Selasa, 02 Februari 2016

Konsep Cinta Hikmat dalam Kitab Amsal

BAB I
Pendahuluan

Kata hikmat berasal dari kata Ibraninya adalah chokmah. Dalam Alkitab Terjemahan Baru, di kitab Amsal muncul 41 ayat yang berbicara mengenai hikmat sehingga kitab Amsal sarat dengan kata hikmat. Hikmat sesuatu yang sangat menarik sehingga penulis mendorong pembacanya untuk mengetahui hikmat. Kitab amsal pada umumnya memberikan nasihat bagi kehidupan “nonspiritual”. Kitab ini memberikan jawaban bukan untuk permasalahan teologia tetapi untuk bidang social dan ekonomi. Kitab amsal adalah sebuah koleksi perkataan tanpa garis besar, susunan atau perkembangannya.[1]
Pengarang dan tanggal penulisan [2]
Nama salomo dicatat pada ayat pembukaan kitab Amsal dan juga psl. 10:1 dan pasal 25:1, tetapi kita tidak dapat menyatakan salomo menulis seluruh kitab Amsal. Jelas ada beberapa pengarang yang disebut dalam kitab ini: Agur (pasal 30:1), Lemuel atau ibunya (31:1), dan orang-orang berhikmat (pasal 22:17). Kebenaran tentang asal mula kitab Amsal berada pada dua kebenaran ekstrim :
1.      Semua Amsal adalah unik bagi Israel.
2.      Semua disalin dari satu sumber.               
Tujuan dari ktab Amsal adalah untuk membuat kita menjadi lebih bijaksanan dan meningkatkan keseluruhan daya guna kebidupan kita.
BAB II
Konsep Cinta dan Hikmat
Untuk dapat membentuk suatu pernikahan atau keluarga maka dibutuhkan cinta storge antara dua orang. Dalam kitab Amsal sendiri  banyak mengajarkan tentang keluarga. Dalam kitab Amsal keluarga  merupakan dasar kehidupan masyarakat. Tiga segi dari kehidupan keluarga ditekankan dalam kitab ini, yaitu : hubungan suami-isteri, hubungan orang tua dengan anak, dan hubungan keluarga dengan Allah.[3]
Pendeta David W. F. Wong, pernah berkata jatuh cinta adalah permulaan dari sebuah perjalanan jauh menapaki bumi atau seperti yang pernah dikatakan seseorang “pernikahan itu ditentukan disurga, tetapi dilangsungkan di bumi”. Selama bertahun-tahun menjadi pendeta, ia telah memberikan koseling dan ikut mempersiapkan lebih dari dua ratus pernikahan dan ia menyimpan sebuah album yang berisi semua foto pernikahan, lengkap dengan nama dan tanggalnya. Namun ada beberapa ynag pernikahannya kandas sisanya bahkan telah memiliki anak-anak remaja[4] Namun sebenarnya cita bukanlah sebuah jalan raya yang mulus menurutnya jatuh cinta berarti jatuh ditempat-tempat yang keras.[5]
Dalam kitab Amsal 8:6-7, Raja Salomo menggambarkan cinta sebagai berikut: “Taruhlah aku seperti meterai pada hatimu, seperti meterai pada lenganmu, karena cinta kuat seperti maut, kegairahan gigih seperti dunia orang mati, nyalanya adalah nyala api, seperti nyala api TUHAN! Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta, sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya.”
Kekuatan cinta tak tertandingi oleh apapun, dalam gelora cinta Tuhan membuat hati kita tertanam dalam hadiratNya, sehingga saat kita merasakan Cinta-Nya maka kita tidak bisa menolak akan cinta-Nya yang begitu dalam. Ketika kita mengetahui bahwa Allah benar-benar mencintai kita, bahkan Dia rela menyerahkan Anak-Nya yang tunggal Yesus Kristus untuk menjadi korban menebus kita dari dosa, maka kita akan mengerti arti sebuah cinta yang sesungguhnya. Karena cinta adalah dasar dari kekristenan, sebab tanpa Cinta maka tidak ada penebusan dan pengampunan.
Untuk lebih jelas mengerti arti sebuah cinta dan kekuatan cinta, mari kita melihat sebuah contoh kehidupan dalam rumah tangga. Seorang suami yang sudah punya isteri dan anak. Singkat cerita suami ini ternyata berselingkuh dengan wanita lain. Hampir setiap malam dia tidak pernah pulang ke rumah, karena cintanya yang menggelora pada wanita lain, tanpa memperdulikan anak dan isterinya yang sedang menunggu di rumah. Setiap suami terima gaji, bukannya dia berikan kepada isterinya tapi malah dia berikan kepada wanita lain. Sampai suatu saat suami itu pulang ke rumah isterinya, tapi bukannya pulang membawa hadiah, tapi dia pulang dengan tujuan untuk mengambil BPKB mobil dan menjual mobilnya dan hasil penjualannya dia berikan kepada kekasih gelapnya, setiap kekasih gelapnya meminta sesuatu kepada suami orang ini, maka suami itu melakukannya demi wanita lain, sampai-sampai pada akhirnya suami yang sedang dilanda cinta itu menjual sertifikat tanahnya demi menyenangkan kekasih gelapnya.
Kisah  diatas memang terkesan cinta yang keliru, tapi saya ingin membuka pikiran kita bahwa sesungguhnya cinta itu mempunyai kekuatan yang sangat dahsyat, bila seseorang dilanda cinta, maka apapun akan dia lakukan untuk menyenangkan hati orang yang dicintainya. Bila gelora cinta itu terus membara bagai api, maka api itu semakin hari semakin besar dan tak terpadamkan. Hambatan, tantangan dan rintangan apapun akan dia lewati bahkan bila perlu dia akan menyerahkan dirinya sendiri untuk menyenangkan hati orang yang dicintainya.[6]
Hikmat Ibrani adalah seni untuk mencapai keberhasilan dan kitab Amsal adalah buku petunjuk utnuk hidup yang berhasil. Dengan mengutip dan melukiskan kebiasan hidup yang negative dan positif, Amsal menjelaskan perilaku yang benar dan yang salah dalam berbagai keadaan. Di dalamnya memang tidak ada keterangan mengenai sejarah Israel dan tema-tema besar nubuat para nabi  (misalnya perjanjian). Tetapi itu tidak berarti pengarangnya tidak memperhatikan hal-hal tersebut malah, tujuannya adalah untuk menerapkan prinsip-prinsip iman perjanjian Israel dalam sikap dan pengalaman sehari-hari. Hokum kasih (Im 19:18; Ul 6:5; bnd. Mrk 12:29-31) merupakan pokok yang sangat penting dalam PL dan Kitab Amsal berfungsi sebagai penjelasan yang luas mengenai hal itu. Setiap orang Israel memandang hukum Allah sebagai kewajiban masyarakat yang menuntut kesetiaan dan ketaatan penuh. Hal ini dekat konsep takut akan Tuhan sebagai permulaan hikmat (Amsal 1:7; 2:5; 9:10; Ayb 28:28; Mzm 111:10). Hampir  sama dengan pengenalan akan Allah seperti yang ditekankan dalam kitab nabi-nabi besar, kewajiban ini merupakan kesadaran untuk memperkenan Allah dalam setiap segi kehidupan.[7]



BAB III
Konsep Cinta Hikmat dalam Keluarga
a.      Isteri yang cakap (Amsal 12:4; 31:10-31)[8]
Biasanya hubungan antara manusia paling penting yang pernah akan kita miliki adalah dengan suami atau istri. Pasangan hidup yang baik akan ikut menyumbang kebahagiaan, sukacita, dan keberhasilan, sedangkan pasangan yang tidak baik akan menyebabkan banyak kesusahan dan kesedihan. Ketika mencari pasangan hidup, kita harus mempertimbangkan sifatnya dan komitmennya kepada Kristus dan standar-standar hidup kudus-Nya, sehingga kita tidak menikahi orang yang salah dan menyesal seumur hidup.[9]
Isteri yang cakap. Frasa ini dipakai lagi dalam 31:10. Kata hayil, jika dikaitkan dengan orang laki-laki, khususnya tentara, berarti "kekuatan." Mengacu pada isteri, kata itu menggambarkan sifat-sifat baik seorang perempuan, barangkali "sifat mulia." Amsal 11:16 berbicara tentang perempuan yang murah hati; 19:14 merujuk kepada perempuan yang berakal budi (bijak). Semua istilah ini menurut konteks Kitab Amsal berbicara mengenai seorang perempuan yang baik dalam berbagai aspek.[10] Satu hal yang penting mengenai wanita dalam kitab Amsal ialah kepemimpinannya yang dinyatakan di dalam rumahnya. Meskipun ia menikah ndengan seorang pria yang mulia. Dia mengatur rumah dan membuat keputusan-keputusan penting. Israel kuno mungkin seperti kebanyakkan kebudayaan lain di mana pria adalah pemimpin sementara “kuasa di balik takhta” tetapi yang sebenarnya ialah wanita.[11]
Wanita ini berdedikasi kepada suaminya. Semua yang dikatakan  dan dilakukan olehnya ialah mendukung, membangun, mendorong dan meneguhkan suaminya.dia adalah yang pertama bangun pagi, dia bangkit bersama fajar utnuk menyediakan makanan pagi dan memeberi petunjuk kepada pelayan-pelayannya . ia melakukan semua pekerjaan dengan semangat dan bergairah. Meskipun sibuk dengan rumah tangganya dia tidak lupa dengan keperluan orang lain. Dia kaya bukan karena mementingkan diri atau pelit tetapi karena Tuhan memeberkati dia. Dia dengan bijaksana mencukupi keperluan anggota keluarganya. Akhirnya dalam pasal 31:23 mencatat suaminya menjadi seorang yang terhormat. Ayat 28 mengatakan seorang wanita seperti ini menerima pujian tertinggi dari anak-anaknya yang “memanggil dia berbahagia” dan suaminya memuji dia. Ayat terakhir dari kitab Amsal ini berkata (amsal 31:31) “berilah kepadanya bagian dari hasil tangannya”, kata guru hikmat “dan biarlah perbuatannya memuji dia di pintu gerbang”. Apa yang ia lakukan membuat ia menjadi wanita teragung, dan suami dan anak-anaknya memuji dia.[12]
Pasal 31: 10-31 dipisahkan dari perkataan-perkataan Lemuel oleh karena bentuk sanjak akrostik (menurut abjak). Penulisnya tidak disebutkan tetepi jelaslah bahwa puisi ini dikarang dengan cermat. Bentuk akrostik tidak hanya membantu dalam menghafalny tetapi juga berfungsi untuk menegaskab pengertian yang menyeluruh dalam gambaran mengenai isteri dan ibu yang sempurna.[13]


b.      Terhadap Anak (Amsal 1:8-9; 2:1-5; 3:12; 4:1-4)[14]
Pasal 1-9 menyebut kata “anakku” beberapa kali (1:8,10,15; 2:1; 3:1,11,21; 4:10,20; 6:1,3,20; dan 7:1). Kadang-kadang disebutkan dalanm bentuk jamak “anak-anak” (4:1; 5:7; 7:24; 8:32). Meskipun tidak dipakai seluruhnya dalam kitab Amsal tetapi nada seorang ayah yang sedang mengajar anaknya terdengar diseluruh kitab ini. Dalam ayat 31 dari perkataan yang disampaikan oleh ibu Lemuel, ia memperingatkan putranya mengenai dua kejahatan yang biasa dolakukan oleh orang muda, yaitu : seks dan alkohol. Kehidupan seks yang berlebihan merupakan kesalahan dari Salomo. Ayat 4-7 membicarakan tentang bahaya dari alkohol, yang sekaligus memegang peranan penting dalam kejatuhan raja Isrel, contoh raja Elah (1 Raj 16:9).[15] tongkat dan teguran mendatangkan hikmat, tetapi anak yang dibiarkan mempermalukan ibunya ( Ams 29:15; 31:26) sehingga hikmat diperoleh dari hasil didikan seorang ibu dan juga dibantu ayah.
Hanya dengan menyimpan firman Allah di dalam pikiran kita maka kita akan belajar untuk hidup dengan bijaksana dan benar dalam hubungan kita dengan Allah (ayat Ams 2:5). Kita dapat mengalahkan dosa dengan perintah-perintah Allah di dalam hati kita (Mazm 119:11) dan firman Kristus yang tinggal di dalam diri kita (Yoh 15:7; Yak 1:21).[16]




BAB IV
Konsep Cinta dan Hikmat dalam Penerapannya[17]
Alkitab menjelaskan bahwa wanita seperti juga pria diciptakan oleh Allah menurut gambar dan rupaNya (Kej. 1:27), sehingga “Alkitab harus menjadi pedoman bagi setiap wanita yang sedang mencari makna dan eksistensinya di dunia ini. Di dalam Alkitab kita dapat membaca bahwa Allah menciptakan wanita itu menurut gambar dan rupa Allah.” Dalam Perjanjian Lama, Alkitab mengungkapkan peranan wanita : “Kaum wanita dianggap bagian integral dari umat perjanjian itu sehingga ‘laki-laki, perempuan dan anak-anak’ berkumpul untuk bersama-sama mendengar pembacaan Taurat di hadapan umum dan mengambil bagian dalam ibadah (mis. Ul. 31:12). Wanita-wanita yang setia kepada Tuhan dan pemberani seperti Hana, Abigail, Naomi, Rut dan Ester dikagumi, dan secara terus menerus dititikberatkan bahwa para janda harus diayomi.”
Dalam Perjanjian Baru, Alkitab juga menceritakan bahwa Allah memakai kaum wanita dalam sejarah dan rencana keselamatan yang Dia berikan melalui Yesus : “Yesus datang dengan kegenapan waktu, lahir dari seorang perempuan (Gal. 4:4). Dalam perjalanan keliling Yesus dari kota ke kota, di samping para murid yang semuanya adalah pria, Ia ditemani juga oleh sekelompok wanita yang telah disembuhkanNya dan melayani Dia dari kekayaan mereka (Luk. 8:1). Sikap Yesus memulihkan martabat kaum wanita, Ia mengijinkan seorang pelacur mendatangiNya dari belakang sewaktu hendak duduk makan, membasahi kakiNya dengan air matanya…mungkin Yesus orang pertama yang berlaku hormat terhadap wanita ini (Luk. 7:36 dst)…rasul Paulus dalam maklumat akbarnya tentang kebebasan Kristiani…tidak ada laki-laki atau perempuan semua adalah satu di dalam Kristus Yesus (Gal. 3:28).”
Dalam Alkitab sendiri pernyataan Paulus agar wanita berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan ibadah (I Kor. 14:34) menimbulkan pro dan kontra pula, apalagi jika diteliti lebih lanjut dalam prakteknya Paulus memiliki beberapa rekan sekerja wanita dalam usahanya memberitakan Injil Kristus. Dalam Perjanjian Lama bangsa Israel pernah memiliki pemimpin wanita seperti Debora sebagai hakim, dan dalam kitab Amsal ditulis puisi tentang pujian terhadap wanita yang memiliki “kekayaan karakter” sehingga mampu berperan sebagai “wanita yang cakap”. Kekayaan karakter inilah yang menjadi dasar sikap ingin melakukan yang terbaik yang perlu dimiliki wanita Kristen masa kini sehingga dapat berperan dalam keluarga, gereja maupun masyarakat.


 BAB V
KESIMPULAN
Amsal yang ditulis untuk menjadi penuntun dalam kehidupan sehari-hari diharapkan pula dapat menuntun wanita Kristen masa kini dalam kehidupannya sehari-hari untuk dapat memiliki karakter-karakter kristiani seperti yang dimiliki wanita yang cakap dalam Amsal 31:10-31seperti dapat dipercaya, rajin, murah hati, berhikmat dan takut akan Tuhan, sehingga memampukan seorang wanita Kristen untuk dapat berperan dalam keluarga, gereja dan masyarakat, dan memberkati orang lain melalui peranannya itu.
Pembentukan karakter wanita Kristen dimulai ketika benih-benih iman yang timbul dari pendengaran akan Firman Tuhan, mulai tumbuh dan melahirkan kehidupan yang takut akan Tuhan yang menjadi dasar dari karakter kristiani yang dimiliki wanita Kristen. Iman yang tumbuh menghasilkan buah Roh (Gal. 5:22-23) dan hidup yang takut akan Tuhan menghasilkan karakter-karakter kristiani dewasa, sehingga memampukan seorang wanita Kristen untuk melakukan peranannya sesuai kehendak Allah.
Peran ganda seorang wanita sebaiknya mendorong kaum wanita untuk melakukan peranannya di rumah tangga maupun di luar rumah dengan lebih baik, kerajinan dan pendelegasian menjadi kuncinya, dimana prioritas dan keseimbangan diperlukan agar dapat melakukan peran ganda seorang wanita.



[1] Robert L. Alden, Tafsiran Praktis kitab Amsal (Malang : Literatur SAAT, 2008)5.
[2] Ibid,8
[3] David L. Baker, Mari Mengenal Perjanjian Lama (Jakarta : BPK Ganung Mulia, 2011)97
[4] David W. F. Wong, Perjalanan cinta yang teruji (Yogyakarta : Gloria Graffa dan Haggai Institute, 2003)11
[5] Ibid,12
[6]http://www.kadnet.info/web/index.php?option=com_content&view=article&id=3137:hineni&catid=34:renungan&Itemid=61
[7] W. S. LaSor. Dkk, Pengantar Perjanjian Lama II (Jakarta : Bpk Gunung Mulia, 2010)90 
[8] David L. Baker, Mari mengenal Perjanjian Lama (Jakarta : BPK Ganung Mulia, 2011)97
[9] David W. F. Wong, Perjalanan Cinta Yang Teruji (Yogyakarta : Gloria Graffa dan Haggai Institute, 2003)17
[10] Tafsiran Alkitab Masa Kini II Ayub-Maleakhi (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 1985)307
[11] Robert L. Alden, Tafsiran Praktis kitab Amsal (Malang : Literatur SAAT, 2008)294.
[12] Ibid, 195-198
[13] W. S. LaSor. Dkk, Pengantar Perjanjian Lama II (Jakarta : Bpk Gunung Mulia, 2010)102
[14] David L. Baker, Mari mengenal Perjanjian Lama (Jakarta : BPK Ganung Mulia, 2011)97
[15] Robert L. Alden, Tafsiran Praktis kitab Amsal (Malang : Literatur SAAT, 2008)289,290.
[16] Ibid,290
[17] David W. F. Wong, Perjalanan Cinta Yang Teruji (Yogyakarta : Gloria Graffa dan Haggai Institute, 2003)102-109

Tidak ada komentar:

Posting Komentar