mencintai kita, bahkan Dia rela menyerahkan Anak-Nya yang tunggal Yesus Kristus untuk menjadi korban menebus kita dari dosa, maka kita akan mengerti arti sebuah cinta yang sesungguhnya. Karena cinta adalah dasar dari kekristenan, sebab tanpa Cinta maka tidak ada penebusan dan pengampunan.
Kekuatan cinta tak tertandingi oleh apapun, dalam gelora cinta Tuhan membuat hati kita tertanam dalam hadiratNya, sehingga saat kita merasakan Cinta-Nya maka kita tidak bisa menolak akan cinta-Nya yang begitu dalam. Ketika kita mengetahui bahwa Allah benar-benar mencintai kita, bahkan Dia rela menyerahkan Anak-Nya yang tunggal Yesus Kristus untuk menjadi korban menebus kita dari dosa, maka kita akan mengerti arti sebuah cinta yang sesungguhnya. Karena cinta adalah dasar dari kekristenan, sebab tanpa Cinta maka tidak ada penebusan dan pengampunan.
Untuk lebih
jelas mengerti arti sebuah cinta dan kekuatan cinta, mari kita melihat sebuah
contoh kehidupan dalam rumah tangga. Seorang suami yang sudah punya isteri dan
anak. Singkat cerita suami ini ternyata berselingkuh dengan wanita lain. Hampir
setiap malam dia tidak pernah pulang ke rumah, karena cintanya yang menggelora
pada wanita lain, tanpa memperdulikan anak dan isterinya yang sedang menunggu
di rumah. Setiap suami terima gaji, bukannya dia berikan kepada isterinya tapi
malah dia berikan kepada wanita lain. Sampai suatu saat suami itu pulang ke
rumah isterinya, tapi bukannya pulang membawa hadiah, tapi dia pulang dengan
tujuan untuk mengambil BPKB mobil dan menjual mobilnya dan hasil penjualannya
dia berikan kepada kekasih gelapnya, setiap kekasih gelapnya meminta sesuatu
kepada suami orang ini, maka suami itu melakukannya demi wanita lain, sampai-sampai
pada akhirnya suami yang sedang dilanda cinta itu menjual sertifikat tanahnya
demi menyenangkan kekasih gelapnya.
Kisah diatas memang terkesan cinta yang keliru, tapi saya ingin membuka pikiran kita bahwa sesungguhnya cinta itu mempunyai kekuatan yang sangat dahsyat, bila seseorang dilanda cinta, maka apapun akan dia lakukan untuk menyenangkan hati orang yang dicintainya. Bila gelora cinta itu terus membara bagai api, maka api itu semakin hari semakin besar dan tak terpadamkan. Hambatan, tantangan dan rintangan apapun akan dia lewati bahkan bila perlu dia akan menyerahkan dirinya sendiri untuk menyenangkan hati orang yang dicintainya.[6]
Kisah diatas memang terkesan cinta yang keliru, tapi saya ingin membuka pikiran kita bahwa sesungguhnya cinta itu mempunyai kekuatan yang sangat dahsyat, bila seseorang dilanda cinta, maka apapun akan dia lakukan untuk menyenangkan hati orang yang dicintainya. Bila gelora cinta itu terus membara bagai api, maka api itu semakin hari semakin besar dan tak terpadamkan. Hambatan, tantangan dan rintangan apapun akan dia lewati bahkan bila perlu dia akan menyerahkan dirinya sendiri untuk menyenangkan hati orang yang dicintainya.[6]
Hikmat Ibrani adalah seni untuk mencapai keberhasilan dan kitab
Amsal adalah buku petunjuk utnuk hidup yang berhasil. Dengan mengutip dan
melukiskan kebiasan hidup yang negative dan positif, Amsal menjelaskan perilaku
yang benar dan yang salah dalam berbagai keadaan. Di dalamnya memang tidak ada
keterangan mengenai sejarah Israel dan tema-tema besar nubuat para nabi (misalnya perjanjian). Tetapi itu tidak
berarti pengarangnya tidak memperhatikan hal-hal tersebut malah, tujuannya
adalah untuk menerapkan prinsip-prinsip iman perjanjian Israel dalam sikap dan
pengalaman sehari-hari. Hokum kasih (Im 19:18; Ul 6:5; bnd. Mrk 12:29-31)
merupakan pokok yang sangat penting dalam PL dan Kitab Amsal berfungsi sebagai
penjelasan yang luas mengenai hal itu. Setiap orang Israel memandang hukum
Allah sebagai kewajiban masyarakat yang menuntut kesetiaan dan ketaatan penuh.
Hal ini dekat konsep takut akan Tuhan sebagai permulaan hikmat (Amsal 1:7; 2:5;
9:10; Ayb 28:28; Mzm 111:10). Hampir
sama dengan pengenalan akan Allah seperti yang ditekankan dalam kitab
nabi-nabi besar, kewajiban ini merupakan kesadaran untuk memperkenan Allah
dalam setiap segi kehidupan.[7]
BAB III
Konsep Cinta Hikmat dalam Keluarga
a. Isteri
yang cakap (Amsal 12:4; 31:10-31)[8]
Biasanya
hubungan antara manusia paling penting yang pernah akan kita miliki adalah dengan
suami atau istri. Pasangan hidup yang baik akan ikut menyumbang kebahagiaan,
sukacita, dan keberhasilan, sedangkan pasangan yang tidak baik akan menyebabkan
banyak kesusahan dan kesedihan. Ketika mencari pasangan hidup, kita harus
mempertimbangkan sifatnya dan komitmennya kepada Kristus dan standar-standar
hidup kudus-Nya, sehingga kita tidak menikahi orang yang salah dan menyesal
seumur hidup.[9]
Isteri yang
cakap.
Frasa ini dipakai lagi dalam 31:10.
Kata hayil, jika dikaitkan dengan orang laki-laki, khususnya tentara,
berarti "kekuatan." Mengacu pada isteri, kata itu menggambarkan
sifat-sifat baik seorang perempuan, barangkali "sifat mulia." Amsal 11:16
berbicara tentang perempuan yang murah hati; 19:14 merujuk kepada
perempuan yang berakal budi (bijak). Semua istilah ini menurut konteks
Kitab Amsal berbicara mengenai seorang perempuan yang baik dalam
berbagai aspek.[10]
Satu hal yang penting mengenai wanita dalam kitab Amsal ialah kepemimpinannya
yang dinyatakan di dalam rumahnya. Meskipun ia menikah ndengan seorang pria
yang mulia. Dia mengatur rumah dan membuat keputusan-keputusan penting. Israel
kuno mungkin seperti kebanyakkan kebudayaan lain di mana pria adalah pemimpin
sementara “kuasa di balik takhta” tetapi yang sebenarnya ialah wanita.[11]
Wanita ini
berdedikasi kepada suaminya. Semua yang dikatakan dan dilakukan olehnya ialah mendukung,
membangun, mendorong dan meneguhkan suaminya.dia adalah yang pertama bangun
pagi, dia bangkit bersama fajar utnuk menyediakan makanan pagi dan memeberi
petunjuk kepada pelayan-pelayannya . ia melakukan semua pekerjaan dengan
semangat dan bergairah. Meskipun sibuk dengan rumah tangganya dia tidak lupa
dengan keperluan orang lain. Dia kaya bukan karena mementingkan diri atau pelit
tetapi karena Tuhan memeberkati dia. Dia dengan bijaksana mencukupi keperluan
anggota keluarganya. Akhirnya dalam pasal 31:23 mencatat suaminya menjadi seorang
yang terhormat. Ayat 28 mengatakan seorang wanita seperti ini menerima pujian
tertinggi dari anak-anaknya yang “memanggil dia berbahagia” dan suaminya memuji
dia. Ayat terakhir dari kitab Amsal ini berkata (amsal 31:31) “berilah
kepadanya bagian dari hasil tangannya”, kata guru hikmat “dan biarlah
perbuatannya memuji dia di pintu gerbang”. Apa yang ia lakukan membuat ia
menjadi wanita teragung, dan suami dan anak-anaknya memuji dia.[12]
Pasal 31: 10-31 dipisahkan dari perkataan-perkataan Lemuel
oleh karena bentuk sanjak akrostik (menurut abjak). Penulisnya tidak disebutkan
tetepi jelaslah bahwa puisi ini dikarang dengan cermat. Bentuk akrostik tidak
hanya membantu dalam menghafalny tetapi juga berfungsi untuk menegaskab
pengertian yang menyeluruh dalam gambaran mengenai isteri dan ibu yang
sempurna.[13]
b. Terhadap
Anak (Amsal 1:8-9; 2:1-5; 3:12; 4:1-4)[14]
Pasal 1-9 menyebut kata “anakku” beberapa kali (1:8,10,15;
2:1; 3:1,11,21; 4:10,20; 6:1,3,20; dan 7:1). Kadang-kadang disebutkan dalanm
bentuk jamak “anak-anak” (4:1; 5:7; 7:24; 8:32). Meskipun tidak dipakai
seluruhnya dalam kitab Amsal tetapi nada seorang ayah yang sedang mengajar
anaknya terdengar diseluruh kitab ini. Dalam ayat 31 dari perkataan yang
disampaikan oleh ibu Lemuel, ia memperingatkan putranya mengenai dua kejahatan
yang biasa dolakukan oleh orang muda, yaitu : seks dan alkohol. Kehidupan seks
yang berlebihan merupakan kesalahan dari Salomo. Ayat 4-7 membicarakan tentang
bahaya dari alkohol, yang sekaligus memegang peranan penting dalam kejatuhan raja
Isrel, contoh raja Elah (1 Raj 16:9).[15]
tongkat dan teguran mendatangkan hikmat, tetapi anak yang dibiarkan
mempermalukan ibunya ( Ams 29:15; 31:26) sehingga hikmat diperoleh dari hasil
didikan seorang ibu dan juga dibantu ayah.
Hanya dengan
menyimpan firman Allah di dalam pikiran kita maka kita akan belajar untuk hidup
dengan bijaksana dan benar dalam hubungan kita dengan Allah (ayat Ams 2:5).
Kita dapat mengalahkan dosa dengan perintah-perintah Allah di dalam hati kita (Mazm 119:11) dan
firman Kristus yang tinggal di dalam diri kita (Yoh 15:7; Yak 1:21).[16]
BAB IV
Konsep Cinta dan Hikmat dalam
Penerapannya[17]
Alkitab menjelaskan bahwa wanita seperti juga pria diciptakan oleh
Allah menurut gambar dan rupaNya (Kej. 1:27), sehingga “Alkitab harus menjadi
pedoman bagi setiap wanita yang sedang mencari makna dan eksistensinya di dunia
ini. Di dalam Alkitab kita dapat membaca bahwa Allah menciptakan wanita itu
menurut gambar dan rupa Allah.” Dalam Perjanjian Lama, Alkitab mengungkapkan
peranan wanita : “Kaum wanita dianggap bagian integral dari umat perjanjian itu
sehingga ‘laki-laki, perempuan dan anak-anak’ berkumpul untuk bersama-sama
mendengar pembacaan Taurat di hadapan umum dan mengambil bagian dalam ibadah
(mis. Ul. 31:12). Wanita-wanita yang setia kepada Tuhan dan pemberani seperti
Hana, Abigail, Naomi, Rut dan Ester dikagumi, dan secara terus menerus
dititikberatkan bahwa para janda harus diayomi.”
Dalam Perjanjian Baru, Alkitab juga menceritakan bahwa Allah memakai
kaum wanita dalam sejarah dan rencana keselamatan yang Dia berikan melalui
Yesus : “Yesus datang dengan kegenapan waktu, lahir dari seorang perempuan
(Gal. 4:4). Dalam perjalanan keliling Yesus dari kota ke kota, di samping para
murid yang semuanya adalah pria, Ia ditemani juga oleh sekelompok wanita yang
telah disembuhkanNya dan melayani Dia dari kekayaan mereka (Luk. 8:1). Sikap
Yesus memulihkan martabat kaum wanita, Ia mengijinkan seorang pelacur mendatangiNya
dari belakang sewaktu hendak duduk makan, membasahi kakiNya dengan air
matanya…mungkin Yesus orang pertama yang berlaku hormat terhadap wanita ini
(Luk. 7:36 dst)…rasul Paulus dalam maklumat akbarnya tentang kebebasan
Kristiani…tidak ada laki-laki atau perempuan semua adalah satu di dalam Kristus
Yesus (Gal. 3:28).”
Dalam Alkitab sendiri pernyataan Paulus agar wanita berdiam diri
dalam pertemuan-pertemuan ibadah (I Kor. 14:34) menimbulkan pro dan kontra
pula, apalagi jika diteliti lebih lanjut dalam prakteknya Paulus memiliki
beberapa rekan sekerja wanita dalam usahanya memberitakan Injil Kristus. Dalam
Perjanjian Lama bangsa Israel pernah memiliki pemimpin wanita seperti Debora
sebagai hakim, dan dalam kitab Amsal ditulis puisi tentang pujian terhadap
wanita yang memiliki “kekayaan karakter” sehingga mampu berperan sebagai
“wanita yang cakap”. Kekayaan karakter inilah yang menjadi dasar sikap ingin
melakukan yang terbaik yang perlu dimiliki wanita Kristen masa kini sehingga
dapat berperan dalam keluarga, gereja maupun masyarakat.
BAB V
KESIMPULAN
Amsal yang ditulis untuk menjadi penuntun dalam kehidupan
sehari-hari diharapkan pula dapat menuntun wanita Kristen masa kini dalam
kehidupannya sehari-hari untuk dapat memiliki karakter-karakter kristiani
seperti yang dimiliki wanita yang cakap dalam Amsal 31:10-31seperti dapat
dipercaya, rajin, murah hati, berhikmat dan takut akan Tuhan, sehingga
memampukan seorang wanita Kristen untuk dapat berperan dalam keluarga, gereja
dan masyarakat, dan memberkati orang lain melalui peranannya itu.
Pembentukan karakter wanita Kristen dimulai ketika benih-benih iman
yang timbul dari pendengaran akan Firman Tuhan, mulai tumbuh dan melahirkan
kehidupan yang takut akan Tuhan yang menjadi dasar dari karakter kristiani yang
dimiliki wanita Kristen. Iman yang tumbuh menghasilkan buah Roh (Gal. 5:22-23)
dan hidup yang takut akan Tuhan menghasilkan karakter-karakter kristiani
dewasa, sehingga memampukan seorang wanita Kristen untuk melakukan peranannya
sesuai kehendak Allah.
Peran ganda seorang wanita sebaiknya mendorong kaum wanita untuk
melakukan peranannya di rumah tangga maupun di luar rumah dengan lebih baik,
kerajinan dan pendelegasian menjadi kuncinya, dimana prioritas dan keseimbangan
diperlukan agar dapat melakukan peran ganda seorang wanita.
[1] Robert L. Alden, Tafsiran
Praktis kitab Amsal (Malang : Literatur SAAT, 2008)5.
[2] Ibid,8
[3] David L. Baker, Mari Mengenal
Perjanjian Lama (Jakarta : BPK Ganung Mulia, 2011)97
[4] David W. F. Wong,
Perjalanan cinta yang teruji (Yogyakarta : Gloria Graffa dan Haggai Institute,
2003)11
[5] Ibid,12
[6]http://www.kadnet.info/web/index.php?option=com_content&view=article&id=3137:hineni&catid=34:renungan&Itemid=61
[7] W. S. LaSor. Dkk,
Pengantar Perjanjian Lama II (Jakarta : Bpk Gunung Mulia, 2010)90
[9] David
W. F. Wong, Perjalanan Cinta Yang Teruji (Yogyakarta : Gloria Graffa dan Haggai
Institute, 2003)17
[10] Tafsiran
Alkitab Masa Kini II Ayub-Maleakhi (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF,
1985)307
[12] Ibid, 195-198
[16] Ibid,290
[17] David
W. F. Wong, Perjalanan Cinta Yang Teruji (Yogyakarta : Gloria Graffa dan Haggai
Institute, 2003)102-109
Tidak ada komentar:
Posting Komentar