Selasa, 02 Februari 2016

MAsuk dan Berkembangnya Islam di Papua

            Seringkali dianggap bahwa agama yang pertama masuk ke Papua adalah agama Kristen tetapi agama Islam-lah yang lebih dahulu masuk di tanah Papua. Berikut catatan Ali Atwa, wartawan Majalah Suara Hidayatullah dan juga penulis buku “Islam Atau Kristen Agama Orang Irian (Papua)” tentang Islam di Bumi Cenderawasih bagian pertama:  Islam masuk lebih awal sebelum agama lainnya di Papua. Namun, banyak upaya pengaburan, seolah-olah, Papua adalah daerah Kristen. Upaya-upaya pengkaburan dan penghapusan sejarah dakwah Islam berlangsung dengan cara sistematis di seantero negeri ini. Setelah Sumatera Utara, Kalimantan Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara dan Maluku diklaim sebagai kawasan Kristen, dengan berbagai potensi menariknya, Papua merupakan jualan terlaris saat ini. Papua diklaim milik Kristen. Ironis, karena hal itu mengaburkan fakta dan data sebenarnya di mana Islam telah hadir berperan nyata jauh sebelum kedatangan mereka (Missionaris). Menurut HJ. de Graaf, seorang ahli sejarah asal Belanda, Islam hadir di Asia Tenggara melalui tiga cara: pertama, melalui dakwah oleh para pedagang Muslim dalam alur perdagangan yang damai; kedua, melalui dakwah para dai dan orang-orang suci yang datang dari India atau Arab yang sengaja ingin mengislamkan orang-orang kafir; dan ketiga, melalui kekuasan atau peperangan dengan negara-negara penyembah berhala. 
Dari catatan-catatan yang ada menunjukkan bahwa kedatangan Islam di tanah Papua, sesungguhnya sudah sangat lama. Islam datang ke sana melalui jalur-jalur perdagangan sebagaimana di kawasan lain di nusantara. Sayangnya hingga saat ini belum ditentukan secara persis kapan hal itu terjadi. Sejumlah seminar yang pernah digelar seperti di Aceh pada tahun 1994, termasuk yang dilangsungkan di ibukota Provinsi Kabupaten Fakfak dan di Jayapura pada tahun 1997, belum menemukan kesepakatan itu. Namun yang pasti, jauh sebelum para misionaris menginjakkan kakinya di kawasan ini, berdasarkan data otentik yang temukan saat ini menunjukkan bahwa muballigh-muballigh Islam telah lebih dahulu berada di sana.
Aktivitas dakwah Islam di Papua merupakan bagian dari rangkaian panjang syiar Islam di Nusantara.











Kedatangan Orang Islam Pertama

            Masuknya Islam ke Papua, tidak bisa dilepaskan dengan jalur dan hubungan daerah ini dengan daerah lain di Indonesia. Selain faktor pengaruh kekuasaan Kerajaan Majapahit, masuknya Islam ke kawasan ini adalah lewat Maluku, di mana pada masa itu terdapat kerajaan Islam berpengaruh di kawasan Indonesia Timur, yakni kerajaan Bacan. Bahkan keberadaan Islam Bacan di Maluku sejak tahun 1520 M dan telah menguasai beberapa daerah di Papua pada abad XVI telah tercatat dalam sejarah. Sejumlah daerah seperti Waigeo, Misool, Waigama dan Salawati pada abad XVI telah mendapat pengaruh dari ajaran Islam. Melalui pengaruh Sultan Bacan inilah maka sejumlah pemuka masyarakat di pulau-pulau tadi memeluk agama Islam, khususnya yang di wilayah pesisir. Sementara yang dipedalaman masih tetap menganut faham animisme. [1]
Dalam berbagai laporan para ahli, menunjukkan bahwa sebelum agama-agama besar lain datang di antar masuk ke Papua, Islam lebih dulu ada dan dianut oleh penduduk pribumi Papua selain para pedagang Melayu. Van der Leeder  (1980, 22), menulis bahwa, agama Islam masuk di kepulauan Raja Ampat dengan pengaruh dari kesultanan Tidore tidak lama sesudah agama tersebut masuk di Maluku pada abad ke 13 silam.  Dr. J. R. Mansoben (1997), ‘Agama besar pertama yang masuk ke Irian Jaya (Papua) adalah Islam. Agama Islam masuk di Irian Jaya pertama didaerah Kepulauan Raja Ampat dan Fak-Fak berasal dari Kepulauan Maluku dan disebarkan melalui hubungan perdagangan yang terjadi diantara kedua daerah tersebut’.[2]
            Dr. Benny Giay, mengatakan “pengaruh Islam secara  luas diseluruh pelosok daerah Propinsi Irian Jaya dan dengan semua kelompok suku di daerah ini dalam hidup sehari-hari dalam semua bidang kehidupan, baru mulai dirasakan setelah Irian Jaya berintegrasi menjadi bagian dari Republik Indonesia awal tahun 1960-an”.[3]
            Thomas Arnold yang seorang orientalis berkebangsaan Inggris memberi catatan kaki dalam kaitannya dengan wilayah Islam tersebut: “…beberapa suku Papua di pulau Gebi seperti Waigyu telah diislamkan oleh kaum pendatang dari Maluku” Tentang masuk dan berkembangnya syi’ar Islam di daerah Papua, lebih lanjut Arnold menjelaskan: “Di Irian sendiri, hanya sedikit penduduk yang memeluk Islam. Agama ini pertama kali dibawa masuk ke pesisir barat semenanjung Onin oleh para pedagang Muslim yang berusaha sambil berdakwah di kalangan penduduk, dan itu terjadi sejak tahun 1606. Tetapi nampaknya kemajuannya berjalan sangat lambat selama berabad-abad kemudian…”
            Bila ditinjau dari laporan Arnold tersebut, maka berarti masuknya Islam ke daerah Papua terjadi pada awal abad ke XVII, atau dua abad lebih awal dari masuknya agama Kristen Protestan yang masuk pertama kali di daerah Manokwari pada tahun 1855, yaitu ketika dua orang missionaris Jerman bernama C.W. Ottow dan G.J. Geissler mendarat dan kemudian menjadi pelopor kegiatan missionaris di sana.
            Dalam buku “Nieuw Guinea” W.C. Klein menceritakan sebagai berikut : “de Heer Pieterz maakte on 1664 eenwreks naar Onin. Indie raiswaren ook een aantal mensen uitSoematera, Waarin de Heer Abdul Ghafur betrokken is” (Tuan Pieterz pada tahun 1664 melakukan perjalanan ke Onin di mana ikut serta beberapa orang dari Sumatera, termasuk Abdul Ghafur). Bahkan bila ditelusuri dari catatan pewaris kesultanan Islam di kawasan ini, dapat diketahui bahwa kedatangan Agama Islam sebenarnya lebih tua lagi.

Islam Papua pada Zaman Kerajaan Majapahit[4]
            Seorang Guru Besar Bidang Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang, Dr. Moehammad Habib Mustofo, yang sekaligus Ketua Asosiasi Ahli Epigrafi Indonesia (AAEI) Jawa Timur menjelaskan bahwa dakwah Islam sudah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit. Apalagi dengan diketemukanya data artefak yang waktunya terentang antara 1368-1611M yang membuktikan adanya komunitas Muslim di sekitar Pusat Keraton Majapahit, di Troloyo, yakni sebuah daerah bagian selatan Pusat Keraton Majapahit yang waktu itu terdapat di Trowulan.
            Kajian leh L.C. Damais dan de Casparis dari sudut paleografi membuktikan telah terjadi saling pengaruh antara dua kebudayaan yang berbeda (yakni antara Hindu-Budha-Islam) pada awal perkembangan Islam di Jawa Timur. Data-data tersebut menjelaskan bahwa sesungguhnya dakwah Islam sudah terjadi terjadi jauh sebelum keruntuhan total kerajaan Majapahit yakni tahun 1527M. Dengan kata lain, ketika kerajaan Majapahit berada di puncak kejayaannya, syiar Islam juga terus menggeliat melalui jalur-jalur perdagangan di daerah-daerah yang menjadi kekuasaan Majapahit di delapan mandala (meliputi seluruh nusantara) hingga Malaysia, Brunei Darussalam, dan di seluruh kepulauan Papua. Masa antara abad XIV-XV memiliki arti penting dalam sejarah kebudayaan Nusantara. Pada saat itu ditandai hegemoni Majapahit sebagai Kerajaan Hindu-Budha mulai pudar.
            Sezaman dengan itu, muncul jaman baru yang ditandai penyebaran Islam melalui jalan perdagangan Nusantara. Melalui jalur damai perdagangan itulah, Islam kemudian semakin dikenal di tengah masyarakat Papua. Kala itu penyebaran Islam masih relatif terbatas di kota-kota pelabuhan. Para pedagang dan ulama menjadi guru-guru yang sangat besar pengaruhnya
di tempat-tempat baru. Sebagai kerajaan tangguh masa itu, kekuasaan Kerajaan Majapahit meliputi seluruh wilayah Nusantara, termasuk Papua. Beberapa daerah di kawasan tersebut bahkan disebut-sebut dalam kitab Negarakertagama, sebagai wilayah yurisdiksinya.
            Keterangan mengenai hal itu antara disebutkan sebagai berikut: “Muwah tang i Gurun sanusanusa mangaram ri Lombok Mirah lawan tikang i Saksakadi nikalun kahaiyan kabeh nuwati tanah i bantayan pramuka Bantayan len luwuk tekenUdamakatrayadhi nikang sanusapupul”. “Ikang sakasanusasanusa Makasar Butun Banggawai Kuni Ggaliyao mwang i [ng] Salaya Sumba Solot Muar muwah tigang i Wandan Ambwan Athawa maloko Ewanin ri Sran ini Timur ning angeka nusatutur”. Dari keterangan yang diperoleh dalam kitab klasik itu, menurut sejumlah ahli bahasa yang dimaksud “Ewanin” adalah nama lain untuk daerah ” Onin” dan “Sran” adalah nama lain untuk “Kowiai”. Semua tempat itu berada di Kaimana, Fak-Fak. Dari data tersebut menjelaskan bahwa pada zaman Kerajaan Majapahit sejumlah daerah di Papua sudah termasuk wilayah kekuasaan Majapahit.
            Menurut Thomas W. Arnold : “The Preaching of Islam”, setelah kerajaan Majapahit runtuh, dikalahkan oleh kerajaan Islam Demak, pemegang kekuasan berikutnya adalah Demak Islam. Dapat dikatakan sejak zaman baru itu, pengaruh kerajaan Islam Demak juga menyebar ke Papua, baik langsung maupun tidak. Dari sumber-sumber Barat diperoleh catatan bahwa pada abad ke XVI sejumlah daerah di Papua bagian barat, yakni wilayah-wilayah Waigeo, Missool, Waigama, dan Salawati, tunduk kepada kekuasaan Sultan Bacan di Maluku. Catatan serupa tertuang dalam sebuah buku yang dikeluarkan oleh Periplus Edition, di buku “Irian Jaya”, hal 20 sebuah wadah sosial milik misionaris menyebutkan tentang daerah yang terpengaruh Islam. Dalam kitab Negarakertagama, di abad ke 14 di sana ditulis tentang kekuasaan kerajaan Majapahit di Jawa Timur, di mana di sana disebutkan dua wilayah di Irian yakni Onin dan Seran. Bahkan lebih lanjut dijelaskan: Namun demikian armada-armada perdagangan yang berdatangan dari Maluku dan barangkali dari pulau Jawa di sebelah barat kawasan ini, telah memiliki pengaruh jauh sebelumnya.
Pengaruh ras austronesia dapat dilihat dari kepemimpinan raja di antara keempat suku, yang boleh jadi diadaptasi dari Kesultanan Ternate, Tidore dan Jailolo. Dengan politik kontrol yang ketat di bidang perdagangan pengaruh kekuasaan Kesultanan Ternate di temukan di raja Ampat, di Sorong dan di seputar Fakfak dan diwilayah Kaimana. Sumber cerita rakyat mengisahkan bahwa daerah Biak Numfor telah menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Sultan Tidore sejak abad ke-XV. Sejumlah tokoh lokal, bahkan diangkat oleh Sultan Tidore menjadi pemimpin-pemimpin di Biak. Mereka diberi berbagai macam gelar, yang merupakan jabatan suatu daerah. Sejumlah nama jabatan itu sekarang ini dapat ditemui dalam bentuk marga atau fam penduduk Biak Numfor.

Islam Papua pada Masa Kini[5]
1.      Muslim Wamena 
Dari sejak tahun 1960-an akhir sampai tahun 1970-an awal, di kota Wamena Kabupaten Jayawijaya banyak datang penduduk pindahan dari Jawa (transmigrasi), dan para perantau asal Indonesia Timur, terutama orang Madura, Bugis, Buton dan Makasar. Pengenalan Agama Islam lebih intensif dengan Suku Dani di Wamena Kabupaten Jayawijaya melalui interaksi dalam masa ini, terutama perdagangan system barter antara para muhajirin pendatang dan penduduk lokal yang berbusana koteka. 
Proses percepatan da'wah di Jayawijaya juga sangat di dukung oleh kehadiran militer yang beragama Islam yang bertugas dalam tahun 1960-an akhir di Kota Wamena. Penduduk yang lebih awal masuk Islam menuturkan bahwa Islamisasi sepenuhnya didukung secara individu dari Muslim yang kebetulan anggota Militert yang bertugas di Sinata (kini Megapura, 4 km selatan dari Kota Wamena). Organisasi da'wah baru didirikan guna lebih menunjang psoses da'wah, seperti Islamic center, YAPIS, Panti Asuhan Muhammadiyah dan akhir-akhir ini juga Hidayatullah dan NU di Wamena giat  melakukan da'wah dikalangan pribumi Muslim Suku Dani di Wamena. 
2.      Muallaf di Walesi  
            Di kota Wamena arah selatan 6 km kini terdapat penduduk pribumi yang penduduknya beragama Islam sejak lama. Walesi adalah pusat Islam (Islamic Centre), bagi pengembangan Islam dari kalangan penduduk asli. Guru-guru (ustadz), sejak awal didatangkan dari Fak-Fak yang sejak lebih dulu muslim dari abad ke 16 di selatan kepala Burung Papua. Kini di walesi terdapat sebuah Pondok-Pesantren Al-Istiqomah Merasugun Asso, Madrasah Ibtidaiyah, rumah guru 4 buah,  masjid 12x12 dan sebuah puskesmas. Walesi sebagai Islamic Centre telah menampung anak-anak Suku Dani dari 12 kampung yang masyarakatnya baragama Islam.
Masyarakat Muslim Jayawijaya terdiri dari 12 kampung yang penduduknya telah lama menganut Agama Islam pada tahun 1960-an akhir pasca integrasi. Kampung-kampung itu adalah Htigima, Air  Garam, Okilik, Apenas, Ibele, Araboda, Jagara, Megapura, Pasema, Mapenduma, Kurulu dan Pugima. Jumlah penganut Islam di Wamena kabupaten Jayawijaya kira-kira 12 ribu jiwa, dari 400 ribu jiwa seluruh penduduk Jayawijaya, namun angka yang lebih tepatjumlah pemeluk Islam belum diperoleh secara pasti.  
3.      Anak-Anak Muallaf
Anak-anak Muallaf adalah kelompak potensial proses Islamisasi di Kabupaten Jayawijaya, mengingat semua agama besar yang kini hadir di Papua khususnya di Pegunungan Tengah, umumnya tidak mampu merubah pola kehidupan lama masyarakat tradisional Papua yang memiliki religi lama yang berorientasi masa lampau.  Kalangan Birokrat Muslim yang menjabat sebagai Ketua Islamic Centre menyadari ini, maka secara  periode mengirim anak-anak muallaf dari Suku Dani, dikirim belajar pertama di Panti Asuhan Muhammadiyah AB Jayapura dan Madarasah Ibtidaiyyah YAPIS di Ibu kota Jayapura dalam tahun 1972 sebanyak 20 orang anak. 
            Dalam tahun 1980 ada 2 orang anak Suku Dani datang belajar di Universitas Muhammadiyah Jogjakarta . Sedang lulusan Madrasah Ibtidaiyyah Merasugun Asso Walesi sebanyak 4 orang pertama didatangkan ke pondok pesantren Al-Mukhlisin, dan Darul Falah, Bogor . Kini dari anak-anak ini ada yang menempuh pendidikan di berbagai universitas Islam Bogor (Ibnu Kholdun), UMJ dan UIN Ciputat. Saat ini tiga orang dari Walesi menempuh S2 konsentrasi di study Islam dan Otonomi Khusus UMJ Ciputat Jakarta. Dua orang lain lagi di UM Jogjakarta dan UIN di kota yang sama. Jumlah seluruhnya anak-anak Muallaf asal Suku Dani dari Papua kini tersebar di berbagai kota study di Pulau Jawa dan mayoritas di Ciputat berjumlah 21 orang. Sedang anak-anak Muallaf yang belajar di pondok pesantren sebanyak 45 orang yang sudah terdata. Jumlah ini tidak termasuk anak-anak yang dibawa koordinasi Ustadz Aliyuddin sejak tahun 1990-an awal berkisar 700 orang dari seluruh Papua. 
4.      Pengiriman anak-anak Suku dani Pondok Pesantren  
            Sejak tahun 1980 anak-anak muslimah dari kalangan Muallaf Dari Kabupaten Jayawijaya, sudah mengirim sebagai peserta MTQ (Musabaqoh Tilawatil Qur'an dan lomba Qosidah tingkat Nasional mewakili Propinsi Irianjaya (kini Papua). Mereka mempunyai bakat dan potensi yang sama dengan anak-anak prianya. Namun yang menjadi masalah adalah tradisi yang bahwa: Orang Tua Suku Dani tidak dapat membiarkan anak- anak perempuan mereka pergi jauh. Tampak dari kurangnya kesadaran Orang Tua Suku Dani di Wamena saat ini adalah dengan mengawinkan anak-anak usia sekolah yang masih belasan tahun.  
            Sampai dewasa ini dari 20 anak perempuan muslimah Suku Dani belajar di SMU Yapis Wamena. Dari Wamena Muslim, kaum perempuannya belum ada yang belajar keluar sebagaimana umumnya anak laki-laki. Mereka kini banyak belajar agama di Pesantren Al- Istiqomah Walesi dan beberapa orang melanjutkan tingakat lanjutan (SMP/SMU) di YAPIS Wamena.

Kedatangan Missionaris Kristen pertama justru diantar oleh Muballiqh Islam dari Kerajaan Tidore pada tanggal 5 Pebruari 1855 disebuah Pulau Kecil Mansinam diperaiaran Manokwari. Dua Missionaris dari Jerman itu adalah C. W. Ottow dan G. J. Geissler.[6]

PERJUMPAAN ISLAM DAN KRISTEN DI PAPUA
Bidang politik (Kainama)[7]
                Sejarah Kaimana adalah sejarah perjumpaan.[8]  Sejarah bertemunya penduduk asli dan pendatang sehingga membentuk manusia Kaimana terkini. Letaknya yang di pesisir menyebabkan Kaimana relatif terbuka dan mudah untuk didatangi. Mental identitas yang terbangun adalah spirit kosmopolit yang terbuka dengan hal baru.
Migrasi atau perpindahan penduduk bukan hanya perpindahan fisik semata namun melibatkan perpindahan ide dan atribut sosial seperti agama. Identitas agama yang berbeda pun tidak membuat jarak. Agama keluarga menjadi bukti dari Kaimana sebagai perjumpaan. Tidak ada masalah dengan menganut Islam, Kristen, atau yang lain. Identitas keluarga atau kekerabatan tetap menjadi pemersatu.
Perkawinan antara pendatang dengan penduduk asli atau yang sudah lebih dahulu mendiami Kaimana sering kali terjadi. Kawin campur yang sudah sedari dahulu dilakukan tersebut membuat seakan-akan keaslian orang Kaimana terletak pada percampuran itu. Mathias Mairuma dan Burhanuddin Ombaier adalah contoh dari percampuran tersebut2.  Mathias Mairuma adalah campuran Cina-Papua sedangkan Burhanuddin Ombaier mempunyai darah Seram dan Gorom yang mengalir dalam tubuhnya. Akibatnya menjadi problematik ketika memaknai
Ketegangan di Kaimana mulai meningkat dalam satu dekade terakhir. Ketegangan-ketegangan tersebut bisa dipicu oleh politik Papua, masuknya elemen-elemen jihadis (Islam radikal) dari Maluku serta kelompok ekstrem Kristen, dan menguatnya intoleransi. Semakin menguatnya tuntutan Papua Merdeka pasca 1998, turut menyeret sentimen beragama dan etnisitas di Kaimana. Muncul stigma yang menguat bahwa nasionalisme papua diidentikkan dengan mereka yang ras melanisia dan beragama Kristen (Warta dalam Ramstedt dan Thufail (ed), 2011: 75). Orang-orang Papua yang keturunan pendatang yang sebagian besarnya beragama Islam lebih dipandang sebagai pro NKRI sehingga dianggap sebagai warga kelas dua. Akhirnya kemudian membentuk persepsi publik bahwa bila Papua merdeka maka orang Islam akan menderita dan diusir dari Papua. Cukup banyak penduduk Kaimana yang keturunan pendatang dan beragama Islam sehingga hal ini cukup menimbulkan kekhawatiran.. Diskursus publik mengenai tuntutan kemerdekaan Papua tidak lagi persoalan ketidakadilan semata namun terkotori oleh sentimen agama yang bukan pada tempatnya.
Sentimen ini semakin bertambah ketika mulai berdatangan kelompok-kelompok jihadis yang pernah berkonflik di Maluku. Masuknya kelompok-kelompok seperti Laskar Jihad ke Papua semakin menambah ketegangan antar umat agama di Kaimana. Muncul anggapan bahwa kedatangan para eksponen Laskar Jihad tersebut dalam rangka memerangi umat Kristen yang ada di Papua. Resistensi umat Kristen Papua terhadap orang Islam di Papua pun kemudian meningkat. Masuknya “Islam baru” di Kaimana seperti AFKN (Al Fatih Kaafah Nusantara) dengan kegiatannya yang gemar berdakwah di kalangan orang Papua non-muslim dirasakan oleh umat Kristen di Kaimana sebagai ancaman. Pada saat yang bersamaan, masuk juga kelompok Kristen baru yang berasal dari kalangan Kristen Neo Pantekosta yang sering menggelar acara testimoni  tentang kebenaran Kristus. Menurut orang muslim di Kaimana acara-acara seperti itu cukup meresahkan.
Politik Papua dan masuknya kelompok agama garis keras di Kaimana tak bisa dihindari semakin menguatkan intoleransi di dalam masyarakat. Penguatan intoleransi yang berujung pada ketegangan antar umat agama di Kaimana dicontohkan pada kasus ricuh pohon natal tahun 2007. Pendirian menara yang menyerupai pohon natal dengan puncaknya dihiasi bintang david memicu amarah dari umat muslim Kaimana. Terlebih selain letaknya ada di pusat kota, menara tersebut dicor dengan semen pada bagian bawahnya sehingga menjadi permanen. Menara tersebut didirikan oleh GPI dengan argumen sudah mengantongi izin dari bupati. Namun kemudian bupati menyatakan ketidaktahuannya jika menara tersebut dicor semen sehingga permanen. Ricuh ini hampir berujung dengan kekerasan bila tidak ada dialog antar umat yang dimediasi oleh pemda.

V Kesimpulan
Ketika agama Islam pertama kali masuk ke Papua, agama ini mengalami perkembangan yang sangat lamban sehingga meskipun Islam adalah agama yang pertama masuk ke Papua dan baru kemudian disusul oleh agama Kristen. Tetapi Kekristenan berkembangan lebih pesat dari agama Islam, sehingga Papua identik dan sering disebut sebagai milik agama Kriten. Penyebab utama perkembangan Islam yang begitu lambanpun belum dapat diketahui secara pasti, karena  belum adanya data-data yang kongkrit yang dapat menjelaskannya. Masuknya Islam ke Papua, tidak bisa dilepaskan dengan jalur dan hubungan daerah ini dengan daerah lain di Indonesia. Selain faktor pengaruh kekuasaan Kerajaan Majapahit, masuknya Islam ke kawasan ini adalah lewat Maluku, di mana pada masa itu terdapat kerajaan Islam berpengaruh di kawasan Indonesia Timur, yakni kerajaan Bacan. Sehingga tidaklah mengherankan bila kedatangan Missionaris Kristen pertama justru diantar oleh Muballiqh Islam dari Kerajaan Tidore. Karena Perkembangan Islam yang begitu lamban di Papua, maka Islam pada masa kini melalui pemerintah mengadakan trnassmigrasi ke daerah-daerah yang sebenarnya penduduk muslimnya masih minoritas sehingga mempengaruhi pertumbuhan agama Islam di daerah yang dituju terutama Papua.






[1] http://kissanak.wordpress.com/2011/06/17/islam-di-papua-sejarah-yang-terlupakan/
[2] https://www.facebook.com/notes/suara-muslim-papua/sejarah-masuk-dan-berkembangnya-islam-di-wamena-jayawi-jaya-papua/260769270610286?ref=nf
[3] Ibid
[4] http://kissanak.wordpress.com/2011/06/17/islam-di-papua-sejarah-yang-terlupakan/
[5] https://www.facebook.com/notes/suara-muslim-papua/sejarah-masuk-dan-berkembangnya-islam-di-wamena-jayawi-jaya-papua/260769270610286?ref=nf
[6] https://www.facebook.com/notes/suara-muslim-papua/sejarah-masuk-dan-berkembangnya-islam-di-wamena-jayawi-jaya-papua/260769270610286?ref=nf
[7] http://www.politik.lipi.go.id/index.php/in/kolom/kolom-papua/619-memahami-kaimana-memahami-kemajemukan, memahami kainama memahami kemajemukan, Yogi Setya Permana, 17 April 2013, pukul 17.00 WIB
[8] Kaimana adalah salah satu kabupaten hasil pemekaran yang awalnya masuk dalam wilayah Kabupaten Fak-fak  di Propinsi Papua Barat



Minggu, 17 Januari 2016

Efesus 4: 17-32


Efesus 4: 17-32

Kita sering berkata saya mengenal Tuhan, dan Tuhan sangat mengasihi saya. Pertanyaannya apakah Tuhan juga mengenal kita..? apakah Tuhan benar-benar mengenal saudara dan saya..? jangan-jangan Tuhan tidak mengenal kita. Kita bisa berkata saya mengenal Tuhan tapi apakah Tuan mengenal kita. Matius 7 : 21-22, “Tuhan, Tuhan bukankah kami bernubuat demi nama-Mu dan mengusir setan demi nama-Mu dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu”, perhatikan saudara ini adalah orang-orang yang sudah melayani. Tetapi apa jawab Tuhan “Aku tidak mengenal kamu, enyahlah dari pada-Ku , kamu sekalian pembuat kejahatan. Inilah pentingnya memiliki karakter yag berubah supaya jangan Tuhan sendiri yang pada akhirnya menolak kita.

Tema utama surat Paulus kepada jemaat di Efesus ini adalah Kristus dengan Gereja .
Ayat 17
            Disini Paulus menasihatkan Jemaat di Efesus supaya mereka tidak lagi hidup seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia. Paulus berkata “sebab itu kukatakan dan kutegaskan”, kata “kukatakan dan kutegaskan” yang diucapkan oleh Paulus ini mengandung tiga unsur, yaitu : Paulus memprotes, menasihati, sekaligus menghimbau jemaat di Efesus supaya mereka jangan hidup seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia. Nah, bagaimana hidup jemaat di Efesus pada saat itu, sehingga Paulus berkata jangan hidup seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah? Kalau kita perhatikan di ayat 31 “segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian, dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan”. Ternyata segala hal inilah yang dilakukan jemaat di Efesus pada waktu itu, mereka hidup dalam kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian (perpecahan), fitnah dan masih banyak lagi dosa yang mereka lakukan, karena itu Paulus dengan tegas mengatakan “jangan hidup lagi sama seperti orang orang yang tidak mengenal Allah dengan pikiran yang sia-sia”.
Kata “sia-sia” menggunakan kata evn mataio,thti (en mataioteti) kata en adalah kata depan artinya “dalam, di dalam”. Sedangkan mataio,thti (mataioteti) kata benda dative feminim tunggal dari kata  mataio,thj (mataiotes) artinya ”kekosongan, kehampaan”. Maka kata evn mataio,thti (en mataioteti) artinya “dalam kekosongan”, selain itu terdapat sebuah kata sebelum kata evn mataio,thti  (en mataioteti) yaitu kata peripatei/ (peripatei) merupakan kata kerja indicative (penunjuk) present aktif orang ketiga tunggal dari akar kata peripate,w (peripateo) artinya “jalan”. Tetapi karena kata peripatei/ (peripatei) adalah kata kerja present aktif orang ketiga tunggal (dia) maka artinya adalah “dia terus berjalan”. Maka peripatei/  evn mataio,thti (peripatei en mataioteti) memiliki arti “dia terus berjalan dalam kekosongan”.
 Jadi orang yang hidupnya sia-sia yakni orang-orang yang tidak mengenal Allah adalah orang-orang yang terus berjalan di dalam pikiran-pikirannya yang kosong yakni dalam pikirannya selalu memikirkan dosa . Disini Paulus memprotes cara hidup jemaat di Efesus, yang hidup dalam dosa.
Bagaimana dengan kita yang hidup sekarang apa masih ada dari kita yang hidup seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah, apakah kita masih hidup dengan menyimpan kemarahan, kebencian, bahkan bertengkar dengan sesama anggota tubuh Kristus, maka kita adalah orang-orang yang masih hidup sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah. Kalau kita masih hidup dengan cara hidup orang-orang yang tidak mengenal Allah yakni dalam kebencian diantara kita, maka kita hidup dengan pikiran yang sia-sia dan akan melakukan hal-hal yang sia-sia yang tidak memiliki manfaatnya sedikitpun bagi diri kita sendiri apa lagi bagi orang lain. Pada akhirnya apapun yang kita lakukan untuk pekerjaan Tuhan akan sia-sia karena hidup kita yang tidak mencerminkan Kristus yang ada di dalam kita.
Ayat 18
Di ayat ke 18 di katakan ”dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah”. Berarti orang-orang yang terus berjalan dalam pikiran yang kosong adalah orang-orang yang tidak memiliki pengertian, yaitu pengertian tentang Allah (II Kor 4:4)orang-orang yang tidak berpengertian adalah orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini. Apa itu ilah zaman? ilah zaman adalah apapun dari dunia yang kita pentingkan lebih dari pada Tuhan, yang membuat kita jauh dari hidup persekutuan dengan Allah.
Kata “persekutuan” di dalam teks aslinya memakai kata zwh/j (zoes) kata benda genitive feminine tunggal dari kata zwh,  (zoe) artinya ”hidup”. Kata zwh/j (zoes) memiliki arti “hidup” dimana hidup yang dimaksud oleh Paulus adalah “hidup baru”, “hidup baru” bukan hanya berbicara ketika seseorang menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya, tetapi juga mengandung arti bahwa ia tidak lagi hidup menurut cara hidupnya yang lama tetapi hidup sebagai manusia yang baru.  
Jadi, yang menyebabkan mereka yaitu jemaat di Efesus ini hidup seperti orang yang tidak mengenal Allah yang pertama karena mereka tidak hidup dalam persekutuan dengan Allah yaitu hidup sebagai manusia yang baru”. Ini berarti persekutuan dengan Allah itu harus menjadi gaya hidup bagi orang percaya inilah yang disebut dengan hidup sebagai manusia baru. Kenapa mereka tidak hidup  sebagai manusia yang baru? Alkitab dengan jelas menegaskan bahwa karena kebodohan dan kedegilan hati merekalah yang menjadikan mereka hidup seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah.
Saudara sudahkah kita menjadikan persekutuan pribadi kita dengan Allah sebagai gaya hidup kita. Jangan-jangan selama ini kita melakukan pelayanan ke banyak tempat tetapi persekutuan pribadi kita dengan Tuhan itu tidak ada, kalau dengan demikian apa bedanya kita dengan orang-orang yang tidak mengenal Allah. Mereka juga  memberitakan apa yang mereka percayai. Atau jangan-jangan selama ini kita sibuk dengan banyaknya keinginan-keinginan yang ingin kita capai dalam dunia, kita sibuk dengan hal-hal yang ditawarkan dunia, atau mungkin kita sibuk dengan sakit hati kita dengan sesama, kita sibuk dengan perasaan kita sendiri, sehingga kita tidak lagi memiliki persekutuan dengan Allah. Saudara memiliki persekutuan pribadi dengan Allah ini sangat penting itulah sebabnya persekutuan dengan Allah itu harus menjadi gaya hidup orang yang percaya. Jangan karena kebodohan dan kedegilan hati kita kita memilih hidup seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah. Hidup sebagai orang-orang yang mengenal Allah atau hidup sebagai orang-orang yang tidak mengenal Allah adalah sebuah pilihan. Jadi kitalah memilih mengikut Tuhan atau mengikuti dunia. Jika kita memilih untuk tetap mengikuti dunia dengan cara hidupnya, maka kita adalah orang-orang yang degil yang walaupun telah ditegur oleh firman Tuhan berulangkali tetap tidak mau mendengarkan.

 Karena itu diayat selanjutnya dikatakan

Ayat 19 “perasaan mereka telah tumpul”
Kata ”tumpul” dalam teks aslinya memakai kata avphlghko,tej (apelgekotes) merupakan kata kerja particip perfek aktif nominatif maskulin jamak dari kata avpalge,w (apalgeo) artinya ”perasaan mati”, karena kata avphlghko,tej (apelgekotes) adalah perfek (telah) aktif maskulin jamak maka artinya ”perasaan-perasaan telah mati”
Jadi oleh karena kebodohan dan kedegilan hati merekalah perasaan-perasaan mereka mati sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu. Kata ”menyerahkan” disini mengandung arti adanya unsur kesengajaan oleh jemaat di Efesus ini untuk menceburkan diri kedalam dosa, jadi walaupun mereka sudah mengetahui kebenaran dan bahwa segala dosa apapun itu tidak dapat dibenarkan, tetapi mereka dengan sengaja melakukan dosa, ”dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran”, jadi mereka bukan hanya dengan sengaja menceburkan diri dalam dosa tetapi mereka bahkan mengerjakan dengan serakah, ini berarti bahwa mereka menikmati setiap kali mereka melakukan dosa.
Jadi saudara jangan kita menjadi orang yang degil yang tidak mau mendengar teguran dan yang oleh karena kebodohan kita sendiri pada akhirnya perasaan-perasaan kita manjadi mati. Apa yang dimaksud dengan ”perasaan-perasaan yang mati” yaitu ketika kita melakukan dosa, ketika kita pertama kali melakukan dosa kita akan akan merasa tidak tenang atau gelisah tetapi ketika kita semakin sering melakukan dosa tersebut perasaan gelisah itu akan semakin berkurang bahkan bisa jadi kita akan menganggap biasa untuk melakukan dosa, karena kita sudah biasa melakukannya. Itulah yang dimaksudkan Paulus dengan perasaan-perasaan yang telah mati yaitu karena kita sudah biasa melakukan dosa sehingga sewaktu di tegur kita akan merasa biasa-biasa saja, kita akan merasa tidak ada yang salah, karena kita sudah hidup di dalam dosa . Jadi karena sudah biasa melakukan dosa pada akhirnya secara sadar atau tidak sadar kita akan menyerahkan diri untuk selalu melakukan dosa. Dan walaupun kita mengetahui kebenaran tetapi karena kita sudah biasa melakukan dosa maka kebenaran itu tidak akan dipedulikan lagi.  Kita sering berkata tidak apa-apa kita melakukan dosa, nanti baru minta pengampunan, bukankah Allah itu maha pengasih, maha penyayang, yang mengampuni orang yang bersalah, Galatia 6:7 ”jangan sesat Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan, apa yang ditabur orang itu juga yang dituainya”. Jadi kalau kita menabur dosa maka kita akan menuai maut sebab upah dosa ialah maut.

Ayat 20-22.
Tetapi di ayat 20-21 Paulus kembali menasihatkan jemaat di Efesus bahwa mereka telah belajar mengenal Kristus, mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran didalam Dia, Paulus ingin menekankan bahwa mereka yang telah belajar mengenal Kristus seharusnya sudah tertanam di dalam pengajaran akan Yesus Kristus yaitu bahwa mereka harus meninggalkan hidup mereka yang lama, yang penuh dengan hawa nafsu yang menyesatkan.
Kata ”nafsu” memakai kata  evpiqumi,aj (epithumias) kata benda akusatif (objek) feminim jamak dari akar kata evpiqumi,av (epithumia) artinya ”hasrat atau keinginan”. Tetapi karena kata evpiqumi,aj (epithumias) adalah kata benda jamak maka artinya adalah ”keinginan-keinginan”.
Ini berarti bahwa mereka hidup sama seperti orang yang tidak mengenal Allah adalah keinginan atau pilihan dari jemaat di Efesus, mereka memilih untuk hidup sama dengan orang-orang yang tidak mengenal Tuhan yaitu didalam dosa, mereka memiliki hasrat untuk melakukan dosa. karena itu Paulus dalam ayat-ayat sebelumnya menasihatkan jemaat ini agar mereka tidak hidup sama seperti dengan orang-orang yang tidak mengenal Allah, yaitu hidup di dalam dosa dengan mengucapkan kata-kata kotor seperti yang dikatakan dalam ayat 29 atau hidup dalam kepahitan, kegeraman, kemarahan seperti yang kita baca dalam ayat 31.
Demikian juga dengan kita yang sudah belajar mengenal Kristus dan menerima pengajaran tentang Dia, pertanyaannya sudahkah kita tertanam dalam pengajaran tentang Kristus? Sudahkah kita meninggalkan cara hidup kita yang lama yang penuh dengan keinginan-keinginan untuk melakukan dosa atau kita malah memilih untuk melakukan dosa dan hidup seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah. Saudara, banyak dari kita yang sebenarnya sampai sekarang memilih untuk hidup didalam  dosa. Kita memilih untuk  tetap mengeluarkan kata-kata kotor, kita memilih untuk tetap hidup dalam kepahitan, bahkan kita memilih untuk tidak menanggalkan manusia lama kita. Karena itu sebagai orang-orang yang sudah tertanam dalam pengajaran tentang Kristus marilah kita meninggalkan kehidupan lama kita dan mengenakan manusia baru.

Ayat  23-25.
Dalam ayat ini Paulus dengan tegas menyatakan alasannya mengapa ia menasihati jemaat di Efesus ini adalah ”supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu”.
Kata ”dibaharui” menggunakan kata avnaneou/sqai (ananeousthai) kata kerja  infinitive present pasif dari akar kata avnaneo,omai (ananeoomai) artinya ”memperbaharui”, tetapi karena kata avnaneou/sqai (ananeousthai) adalah kata kerja present pasif maka artinya ”terus-menerus diperbaharui”.
”di dalam roh” menggunakan kata  pneu,mati (pneumati) kata benda dative neuter tunggal yang memiliki arti ”jiwa”. Jadi jiwa harus diperbaharui terus-menerus.
Inilah penyebab yang kedua Mengapa jemaat di Efesus ini tidak hidup seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah yaitu bahwa jiwa mereka tidak diperbaharui, jadi agar jemaat di Efesus ini tidak lagi hidup sama seperti dengan orang-orang yang tidak mengenal Allah maka Paulus dengan tegas mengatakan jiwa mereka yakni pikiran mereka harus terus-menerus diperbaharui, ini berarti bahwa jemaat di efesus ini selalu memikirkan tentang dosa dan mengerjakannya. Karena itu jiwa mereka harus diperbaharui. yaitu supaya mereka mengenakan manusia baru, berbicara mengenai manusia baru berarti berbicara mengenai karakter, tindakan, dan pikiran Kristus. Jadi manusia yang baru yaitu manusia yang hidupnya mencerminkan bahwa ia mengenal Allah berarti manusia yang memiliki karakter Kristus, tindakan Kristus, dan pikiran Kristus. Karena itu Paulus berkata ”buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain” karena didalam Kristus tidak ada dusta. Iblislah yang menjadi bapa segala pendusta.
Nasihat Paulus ini juga berlaku bagi kita semua orang-orang percaya pada zaman ini. Agar jiwa kita senantiasa diperbaharui kita hurus hidup dalam persekutuan dengan Allah. Tanpa persekutuan dengan Allah jiwa kita tidak akan pernah diperbaharui, yang terutama yaitu pikiran kita, karena dalam tempat pertama yang diserang iblis adalah pikiran kita, ia meneror kita dengan berbagai-bagai hala yang ditawarkan oleh dunia, ia meneror kita dengan sakit hati, kebencian, jika sudah demikian maka kita pasti akan mengeluarkan kata-kata kotor, karena itulah jiwa kita harus senantiasa diperbaharui, supaya karakter, tindakan, dan pikiran Kristus yaitu manusia baru.

Ayat 26-28.
”Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa”, jadi bukan berarti tidak boleh marah, tetapi jangan sampai kita marah dan berbuat dosa. Selanjutnya dikatakan ”jangan matahari terbenam sebelum padam amarahmu” kenapa Paulus berkata demikian? Inilah yang menjadi akar permasalahan dari jemaat di Efesus, kenapa mereka tidak hidup seperti orang-orang yang mengenal Allah yaitu ketika mereka atau salah seorang dari mereka marah, maka kemarahannya itu akan berlarut-larut, ia akan terus menyimpan kemarahannya itu, sehingga lambat laun dalam kemarahannya ia menjadi geram, ketika ia marah sampai geram, maka akan timbullah kepahitan, ketika kepahitan  itu ada maka pastilah akan terjadi pertikaian bahkan akan ada fitnah. Seperti yang dijelaskan dalam ayat 31. karena itulah Paulus menasihatkan jemaat di Efesus ini agar mereka jangan marah sampai matahari terbenam. Karena yang dengan demikian akan memberi kesempatan pada iblis, untuk membawa mereka kembali kepada kehidupan yang lama seperti yang dikatakan dalam ayat 28 ”orang yang mencuri janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri” disini Paulus memberikan suatu peringatan bagi jemaat di Efesus agar mereka tidak lagi kembali pada kehidupannya yang lama, tetapi melakukan segala pekerjaan baik dengan tangannya sendiri supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang lain. Jadi penyebab ketiga mengapa jemaat di Efesus ini hidup sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah yaitu bahwa mereka memberikan kesempatan kepada iblis untuk kembali membawa mereka kepada hidup yang lama.
            Jadi saudara bukan berarti kita tidak boleh marah, Tuhan Yesus sendiri sewaktu masuk Yerusalem dan melihat banyak orang yang berjualan di halaman bait Allah. Tetapi janganlah kita marah sampai pada akhirnya kita melakukan dosa yaitu dengan menyimpan kemarahan kita sampai berlarut-larut yang lama kelamaan akan berubah menjadi kebencian, sehingga kita bertengkar antara satu dengan yang lain, bahkan akan saling memfitnah antara sesama tubuh Kristus. Jadi ada tiga hal yang membuat seseorang hidup sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah. Ketiga hal ini yakni  yang pertama tidak hidup dalam persekutuan dengan Allah. Yang kedua yaitu bahwa jiwa mereka tidak diperbaharui, dan yang ketiga yaitu bahwa mereka memberikan kesempatan kepada iblis untuk kembali membawa mereka kepada hidup yang lama. Ketiga hal inilah yang menyebabkan jemaat di Efesus ini hidup sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah

Ayat 29
”jangan ada perkataan kotor keluar dari mulutmu”, ternyata jemaat di Efesus ini yang diliputi oleh kemarahan, kegeraman, kepahitan, dan pertikaian mereka ternyata saling mengata-ngatai satu dengan yang lainnya  dengan perkataan-perkataan yang kotor, tetapi disini Paulus menasihatkan mereka yakni jemaat di Efesus supaya mereka memakai perkataan yang baik untuk saling membangun. Supaya orang yang mendengarkannya beroleh kasih karunia
            demikian pula halnya dengan kita jangan lagi kita hidup sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah, yang mengeluarkan kata-kata kotor, tetapi marilah kita belajar untuk mengendalikan diri kita terutama lidah, karena lidah walaupun hanya suatu anggota yang kecil namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar, lidah itu sendiri juga seperti api yang dapat membakar hutan yang besar, jadi merilah kita menjaga dan belajar mengendalikan lidah kita agar kita dapat memakai kata-kata yang baik untuk saling membangun, dan supaya tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain, tetapi orang lain boleh di berkati oleh perkataan-perkataan kita.



Ayat 30
Pada ayat 30 ini Paulus mengemukakan alasannya yang kedua kenapa ia menasihati jemaat di Efesus supaya mereka tidak hidup seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah yaitu supaya mereka tidak mendukakan Roh Kudus
Kata ”mendukakan” memakai kata lupei/te (lupeite) kata kerja imperatif (bentuk perintah) present aktif orang kedua jamak dari kata  lupe,w (lupeo) artinya ”berdukacita”. Tetapi karena kata lupei/te (lupeite) adalah kata kerja present aktif (sesuatu yang dilakukan berulang-ulang) orang kedua jamak (kamu sekalian), maka artinya adalah “kamu sekalian terus- menerus mendukakan”.
Dengan kata lain Paulus ingin mengatakan segala dosa yang telah mereka lakukan itu yakni kemarahan, kegeraman, kepahitan, pertikaian, fitnah kata-kata kotor bahkan segala dosa mereka yang lain sangat mendukakan Roh Kudus yang telah memetraikan mereka, kenapa Roh Kudus berduka? Karena mereka yakni jemaat di Efesus ini yang saling menyerang, mereka saling membenci, saling memfitnah, bahkan bertikai, pada hal mereka adalah satu tubuh Kristus, itulah kenapa Paulus menasihatkan mereka, agar tidak mendukakan Roh Kudus yang telah memetraikan mereka. Ini membuktikan bahwa Roh Kudus adalah oknum yang dapat mengalami duka atau kesedihan yang mendalam.
Kata “memetraikan” memakai kata evsfragi,sqhte (esphragisthete) kata kerja indicative (waktu sekarang) perfek aorist (waktu lampau yang tetap masih berlaku) pasif orang kedua jamak dari kata  sfragi,zw (sphragiso) artinya “segel”. Tetapi karena kata evsfragi,sqhte (esphragisthete) adalah kata kerja perfek (telah) pasif orang kedua jamak (kamu sekalian), maka artinya adalah “kamu sekalian telah disegel”
Yang dimaksudkan “kamu sekalian telah disegel” disini adalah ketika mereka jemaat ini menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi, mereka telah disegel oleh Roh kudus menjelang hari penyelamatan, jadi aorits yang dimaksudkan disini bukan ketika Paulus menulis surat kepada jemaat di Efesus tetapi ketika mereka yakni jemaat di Efesus menerima Yesus Sebagai Tuhan dan Juruslamatlah mereka dimetraikan atau disegel untuk diselamatkan, karena itu mereka harus membuang segala kejahatan seperti yang tertulis dalam ayat 31.
Karena itu saudara marilah kita berhenti hidup seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah, yaitu kita berhenti untuk saling membenci, berhenti saling memfitnah, berhenti untuk saling bertikai, dan berhenti untuk saling mengeluarkan kata-kata kotor karena kita adalah satu anggota tubuh Kristus yang  karenanya jika kita saling membenci satu dengan yang lainnya, mak itu akan mendukakan Roh Kudus yang telah memetraikan kita menjelang hari penyelamatan yakni pada kedatangan Tuhan Yesus untuk kedua kalinya.

Ayat 32
Dalam ayat 32 ini Paulus memberikan solusi atau jalan keluar bagi permasalahan yang dihadapi oleh jemaat di Efesus  yaitu mereka harus membuang segala dosa yang mereka lakukan, membuang dalam arti kata mereka harus meninggalkan perbuatan-perbuatan seperti itu dan berpaling kepada Allah, mereka harus ramah seorang kepada yang yang lain, penuh kasih mesra, saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni mereka. Demikianlah Paulus menasihatkan mereka untuk saling mengampuni sebagaimana Allah telah lebih dahulu mengampuni mereka oleh pengorbanan Yesus, supaya mereka hidup ramah seorang kepada yang lain dengan penuh kaish.
            Disini Paulus memberikan solusi bukan saja kepada jemaat di Efesus pada waktu itu tetapi juga kepada kita semua, bagaimana supaya kita tidak lagi saling membenci dan mengeluarkan kata-kata kotor yaitu supaya kita saling mengampuni, ramah satu dengan yang lain, dan hidup dalam kasih kepada Allah dan sesama.
Penutup
Jadi ada tiga langkah agar kita tidak hidup seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah atau memiliki karakter yang berubah yaitu pertama kita harus hidup dalam persekutuan dengan Allah. Yang kedua yaitu bahwa jiwa kita harus diperbaharui, dan yang ketiga yaitu bahwa jangan kesempatan kepada iblis untuk kembali membawa kita kembali kepada hidup yang lama. Supaya kita tertanam di dalam pengajaran akan Yesus Kristus, dan tidak mendukakan Roh Kudus yang telah memetraikan kita. Dan yang keempat supaya kita saling mengampuni.
Demikianlah Firman Tuhan.